1. Akar Kata dan Kedalaman Makna
Secara etimologi, Al-Majid berasal dari kata Majada yang berarti luas, banyak, dan agung. Dalam literatur aqidah, nama ini merujuk pada kesempurnaan Dzat, Sifat, dan Perbuatan Allah secara sekaligus.
- Perbedaan Majid dan Majiid: Para ulama menjelaskan bahwa Majid (tanpa tasydid) menunjukkan kemuliaan yang tetap, sedangkan Majiid menunjukkan puncak dari segala kemuliaan yang melampaui batas logika manusia.
- Korelasi: Nama ini sering disandingkan dengan Al-Hamid (Maha Terpuji), karena Allah dipuji karena kemuliaan-Nya, dan Dia mulia karena kesempurnaan sifat-Nya.
2. Dalil Al-Qur'an dan Sunnah
Allah SWT berfirman :
قَالُوْٓا اَتَعْجَبِيْنَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ رَحْمَتُ اللّٰهِ وَبَرَكٰتُه عَلَيْكُمْ اَهْلَ الْبَيْتِۗ اِنَّه حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ
"Mereka (para malaikat) berkata, 'Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Mulia.'" QS. Hud: 73
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita memuji Allah dengan nama ini setiap shalat:
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
"Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."
3. Penjelasan :
Bayangkan seorang hamba yang merasa hina karena dosa atau merasa kecil di hadapan dunia. Saat ia menyebut "Ya Majid", ia sedang bersandar pada Dzat yang kemuliaan-Nya tidak butuh pengakuan makhluk.
Kemuliaan Allah itu meluap (Luber). Ibarat samudera yang tak bertepi, semakin kita mendekat, semakin kita merasakan ketenangan. Allah tidak pelit dengan kemuliaan-Nya; Dia memuliakan siapa pun yang bergantung pada-Nya. Anda tidak perlu mencari pengakuan manusia jika sudah diakui oleh Sang Pemilik Kemuliaan.
4. Amalan Salafussalih
Para Salaf (pendahulu yang saleh) sangat menjaga lisan dan hati mereka agar tetap mulia. Salah satu kutipan indah dari Imam Hasan Al-Bashri:
"Setiap kemuliaan yang tidak dikuatkan dengan ketaatan kepada Allah, maka ia adalah kehinaan."
Beliau mencontohkan bahwa kemuliaan itu bukan pada pakaian yang mahal, tapi pada seberapa besar rasa takut kita kepada Allah saat sendirian. Mereka biasa membaca Al-Qur'an (yang dijuluki Majid) untuk mengambil setetes dari samudera kemuliaan-Nya.
5. Tamsilan Indah :
Bayangkan ada sebuah lampu kristal yang sangat megah di sebuah istana. Cahayanya menerangi seluruh ruangan. Jika lampu itu adalah Al-Majid, maka kita hanyalah debu yang melayang di bawah cahayanya. Tanpa cahaya itu, debu tidak akan terlihat. Namun, karena kemuliaan cahaya tersebut, debu yang kecil pun ikut "terpancar" dan terlihat berharga.
6. Anekdot :
Terkadang kita ini lucu. Kita mengejar "Centang Biru" di media sosial supaya merasa mulia dan diakui. Kita rela foto berkali-kali sampai memori penuh demi satu postingan yang terlihat "Majid" (keren). Padahal, di hadapan Allah, kemuliaan itu gratis, tanpa perlu filter kamera! Cukup sujud, akui kehinaan kita, maka Allah akan mengangkat derajat kita. Jadi, daripada sibuk upgrade gadget supaya terlihat mulia, lebih baik upgrade tahajud supaya benar-benar mulia.
7. Pesan Penting dan Kesimpulan :
Memahami bahwa Allah itu Majid melahirkan sifat Izzah (kehormatan diri).
- Anti-Insecure: Seorang Muslim tidak akan merasa rendah diri di hadapan kekayaan atau jabatan orang lain, karena standar kemuliaan baginya adalah kedekatan dengan Al-Majid.
- Tawadhu: Karena semua kemuliaan milik Allah, maka manusia tidak punya alasan untuk sombong. Sombong adalah usaha "mencuri" jubah kemuliaan Allah.
Abu Sultan Al-Qadrie