Bingkisan syair untutk istriku

Syair ini kupersembahkan untuk pendamping hidupku, Khadijah Muhammad, sebagai manifestasi cinta di bawah langit sakinah. Istriku adalah aksara terindah yang pernah dituliskan takdir Ilahi pada lembar hidupku. Dalam mahligai yang kami bina, dia bukan sekadar pendamping, melainkan wujud mawaddah cinta yang tulus warahmah, rahmat Allah yang turun menenangkan jiwa kami. Dirinya ibarat;

 

  Rumah Tak perlu Dinding, Penawar Tak perlu Obat

Dunia di luar sana sering kali riuh, keras, dan melelahkan. Namun, setiap kali langkahku pulang, namanya menjadi alamat bagi seluruh ketenangan. Dialah sakinah (teduh) yang tak pernah kutemukan di tempat lain. Saat lelah menembus tulang setelah seharian berjuang, cukup satu lengkung senyumnya, seolah seluruh beban runtuh dari pundakku. Senyumnya adalah penawar tanpa obat, yang menyembuhkan luka yang bahkan tak sempat kuucapkan. Tawanya menjadi melodi lembut yang mengusir sepi dari sudut-sudut hatiku yang paling sunyi.

 

  Cinta Tanpa Syarat di Tengah Badai

Aku mencintainya melampaui hitungan harta dan ukuran dunia. Zaman boleh berubah, musim boleh berganti dari kemarau panjang menjadi badai yang menguji, namun janjiku tetap sama: mencintainya apa adanya. Jika suatu hari tangan kami kosong dari kilau emas, hatiku tetap penuh bahagia oleh kehadirannya. Karena bagiku, duduk di sampingnya dalam kesederhanaan lebih mewah daripada istana tanpa cinta. Dalam kekurangan harta, kami kaya akan keberkahan; dalam hidup yang sederhana, kami berlimpah rasa syukur.

 

  Ibadah yang Tak Putus

Pernikahan ini bukan sekadar ikatan, melainkan sujud panjangku kepada Sang Pencipta. Setiap peluh yang jatuh demi dirinya dan keluarga, setiap doa yang kupanjatkan untuknya, adalah ibadah yang tak pernah putus. Aku berdiri sebagai suaminya, rela bekerja tanpa jeda bukan semata mengejar dunia, tetapi demi melihat cahaya bahagia di matanya. Sebab kebahagiaannya adalah amanah yang kelak akan kutanggung jawabkan di hadapan Allah. Kami adalah dua kehidupan yang dipertemukan takdir untuk saling menghidupi. Aku adalah bumi yang mendekapnya, dan dia adalah tanaman yang membuatku kembali hidup. Dia memberi warna pada langkahku yang pernah gersang, dan aku akan terus menjadi tanah yang setia, agar cintanya tumbuh, berakar, dan mekar sepanjang waktu. Tanpanya, aku hanyalah tanah kering tanpa kehidupan. Tanpaku, mungkin dia kehilangan tempat berpijak. Bersama, kami saling melengkapi dalam diam, dalam doa, dan dalam cinta yang sederhana. Terima kasih telah menjadi serpihan surga di dunia fana ini, dan teman seperjalanan menuju Jannah Allah yang abadi. Jika kelak langkahku terhenti lebih dulu, biarlah cinta ini tetap hidup dalam setiap doa yang kita panjatkan, hingga kita dipertemukan kembali di keabadian yang dijanjikan-Nya.

--Zaujati Nuru Aini--

 Istriku, bagiku engkau adalah segalanya, inspirasiku saat lelah, kedamaianku saat dunia terasa berat, dan rumah bagi seluruh sisa usiaku. Seorang istri yang shalihah adalah harta yang paling berharga di dunia, dan saya telah memenangkan harta itu sejak 1984. Ketegarannya adalah bukti bahwa surga memang layak menjadi tempat kembalinya kelak.