Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah, Di tengah panggung dunia modern dan riuhnya jagat media sosial, kita sangat mudah menjumpai orang-orang yang mahir menyajikan pidato yang fasih, ide-ide yang menakjubkan, serta analisis yang sangat mendalam. Namun, mengapa terkadang semua kemewahan kata itu terasa hambar? Mengapa retorika yang megah itu tidak membekas lama di dalam dada kita?

Para ulama memberikan sebuah tamsilan yang luar biasa: Ilmu dan pidato dari seorang pembicara yang hampa dari hubungan spiritual dengan Allah SWT diibaratkan seperti seangkatan mawar plastik atau bunga buatan. Meskipun warnanya sangat merah menyala dan ukurannya besar memikat mata, manusia akan cepat bosan lalu membuangnya ke tempat sampah karena ia tidak memiliki kehidupan dan keharuman sejati. Sebaliknya, pengetahuan yang tampak sederhana namun dibungkus oleh ketulusan batin ibarat mawar asli; ia memiliki wangi yang alami, memiliki nyawa, dan meninggalkan dampak kebaikan yang abadi.

Secara psikologis dan ilmiah, batin manusia tidak bisa dibohongi oleh sekadar performa lahiriah (surface acting). Ketika sebuah ilmu disampaikan tanpa adanya ruh ketakwaan dan keikhlasan dari pemiliknya, ia kehilangan energi spiritualnya (spiritual weight). Ilmu dalam Islam bukan sekadar transfer data kognitif, melainkan cahaya (nur) yang dititipkan Allah ke dalam dada hamba-Nya. Regulasi ilmu yang benar adalah ketika ilmu itu menumbuhkan rasa takut dan tunduk kepada Allah SWT, sehingga memancarkan keharuman akhlak yang tulus.

Allah SWT menegaskan hakikat ilmu yang membuahkan ketakwaan sejati di dalam Al-Qur'an:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu)." (QS. Fatir: 28) (QS. Fatir: 28)

Ilmu yang berkah dan hidup di dalam dada adalah ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk selalu memohon inti dari ilmu yang hidup ini melalui sabdanya:

سَلُوا ٱللَّهَ عِلْمًا نَافِعًا، وَتَعَوَّذُوا بِٱللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

"Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat, dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat." (HR. Ibnu Majah) (HR. Ibnu Majah)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita merenungkan sebuah kisah nyata yang menyayat hati tentang kerinduan jiwa akan keharuman ilmu yang tulus. Ada sebuah majelis ilmu yang dihadiri oleh ratusan orang di sebuah desa yang gersang. Sang penceramah malam itu menyampaikan materi dengan kata-kata yang sangat puitis, rima yang rapi, dan analisis hukum yang sangat rumit. Namun, di barisan belakang, duduk seorang ibu tua yang sedang menangis sedih.

Bukan karena ia tersentuh oleh ceramah itu, melainkan karena ia merasa jiwanya semakin hampa dan terasing. Ia berbisik lirih kepada orang di sebelahnya, "Nak, mengapa hati Ibu terasa dingin mendengarnya? Kata-katanya tinggi dan indah, tapi mengapa tidak ada kehangatan yang mengobati luka di dada Ibu?"

Penceramah itu mungkin sukses memukau akal penonton dengan "mawar plastik" teorinya, namun gagal memberikan setetes pun "nyawa" ketenangan bagi jiwa-jiwa yang sedang dahaga. Menyedihkan melihat ilmu yang luas terbuang sia-sia menjadi tumpukan formalitas di atas mimbar tanpa memiliki wangi yang menghidupkan batin umat.

Supaya kita bisa menertawakan cara kita menilai sebuah ilmu selama ini dengan senyuman cerdas, mari kita pakai tamsilan tentang "Kado Mewah si Mukidi".

Bayangkan ada seorang pria bernama Mukidi. Mukidi ingin melamar kekasih hatinya. Demi memberikan kesan yang sangat menakjubkan dan mewah, Mukidi pergi ke toko dekorasi. Beliau membeli seikat mawar plastik raksasa buatan pabrik yang warnanya merah membara, harganya mahal, bahkan daunnya disemprot zat pengilap agar berkilau di bawah lampu.

Dengan penuh percaya diri, Mukidi datang ke rumah sang kekasih, lalu menyodorkan bunga itu sambil berpidato puitis selama dua jam meniru gaya pujangga kuno.

Sang kekasih awalnya tersenyum. Tapi, begitu bunga plastik itu didekatkan ke hidungnya... uhuk! uhuk! Sang kekasih langsung bersin-bersin dan batuk karena yang tercium bukan wangi bunga, melainkan bau plastik pabrik dan zat kimia pengilap yang menyengat! Sang kekasih langsung melempar bunga itu ke tempat sampah sambil berteriak, "Mukidi, bawa pergi bunga palsumu! Ini bikin hidung saya mampet !

Lucu dan menggelitik batin kita, bukan? Banyak di antara kita di media sosial bertingkah jenaka seperti Mukidi membawa bunga plastik itu. Kita sibuk mengedit kutipan agama agar terlihat mengkilap di layar gawai, jago beranalisis rumit di kolom komentar demi terlihat keren, tapi batin kita sendiri kering dari zikir dan keikhlasan. Kita lupa bahwa manusia di sekitar kita memiliki "hidung spiritual" yang sensitif! Mereka bisa mencium mana ilmu yang merupakan "mawar asli" hasil perenungan batin di atas sajadah, dan mana ilmu "mawar plastik" yang cuma hasil copy-paste demi mengejar pujian manusia. Jangan sampai kita sibuk memamerkan bunga plastik yang berbau kimia kelalain di hadapan Allah SWT!

3. Kesimpulan & Penutup

Sahabat sekalian, pesan moral tingkat tinggi dari regulasi ilmu ini adalah sebuah ajakan untuk mengubah orientasi belajar dan berbagi kita: stop berhenti pada level keindahan performa lahiriah belaka. Umat manusia tidak butuh tambahan mawar-mawar plastik yang kaku dan membosankan; umat merindukan pancaran energi spiritual yang hidup dari dalam dada kita.

Mari kita bungkus setiap ilmu yang kita miliki—meskipun itu sederhana—dengan ketulusan batin yang murni. Hidupkan ilmu itu terlebih dahulu di sepertiga malam Anda melalui sujud yang jujur, lalu tebarkan kepada sesama manusia dengan akhlak yang lembut dan belas kasih yang nyata. Ketika ilmu kita telah memiliki "nyawa" ketaatan dan "keharuman" ikhlas, maka tanpa perlu bersilat lidah secara berlebihan, setiap patah kata dan perilaku nyata kita akan otomatis menjadi mawar asli yang indah, menyejukkan jiwa yang gersang, dan meninggalkan dampak kebaikan yang abadi di dunia hingga akhirat.

Semoga Allah SWT menyembuhkan batin kita dari kepalsuan ilmu, menghidupkan jiwa kita dengan ketulusan, dan menjadikan diri kita sebagai mawar-mawar iman yang harumnya menuntun umat menuju surga-Nya

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie