Guru bukan sekadar penyampai data, melainkan sosok yang membersihkan jiwa (tazkiyah) dan mengajarkan kebijaksanaan (hikmah). Tanpa ini, pendidikan hanyalah raga tanpa nyawa.
Allah mengabarkan dalam Al- Qur an kepada kita mengenai tugas dan fungsi Rasul-Nya sebagai pendidik utama bagi umat Islam.
"هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." QS. Al-Jumu'ah: 2
-
Kualitas Keteladanan di Atas Fasilitas
Pendidikan sejati terjadi melalui pancaran perilaku (uswah). Murid lebih melihat "siapa" gurunya daripada "di mana" mereka belajar.
Allah telah mengutus seorang Mahaguru bagi umat manusia, yang menjadi panutan guru di segala zaman , sebagaimana Firman-Nya
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
QS. Al-Ahzab: 21
-
Bahaya Inkonsistensi (Perkataan vs Perbuatan)
Anda menyebutkan bahwa inkonsistensi adalah racun. Al-Qur'an memberikan peringatan keras bagi pengajar yang hanya pandai bicara tanpa mengamalkan ilmunya. Dalam menegaskan hal itu dalam firman-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." QS. Ash-Shaff: 2-3
-
Hakikat Pendidikan: Penanaman Karakter
Tujuan utama guru bukan sekadar transfer of knowledge, melainkan menyempurnakan akhlak (karakter). Inilah misi utama pendidikan dalam Islam. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW :
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanyalah untuk menyempurnakan kesalehan akhlak." Hadis Riwayat Ahmad
-
Tanggung Jawab Moral: Menjadi Pembuka Pintu Kebaikan
Guru yang bervisi akan menjadi kunci pembuka kebaikan bagi muridnya. Jika gurunya rusak, maka ia menjadi pembuka pintu keburukan bagi peradaban.
Rasuluuah SAW bersabda :
إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ
"Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan, dan ada pula yang menjadi kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah bagi orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan melalui tangannya." Hadis Riwayat Ibnu Majah
Intisari
Sebagaimana ungkapan masyhur dalam dunia pesantren:
الطَّرِْيقَةُ أَهَمُّ مِنَ الْمَادَّةِ، وَالْمُدَرِّسُ أَهَمُّ مِنَ الطَّرِيْقَةِ، وَرُوْحُ الْمُدَرِّسِ أَهَمُّ مِنَ الْمُدَرِّسِ نَفْسِهِ
"At-thariqatu ahammu minal maddah, wal mudarrisu ahammu minat thariqah, wa ruhul mudarrisi ahammu minal mudarrisi nafsihi." (Metode lebih penting dari materi, guru lebih penting dari metode, dan jiwa (ruh) seorang guru jauh lebih penting dari guru itu sendiri).
Oleh : Faisal Hasan Sufi Al-Qadrie