1. Memahami Psikologi Dakwah

Saya  melakukan observasi perilaku (behavioral observation) terhadap para pelanggan beberapa kedai tukang pangkas . Nilai ilmiah di sini terletak pada pemahaman bahwa manusia memiliki fitrah kebaikan yang tertanam di dalam jiwanya. Dakwah tidak selalu harus berupa ceramah formal; menyediakan literatur yang berkualitas merupakan bentuk "dakwah bil hal" (dengan perbuatan) yang menyentuh sisi kognitif tanpa merasa digurui.

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا  فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu..." (QS. Ar-Rum: 30)

2. Menghidupkan Hati yang Lelah

Di tengah bisingnya dunia dan berita-berita politik yang rumit atau gosip yang hampa, jiwa manusia sebenarnya merindukan ketenangan. Maka sepatutnya di kedai kedai tukang pangkas, di Aceh , sebagai daerah Istimewa untuk penerapan syariah,  disediakan bacaan ringan tentang “ Sirah Nabawiyah , atau Sirah Sahabat dan Tabi-iin .  Ketika pelanggan membaca kisah para Nabi dan Sahabat, jiwa mereka merasa tenang dan mendapatkan manfaat nyata. Ini membuktikan bahwa sirah nabawiyah adalah oase bagi hati yang gersang di ruang tunggu kehidupan.

Rasulullah SAW telah menegaskan dalam sabdanya :

 مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ

"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka..." (HR. Muslim)

3. Tanggung Jawab Sosial

Pesan moral utamanya adalah keberanian untuk berinisiatif (proaktif). Kita tentu , tidak hanya mengeluh tentang bahan bacaan yang buruk, tetapikita harus  bergerak mencari solusi dengan membeli buku dan memberikannya sebagai hadiah. Kita perlu sekali mengajak dengan sungguh sungguh   para profesional—dokter, apoteker, dan pemilik toko—untuk memanfaatkan ruang tunggu mereka sebagai ladang pahala.

Rasulullah SAW. Bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." (HR. Muslim)

Dengan demikian semua ruang tunggu menjadi “ Ruang Tunggu Syari’ah “

 

4. Amalan Salafussalih: Meneladani Kesungguhan Membaca

Langkah kita menyediakan buku sejarah Islam dan biografi Sahabat merupakan upaya menghidupkan kembali tradisi Salafussalih yang sangat menghargai waktu dan ilmu. Mereka adalah generasi yang tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia dalam hal yang laghwu (sia-sia).

Sebagaiman kita baca dalam Al-Qur an :

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna." (QS. Al-Mu'minun: 3)

5. Tamsilan  Indah:  Racun dalam Wadah Perak

Kalau boleh , saya menggunakan  metafora yang sangat tajam namun indah untuk menggambarkan majalah gosip sebagai "racun yang disajikan dalam wadah perak". Tampak berkilau dan menarik di luar (warna-warni, foto artis), namun merusak moral dan pikiran pembacanya di dalam. Sebaliknya, buku-buku agama sebenarnya  sebagai cahaya yang membangunkan fitrah dari tidurnya.

6. Anekdot  : Godaan Majalah dan "Kain Perca"

Kalau bisa saya gambarkan bahwa  majalah-majalah tersebut seolah-olah bisa berbicara, "Ambillah aku!" kepada pelanggan yang sedang melamun. Dan saya memandang  kegiatan membaca  majalah sampah itu seperti "mengunyah kain perca"—sesuatu yang dilakukan secara mekanis, tidak mengenyangkan, bahkan sebenarnya tidak enak, namun tetap saja dilakukan karena bosan.