Dunia saat itu didominasi oleh dua kekuatan hegemonik, Persia dan Romawi. Namun, kemegahan arsitektur dan kekuatan militer mereka tidak selaras dengan kesehatan jiwa masyarakatnya.
1. Hegemoni Persia dan Romawi
- Persia (Sassanid): Dominasi ajaran Zoroaster yang telah mengalami distorsi menciptakan stratifikasi sosial yang sangat diskriminatif. Agama seringkali dijadikan alat pembenaran bagi kemewahan ekstrem kaum bangsawan di atas penderitaan rakyat jelata.
- Romawi (Byzantium): Terjebak dalam konflik internal gereja dan politisasi teologi. Agama Kristen pada masa itu sering kali kehilangan esensi kasihnya karena disibukkan oleh penindasan terhadap aliran yang dianggap menyimpang (bidah) demi stabilitas kekuasaan.
Kondisi ini digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai bentuk kerusakan yang nyata akibat ulah manusia sendiri:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)
2. Jazirah Arab: "Tabula Rasa" dan Potensi Karakter
Berbeda dengan dua imperium tersebut yang telah "kelelahan" oleh birokrasi dan dogma yang rusak, masyarakat Arab berada dalam kondisi yang disebut para sejarawan sebagai Tabula Rasa (kertas kosong).
- Kemurnian Karakter: Meskipun mereka berada dalam masa Jahiliah (kebodohan terhadap wahyu), orang Arab memiliki modalitas moral yang kuat secara fitrah, seperti kesetiaan pada janji (al-wafa’), keberanian (al-syaja’ah), dan kemandirian.
- Fleksibilitas Ideologis: Karena tidak terikat pada sistem kenegaraan yang kaku dan rumit, jiwa mereka lebih reseptif (mudah menerima) terhadap perubahan radikal yang dibawa oleh Islam. Mereka tidak perlu "menghapus" sistem birokrasi yang berkarat, melainkan tinggal "mengisi" kekosongan sistem dengan wahyu.
Hal ini sejalan dengan misi utama Rasulullah SAW untuk menyempurnakan potensi karakter yang sudah ada tersebut:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad)
3. Paradoks Sejarah: Kekuatan Material vs. Kemurnian Jiwa
Munculnya Islam di Jazirah Arab membuktikan sebuah paradoks: bahwa perubahan peradaban yang langgeng tidak dimulai dari kecanggihan teknologi atau kekuatan militer, melainkan dari transformasi spiritual dan integritas karakter.
- Imperium Besar: Memiliki perangkat peradaban (teknologi, militer), namun kehilangan "ruh" atau orientasi hidup yang benar.
- Masyarakat Arab: Kekurangan perangkat material, namun memiliki kesiapan mental dan kejujuran jiwa untuk menjadi pengemban risalah universal.
Allah SWT menegaskan bahwa pergantian kejayaan antar bangsa adalah sunnatullah yang bergantung pada kesiapan spiritual mereka:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS. Ali 'Imran: 140)
Kesimpulan
Kekosongan spiritual di luar Arab merupakan "ruang gelap" yang memerlukan cahaya baru. Jazirah Arab dipilih bukan karena kemajuan materinya, melainkan karena kemurnian karakter masyarakatnya yang memungkinkan Islam tumbuh tanpa terhambat oleh reruntuhan sistem peradaban lama yang sudah membusuk.
Abu Sultan Al-Qadrie