Pernahkah Anda membayangkan sebuah gunung yang kokoh, menjulang tinggi dengan batuan granit yang keras, tiba-tiba hancur berkeping-keping bukan karena dinamit, melainkan karena sebuah "kata-kata"? Itulah perumpamaan yang Allah berikan tentang Al-Qur'an.
1. Getaran Keimanan
Secara metaforis, Allah menggambarkan bahwa Al-Qur'an memiliki "bobot" spiritual yang luar biasa. Jika materi fisik seperti gunung memiliki titik hancur terhadap tekanan mekanik, maka jiwa manusia memiliki titik leleh terhadap kebenaran wahyu.
Allah SWT berfirman :
لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir." QS. Al-Hasyr: 21:
2. Penawar Hati yang Keras
Jika gunung yang berbatu saja bisa tunduk, lantas mengapa hati kita terkadang terasa lebih keras dari batu? Pelajaran ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan undangan untuk melembutkan hati. Al-Qur'an diturunkan sebagai Syifa (obat). Saat kita membacanya dengan tenang, ia mengalir seperti air sejuk yang membasahi tanah gersang.
Pesan Langit: Kesedihanmu mungkin setinggi gunung, namun kekuatan Al-Qur'an mampu meruntuhkan kegelisahan itu hingga tak bersisa.
3. Amalan Salafussalih: Menangis dalam Diam
Para pendahulu kita yang saleh (Salafussalih) tidak sekadar membaca, tapi "mengalami" Al-Qur'an.
- Ibnu Abbas R.A. berkata: "Allah menantang hati manusia dengan perumpamaan gunung ini. Jika gunung saja tunduk, maka manusia lebih pantas untuk khusyuk."
- Dikisahkan, Fudhail bin Iyadh bertaubat hanya karena mendengar satu ayat Al-Qur'an yang menyentuh lubuk hatinya, mengubahnya dari seorang perampok menjadi ahli ibadah.
4. Tamsilan Indah :
Bayangkan sebuah lembah yang sunyi di bawah kaki gunung Himalaya. Tiba-tiba terdengar suara langit yang merdu namun berwibawa. Gunung-gunung yang dianggap sebagai pasak bumi itu mulai bergetar, retakan-retakan muncul, dan batu-batu besar menggelinding jatuh—bukan karena gempa bumi, tapi karena getaran frekuensi keagungan firman-Nya. Begitulah seharusnya hati kita bergetar saat nama Allah disebut.
5. Anekdot : "Hati atau Granit?"
Seringkali kita merasa hati kita keras sekali. Kalau ada masalah, bukannya lari ke mushaf, malah lari ke media sosial buat curhat "galau maksimal".
Ingatlah, kalau hati kita sudah terasa lebih keras dari batu gunung, mungkin itu tandanya kita kurang "update software" iman. Gunung saja tidak berani sombong di depan Al-Qur'an, masa kita yang cuma terbuat dari segumpal daging berani bilang, "Ah, baca Qur'an nanti saja kalau sudah pensiun." Memangnya kita yakin umur kita lebih panjang dari umur gunung?
6. Pesan Penting dan Kesimpulan : Adab di Atas Ilmu
Pesan moral utamanya adalah Rasa Takut (Khasyyah). Gunung hancur karena ia sadar siapa yang berbicara (Allah). Maka, moralitas seorang Muslim harus dibangun di atas kesadaran bahwa setiap huruf Al-Qur'an adalah mandat ilahi yang menuntut tanggung jawab dan perubahan perilaku.
Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan membaca Al-Qur'an:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (pemberi syafaat) bagi pemiliknya (pembacanya)." (HR. Muslim)
Abu Sultan Al- Qadrie