Islam bukan sekadar agama ritual di dalam masjid, melainkan warna yang menghiasi setiap tarikan napas seorang Muslim. Dalam perjalanan (safar), Islam memberikan panduan agar gerak kita tidak sekadar berpindah tempat, tapi juga berpindah derajat di sisi Allah.

I. Persiapan Spiritual: Meluruskan Niat, Membereskan Hak Safar sering kali dianggap sebagai ajang "pelarian" dari rutinitas. Namun secara hakiki, safar adalah potongan dari ujian. Sebelum melangkah, seorang Muslim harus memastikan "bagasi" ruhaninya bersih. Menyelesaikan Urusan Dunia: Mengembalikan hak orang yang dizalimi dan melunasi hutang. Wasiat: Karena maut tidak mengenal reservasi tiket, menulis wasiat adalah bentuk kehati-hatian. Bekal Halal: Memastikan dana perjalanan bukan dari hasil yang syubhat, apalagi haram. Pesan Moral: Jangan sampai kita asyik berwisata di bumi Allah, namun membawa beban dosa terhadap hamba-hamba-Nya.

II. Memilih Sahabat Perjalanan: "Teman Sebelum Jalan" Para bijak mengatakan: "Al-Rafiq qabla al-Thariq" (Pilihlah teman sebelum memilih jalan). Teman yang saleh akan menjadi "GPS" saat kita tersesat secara moral di negeri orang. Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya berjamaah dan kepemimpinan dalam perjalanan untuk menghindari egoisme kelompok. Dalil Sunnah tentang Kepemimpinan Safar:

إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Artinya: "Jika ada tiga orang yang sedang dalam perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin (amir)." (HR. Abu Daud)

Tamsilan Bayangkan bepergian bertiga tanpa pemimpin: Satu orang ingin makan nasi padang, satu ingin sushi, dan yang satu lagi diet air putih. Tanpa Amir (pemimpin), perjalanan akan habis hanya untuk berdebat di depan pintu restoran. Namun, seorang pemimpin juga bukan "diktator"; ia wajib bermusyawarah agar hati anggota tetap tenang.

III. Adab Berpamitan dan Doa Keberangkatan Safar adalah momen perpisahan sementara yang mengingatkan kita pada perpisahan abadi. Islam mensyariatkan saling mendoakan antara yang pergi dan yang ditinggalkan. Doa untuk yang Berangkat:

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

Artinya: "Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan akhir dari amalmu kepada Allah." (HR. Tirmidzi)

Jawaban bagi yang Ditinggalkan:

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Artinya: "Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan bagimu di mana pun kamu berada." (HR. Tirmidzi)

IV. Zikir Melangkah dan Berkendara Seorang Muslim memulai perjalanannya dengan pengakuan akan kelemahan diri dan keagungan Allah. Saat Keluar Rumah:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Artinya: "Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Saat Menaiki Kendaraan (Pesawat/Mobil): Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ ، وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ

Artinya: "Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami." (QS. Az-Zukhruf: 13-14)  

Kesimpulan Perjalanan dalam Islam adalah sarana Tadabbur (merenung) dan Ibadah. Dengan mengikuti etika di atas, seorang musafir tidak hanya mendapatkan kesenangan fisik, tetapi juga ketenangan batin dan perlindungan Ilahi. Ingatlah, perjalanan sejauh apa pun selalu dimulai dengan satu langkah tawakal.

Oleh : Faisal Hasan Sufi Al- Qadrie