20. Tawakal kepada Allah: Usaha Maksimal, Hati yang Pasrah
Maqulah :
التَّوَكُّلُ اعْتِمَادُ الْقَلْبِ عَلَى اللهِ مَعَ الْأَخْذِ بِالْأَسْبَابِ. قَالَ ﷺ: "لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ
Tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah sambil tetap berusaha. Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki."
Penjabaran Lengkap
Tawakal sering disalahpahami sebagai kepasrahan pasif atau kemalasan. Islam datang untuk meluruskan konsep ini. Tawakal yang benar memiliki dua sayap yang harus bekerja bersamaan: sayap pertama adalah ikhtiar (usaha) maksimal dengan seluruh kemampuan fisik dan akal yang kita miliki. Sayap kedua adalah tawakal (berserah diri) total dengan hati yang sepenuhnya bergantung dan percaya pada hasil akhir yang akan Allah tetapkan. Contoh burung dalam hadits sangatlah sempurna: burung itu tidak duduk diam di sarangnya menunggu makanan jatuh dari langit. Ia aktif terbang di pagi hari (taghdu) dengan perut kosong untuk berusaha. Setelah usaha maksimal itulah ia menyerahkan hasilnya kepada Allah, dan ia pun pulang di sore hari (taruhu) dengan perut kenyang. Tawakal adalah aktivitas hati yang dilakukan setelah anggota badan melakukan tugasnya. Ia adalah seni membebaskan diri dari kecemasan akan hasil, karena kita tahu hasilnya ada di tangan Yang Maha Bijaksana.
Ilustrasi: Petani dan Tanamannya
Seorang petani yang bertawakal akan melakukan semua yang ada dalam jangkauan kekuasaannya. Ia akan mencangkul tanahnya hingga gembur, memilih bibit yang paling unggul, menanamnya di waktu yang tepat, dan menyiraminya dengan rajin. Semua ini adalah bagian dari ikhtiarnya.
Namun, sang petani sadar betul bahwa ia sama sekali tidak memiliki kuasa atas turunnya hujan, terbitnya matahari, kekuatan angin, atau datangnya hama. Untuk semua faktor di luar kendalinya ini, ia mengangkat tangannya ke langit.
Setelah bekerja keras seharian, ia bisa tidur dengan nyenyak di malam hari, bukan karena ia yakin panennya pasti berhasil, tetapi karena ia yakin bahwa ia telah melakukan bagiannya dan kini ia menyerahkan sisanya kepada Allah, Sang Pengatur Alam Semesta. Ia bekerja dengan tangannya, dan berserah diri dengan hatinya.
Kesimpulan Praktis
Ketika Anda menghadapi sebuah tantangan atau menginginkan sesuatu, bagilah tugas Anda menjadi dua. Bagian pertama: "Apa saja yang bisa saya kontrol dan usahakan?" Kerjakan bagian ini dengan segenap tenaga. Bagian kedua: "Apa saja yang ada di luar kontrol saya?" Serahkan bagian ini sepenuhnya kepada Allah melalui doa, dan tenangkan hati Anda.
Maqulah 20