Hampir semua manusia menghadapi masalah, masalah keuangan, kesehatan dan kenyamanan hidup, bagaimana cara kita mengatasi nya?. Pertanyaan ini sangat menyentuh hakikat kehidupan manusia itu sendiri. Dalam Islam, “masalah” bukan sekadar kesulitan, tetapi bagian dari sunnatullah (ketetapan Allah) untuk menguji, mendidik, dan mengangkat derajat manusia. Kita akan menguraikannya secara menyeluruh: mulai dari definisi masalah, akar penyebabnya, hingga cara mengatasinya secara praktis dan spiritual.

Hakikat masalah adalah sesuatu yang dirasakan oleh manusia sebagai sesuatu yang menyenangkan atau menyusahkan dari yang ringan hingga yang berat.

  1. Teori "Masalah Semu" (Al-Mushkil al-Wahmī)

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan: "Banyak yang disebut masalah oleh manusia sebenarnya adalah ketidaksesuaian antara harapan dan realita. Ini masalah persepsional, bukan tentang masalah itu sendiri."

Contoh:

👉 Kehilangan harta → Masalah bagi pencinta dunia, bukan bagi yang zuhud

👉 Penyakit → Masalah bagi pencinta kesehatan, bukan bagi pencinta akhirat

👉 Lapar → Masalah bagi pencinta makanan, bukan bagi orang puasa

  1. Akar Penyebab Terjebak Dalam Banyak Masalah

Terjebak dalam syirik kecil yaitu Riya

Hadits Rasulullah :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ 

"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: Apa itu syirik kecil? Beliau menjawab: Riya'." (HR. Ahmad)

Dampak Dari Mendua Niat (Riya'):

  • Ibadah menjadi tidak diterima, karena mendua niat dalam ibadah, satu sisi untuk Allah satu sisi lagi kepada selain Allah
  • Kehilangan makna hakiki dalam ibadah
  • Kehidupan kehilangan barakah

Terjebak Dalam Bentuk-bentuk Syirik Modern (syirik khafi):

  • Syirik dalam cinta (menyembah pasangan/keluarga)
  • Syirik dalam ketergantungan (bergantung mutlak pada manusia/sistem)
  • Syirik dalam takut (takut pada makhluk lebih dari Khaliq)

Dampak dari syirik khafi (tersembunyi):

  • Mencintai harta secara berlebihan (menyembah harta)
  • Ketakutan terhadap penyakit secara berlebihan (menyembah kesehatan)
  • Berharap pada kenyamanan secara berlebihan (menyembah kerja)

 

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah (Muhammad), "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk terhadap kaum yang fasik. (At-Taubah: 24).

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ 

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya." (QS. Al-Jasiyah: 23)

Hatinya Terguncang Dalam Kelalaian

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

 "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf: 179)

Dampak dari kelalaian:

  • Hilang kebesaran Allah dalam kehidupannya (ibadah menjadi sirna)
  • Hilang alat kontrol untuk diri sendiri (di kepung oleh masalah)
  • Hilang pertolongan Allah ketika ada masalah (hidup terasa sempit)

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Akar dari Segala Akar Masalah disebutkan dalam Al-Fath ar-Rabbani, beliau menyatakan: "Semua akar masalah bermuara pada satu titik: Lalai Mengenal Allah (ghaflah 'an ma'rifatillah). Jika manusia benar-benar mengenal Tuhannya, niscaya semua masalah akan menjadi mudah."

Ibnu 'Ata'illah as-Sakandari: Dalam Perspektif Sufistik seperti disebutkan dalam Al-Hikam, beliau mengungkap: "Banyak yang mengira masalahnya terletak pada apa yang belum dia dapatkan, padahal masalah yang sebenarnya terdapat pada apa yang sudah dia dapatkan (dunia)."

Imam Al-Ghazali: "Masalah-masalah dunia bagaikan asap yang mengepul, sedangkan api penyebabnya adalah kelalaian hati dari mengingat Penciptanya."

Jatuh Dalam Penyakit Sosial Kemasyarakatan

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا 

"Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." (QS. Maryam: 59)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)

Hadits Rasulullah :

وَاللَّهِ لَتُؤْمِرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُسَلِّطَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ عُذَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ 

"Demi Allah, hendaklah kalian benar-benar melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau (jika tidak) Allah akan menimpakan siksa dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun tidak dikabulkan." (HR. Tirmidzi)

Dampak dari penyakit sosial kemasyarakatan:

  • Kemerosotan moral dan akhlak dalam berbangsa dan bernegara
  • Korupsi berjamaah dan sistematis dalam pemerintahan
  • Kerusakan alam secara legal atas nama pembangunan
  • Bencana alam silih berganti
  • Masyarakat sibuk mengutuk pemimpinya tanpa solusi
  1. Cara Pandang Masalah

  1. Ujian bagi yang beriman
  2. Peringatan bagi yang lalai
  3. Azab bagi yang ingkar
  4. Pelajaran bagi yang berpikir
  5. Ladang pahala bagi yang sabar
  6. Tangga menuju Allah bagi yang arif

Masalah Sebagai Ujian bagi orang beriman

Allah menjelaskan tujuan masalah dalam QS. Al-Baqarah: 155-156:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ... وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ 

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan... Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.'"

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata: ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka belum diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2)

Ujian sebagai Tanda Cinta Allah

Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)

Ujian Mengungkap Hakikat Iman

Tanpa ujian, iman hanya klaim.

“Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu ujian...” (QS. Al-Baqarah: 214)

Tingkatan Ujian Sesuai Iman

Rasulullah SAW bersabda: “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi...” (HR. Tirmidzi)

Semakin tinggi iman → semakin besar ujian.

Mengapa Orang Baik Justru Diuji?

Karena:

  • Allah ingin mengangkat derajatnya
  • Membersihkan dosanya
  • Mendekatkannya

Masalah Sebagai Peringatan bagi yang lalai

Dalam QS. Asy-Syūrā: 30:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ 

"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah kecuali karena dosa...” (HR. Ahmad)

Masalah sebagai azab bagi yang mengingkari

Masalah Adalah Bahasa Allah kepada Manusia. Sering kali manusia tidak berubah saat diberi nikmat, tetapi berubah saat diberi masalah.

“Dan sungguh Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) agar mereka kembali.” (QS. As-Sajdah: 21)

Makna: Masalah adalah “cara Allah berbicara” agar manusia kembali kepada-Nya.

Masalah sebagai pelajaran bagi yang berfikir

Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ 

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik. Dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika dia mendapatkan kesusahan, dia bersabar, maka itu baik baginya." (HR. Muslim)

Masalah sebagai Cara Allah Mendidik

Setiap masalah membawa pelajaran:

  • Kesabaran
  • Ketawadhuan
  • Ketergantungan kepada Allah

Masalah Menghancurkan Kesombongan

Tanpa masalah, manusia mudah sombong.

Masalah membuat:

  • Sadar kelemahan
  • Kembali rendah hati

Masalah Mengajarkan Ketergantungan kepada Allah

Saat semua jalan tertutup:

  • Manusia baru benar-benar berdoa
  • Baru merasa butuh Allah

Doa yang Lahir dari Keputusasaan Dunia

Doa paling kuat adalah saat:

  • Tidak ada harapan selain Allah
  • Hati benar-benar tunduk

Contoh Nabi Yunus

Nabi Yunus dalam perut ikan, beliau berdoa:

“Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Rahasia Doa Nabi Yunus

Mengandung 3 unsur:

  • Tauhid
  • Tasbih
  • Pengakuan dosa

Masalah Membuka Pintu Taubat

Tanpa masalah, manusia jarang bertobat.

Masalah membuat:

  • Menyesal
  • Kembali
  • Memperbaiki diri

Taubat Mengubah Takdir

Allah menetapkan takdir dalam ilmuNya, Allah membuka ruang perubahan melalui:

  • Doa
  • Taubat
  • Amal

👉 Bukan masalah yang menentukan hidup kita, tetapi cara kita memaknainya.

👉 Semakin pintar dan tabah dengan masalah maka semakin sukses hidupnya.

👉 Sukses itu adalah sukses meminimalkan dosa dan sukses memperbanyak pahala.

 

Masalah sebagai ladang pahala bagi yang sabar

Rasulullah bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ 

"Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kecemasan, kesedihan, gangguan, dan kerisauan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu." (HR. Bukhari & Muslim)

Hakikat Pemurnian Dengan Masalah:

  • Kaffārah: Penghapusan dosa
  • Tathhīr: Penyucian jiwa
  • Taqrīb: Pendekatan kepada Allah

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa penyakit... melainkan Allah menghapus dosanya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Masalah Menguatkan Mental

Tanpa masalah:

  • Mental lemah
  • Mudah putus asa

Dengan masalah:

  • Mental terlatih
  • Lebih kuat

Sabar sebagai Kekuatan Aktif

Sabar bukan diam, tetapi:

  • Tetap bergerak
  • Tidak menyerah
  • Tetap taat

Masalah sebagai tangga menuju Allah

Allah menegaskan dalam QS. Al-Ḥadīd: 22:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا 

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya."

Syukur di Tengah Masalah

Tingkatan tertinggi:

  • Bersyukur saat susah

Contoh Nabi Muhammad

Saat paling sulit (Thaif):

  • Dihina
  • Dilempari

Namun beliau tetap berdoa, tidak membalas.

  1. Tiga (3) masalah dalam pandangan kebanyakan manusia

    1. Masalah kesehatan
    2. Masalah keuangan
    3. Masalah kenyamanan

Masalah Kesehatan: Ujian yang Menghapus Dosa

Hadits: “Tidaklah seorang muslim tertimpa penyakit... kecuali Allah hapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari)

Sakit sebagai Rahmat Tersembunyi

Sakit bukan hanya penderitaan, tapi:

  • Penghapus dosa
  • Pengangkat derajat
  • Pengingat kepada Allah

Contoh Sakit Nabi Ayyub ‘Alaihissalam

Nabi Ayyub diuji dengan:

  • Penyakit bertahun-tahun
  • Kehilangan harta dan keluarga

Namun beliau tetap sabar.

Doanya:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau Maha Penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)

Doa sebagai Penyembuh

Rasulullah membaca: “Ya Allah, hilangkanlah penyakit...”(HR. Bukhari)

Penyakit Hati Lebih Berbahaya

Dalam Islam, penyakit hati seperti:

  • Iri
  • Sombong
  • Hasad
  • Buruk sangka

Lebih berbahaya daripada penyakit fisik.

“Dalam hati mereka ada penyakit...” (QS. Al-Baqarah: 10)

Masalah Keuangan Bukan Sekadar Kekurangan Uang

Banyak orang mengira masalah keuangan hanya soal “tidak punya uang”. Padahal dalam Islam, akar masalah sering kali adalah hilangnya keberkahan (barakah).

“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...” (QS. Al-A’raf: 96)

Makna:
Berkah adalah “cukupnya sesuatu walau sedikit”. Tanpa berkah, harta banyak pun terasa kurang.

Keberkahan Lebih Penting dari Jumlah

Rasulullah hidup sederhana, tetapi penuh keberkahan.

Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” (HR. Tirmidzi)

Makna lebih dalam:

  • Harta bertambah secara angka
  • Tapi hilang ketenangan
  • Hidup penuh tekanan

Masalah Kenyamanan Hidup

Tidak nyamanan sering berasal dari:

  • Tidak puas
  • Membandingkan diri
  • Terlalu cinta dunia

Dunia Tidak Akan Memuaskan

Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, dia akan ingin dua...” (HR. Bukhari)

Qana’ah sebagai Solusi

Qana’ah = merasa cukup.

Rasulullah SAW bersabda: “Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki cukup, dan qana’ah.” (HR. Muslim)

Contoh Nabi dalam Kesederhanaan

Rumah Nabi :

  • Sangat sederhana
  • Kadang tidak ada makanan

Namun beliau tetap tenang.

Dzikir dan baca quran sebagai Penenang Hati

“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Shalat sebagai Solusi Kegelisahan

Rasulullah berkata:

“Wahai Bilal, tenangkan kami dengan shalat.” (HR. Abu Dawud)

Husnudzan kepada Allah mengubah cara hidup

Berbaik sangka kepada Allah adalah kunci ketenangan.

Rasulullah SAW bersabda: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.” (HR. Bukhari)

Mengapa Orang Zalim Kadang Hidup Nyaman?

Ini sering membingungkan.

Jawaban Al-Qur’an:

“Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar...” (QS. At-Taubah: 55)

Dunia Bukan Tempat Balasan Utama

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185)

Istidraj: Nikmat yang Menipu

Istidraj adalah:

  • Diberi nikmat
  • Tapi semakin jauh dari Allah

Bahaya Istidraj

Lebih berbahaya dari ujian, karena:

  • Tidak terasa
  • Membuat lalai
  • Menjauh perlahan
  1. Masalah dalam Perspektif Ahli Sufi

Dalam pandangan umum: 👉 Masalah adalah kesulitan hidup

Namun dalam tasawuf: 👉 Masalah adalah hijab (penghalang) antara hati dan Allah

Para sufi tidak melihat masalah sebagai sesuatu yang eksternal, tetapi sebagai refleksi kondisi batin.

Ahli Sufi berkata:

👉 Segala sesuatu yang menjauhkanmu dari Allah, itulah hakikat masalahmu yang sebenarnya.

Artinya: Dosa adalah masalah terbesar dan utama dalam hidup, jika dosanya membesar maka Tuhan akan mengecil, begitu sebaliknya jika Tuhan membesar dalam dirinya maka dosa akan mengecil darinya.

👉 Aku mencari Allah, tapi yang kutemukan adalah diriku. Aku mencari diriku, dan yang kutemukan adalah Allah.”

Artinya: Jika kamu ingin mengenal Allah lebih dalam maka lihat tanda kebesarannya pada dirimu, Jika Allah ingin mengenalkan diri-Nya padamu maka kamu akan mengenal lebih dalam tentang siapa dirimu.

  1. Urutan Praktis Saat Masalah Datang

Ketika masalah datang, lakukan urutan ini:

  1. Segera minta solusi pada Allah
  2. Berdoa sambil tenangkan diri serta jangan panik
  3. Sabar jangan patah semangat
  4. Shalat dua rakaat atau lebih
  5. Evaluasi diri sambil menunggu pertolongan dari Allah
  6. Ambil tindakan dengan Bismillah
  7. Berserah diri pada Allah

Makna Lebih Dalam:
Masalah tidak diselesaikan oleh kekuatan kita, kepintaran kita, tetapi oleh pertolongan Allah.

  1. Urutan Praktis Agar Tidak Banyak Masalah
  1. Dekat dengan Tuhan
  2. Berkawan dengan orang tidak banyak masalah
  3. Hindari banyak keinginan yang menjadi beban hidup yang berlebihan
  4. Setelah terjadi maka menerimanya sebagai takdir kehidupan secara suka-rela
  5. Terus evaluasi dan memperbaiki diri agar tidak jatuh dalam lubang yang sama
  6. Ingat bahwa masalah adalah bagian dari kehidupan, tidak bisa dihindari tapi terkadang bisa dikendalikan, selesaikan semampumu sebab tidak semua masalah mampu kita tuntaskan dengan selesai
  7. Terus belajar dengan masalah hingga kamu benar-benar menguasai masalah.
  8. Jangan tunggu hidup tanpa masalah — tetapi jadilah orang yang tenang di tengah masalah.
  1. Cara Praktis Agar Hidup Lebih Tenang

  1. Jangan lupa shalat 5 waktu
  2. Taat kepada orang tua
  3. Tidur malam sebelum jam 10 malam
  4. Berzikir setelah shalat subuh
  5. Baca Quran habis magrip
  6. Bekerja dengan santai
  7. Hidup sederhana