Dalam syariat Islam, kesehatan manusia memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Hal ini terpancar jelas melalui kelonggaran (rukhshah) yang diberikan khusus kepada ibu hamil dan menyusui. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah mencatat bahwa Rasulullah SAW menganugerahkan izin berbuka bagi wanita hamil yang mengkhawatirkan dirinya dan ibu menyusui yang mengkhawatirkan bayinya.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh mereka secara medis? Mengapa izin ini menjadi sangat krusial?

1. Rahasia Prolaktin: Mengapa Ibu Menyusui Mendapat Keringanan?

Menyusui adalah proses biologis yang sangat bergantung pada stabilitas hormon. Sebuah penelitian penting di King Abdulaziz University (1987) oleh Dr. Hassan Nusrat dan Dr. Mansour Suleiman memberikan jawaban ilmiah yang konkret.

Penelitian tersebut mengamati kadar hormon pada wanita sehat berusia 22 hingga 25 tahun selama Ramadhan. Hasilnya menunjukkan:

  • Penurunan Prolaktin: Sebanyak 80% responden mengalami penurunan kadar hormon prolaktin dalam serum darah mereka. Prolaktin adalah "hormon kunci" yang bertanggung jawab memproduksi air susu ibu (ASI).
  • Stabilitas Progesteron: Di sisi lain, kadar progesteron (hormon kesuburan) cenderung tidak berubah.

Penurunan prolaktin ini secara langsung dapat memengaruhi produktivitas ASI. Itulah sebabnya, para peneliti menyarankan ibu menyusui untuk mengambil keringanan berbuka demi menjaga pemenuhan nutrisi bayi, sejalan dengan pesan kasih sayang yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

2. Ibu Hamil dan Perang Hormonal: Peran Adrenalin

Bagi ibu hamil, puasa bukan sekadar urusan nutrisi fisik, melainkan juga ujian kekuatan mental dan stabilitas hormonal. Di sini, sains menemukan bahwa kondisi psikologis ibu memegang kendali penuh atas manfaat puasa.

  • Keajaiban Kemauan (Willpower): Jika seorang ibu hamil memiliki kemauan yang kuat, rasa tenang, dan tidak dihantui rasa takut, tubuhnya akan beradaptasi dengan baik. Hormon-hormon kehamilan akan bekerja dalam harmoni, menjadikan puasa sebagai proses penyucian yang sehat.
  • Sabotase Adrenalin: Sebaliknya, bagi wanita yang ragu, cemas, atau penakut, tubuh akan melepas hormon adrenalin secara berlebihan. Adrenalin yang tinggi akibat stres dapat menyabotase manfaat metabolisme puasa, mengganggu aliran darah ke janin, dan menciptakan beban fisik yang berat bagi sang ibu.

3. Izin Allah Adalah Ketentraman

Islam tidak menghendaki kesulitan. Izin untuk berbuka bagi ibu hamil dan menyusui adalah bentuk "katup pengaman" biologis. Ketika faktor psikis melemahkan manfaat puasa atau ketika hormon produksi susu menurun, maka berbuka menjadi jalan yang lebih mulia dan menyehatkan.

Izin ini memberikan ketentraman jiwa. Seorang ibu tidak perlu merasa bersalah saat berbuka, karena tindakannya melindungi nyawa (janin/bayi) adalah bagian dari tujuan utama syariat (Maqashid al-Shari'ah).

 

Kesimpulan

Puasa bagi ibu hamil dan menyusui adalah sebuah pilihan yang harus didasarkan pada dua pilar: Sains (kondisi hormon dan fisik) dan Keyakinan (kesehatan mental). Jika fisik kuat dan jiwa tenang, puasa adalah keberkahan. Namun, jika hormon mulai tidak seimbang atau ketakutan melanda, maka mengambil izin dari Allah adalah bentuk ketaatan yang nyata.

Pesan Medis: Selalu konsultasikan kondisi kadar gula darah dan volume ASI Anda kepada dokter sebelum memutuskan untuk berpuasa.

Oleh : Faisal Hasan Sufi Al-Qadrie Dipante Geulima