Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang hatinya mendambakan ketenangan, di zaman modern ini, penyakit mental yang paling banyak menyerang manusia adalah anxiety (kecemasan akan masa depan) dan depression (kesedihan mendalam atas masa lalu). Kita sering mengira, obat dari semua itu adalah kemewahan atau pengakuan manusia. Padahal, psikologi Islam mengajarkan bahwa ketenangan sejati hanya milik mereka yang batinnya terkoneksi dengan Allah.

Menariknya, Allah SWT memberikan kriteria yang sangat universal, ilmiah, dan sederhana bagi siapa saja yang ingin menjadi kekasih-Nya (Waliullah). Syaratnya bukan bisa terbang atau berjalan di atas air, melainkan dua hal: Iman yang kokoh dan Takwa yang konsisten. Ketika seseorang berhasil mencapai level ini, Allah memberikan garansi batin yang luar biasa: mental mereka akan dibebaskan dari rasa takut terhadap masa depan dunia, dan jiwa mereka tidak akan didera kesedihan atas apa yang telah berlalu.

Mari kita sejukkan jiwa kita dengan merenungkan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (QS. Yunus: 62-63)

Ketenangan batin para kekasih Allah ini juga digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis Qudsi, di mana Allah menjadi pelindung mutlak bagi seluruh indra dan langkah hidupnya:

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا

"Maka apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan Akulah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan." (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan berharga dari ayat ini adalah: Jangan mempersulit apa yang sudah Allah permudah. Menjadi Waliullah bukanlah hak eksklusif orang-orang tertentu yang punya kesaktian. Ini adalah tawaran terbuka untuk kita semua. Kunci kebahagiaan hidup itu murah: cukup perbaiki iman di dalam dada, lalu buktikan dengan ketakwaan dalam perilaku sehari-hari.

Mari kita bayangkan sebuah kisah mengharukan dari keteguhan hati Ummu Sulaim, seorang sahabiyah yang mulia. Suatu hari, anaknya yang masih kecil meninggal dunia karena sakit saat suaminya, Abu Thalhah, sedang pergi bekerja. Alih-alih menangis histeris, meratapi takdir, atau cemas bagaimana menghadapi suaminya, Ummu Sulaim dengan tenang memandikan jenazah anaknya, menutupinya dengan kain, dan melayani suaminya yang baru pulang dengan senyuman terbaik, bahkan menyajikan makanan.

Ketika suaminya kenyang dan tenang, barulah Ummu Sulaim bertanya dengan lembut, "Wahai suamiku, jika ada orang menitipkan barang kepada kita, lalu dia memintanya kembali, bolehkah kita menahannya?" Suaminya menjawab, "Tentu tidak." Saat itulah Ummu Sulaim berkata, "Maka relakanlah anak kita yang telah diambil kembali oleh Pemiliknya." Inilah contoh nyata jiwa seorang Waliullah: tidak ada ratapan kesedihan yang merusak iman, karena hatinya sudah rida dengan setiap ketetapan Allah.

Supaya kita bisa memahaminya dengan santai dan tersenyum, mari kita bayangkan Anda sedang naik Pesawat Terbang Mewah (First Class). Pilotnya adalah pilot paling senior, paling ahli, dan paling berpengalaman di dunia.

Ketika pesawat berguncang karena cuaca buruk (turbulence), apakah Anda akan panik lalu lari ke kokpit sambil teriak, "Pak Pilot! Gimana ini jalannya? Kanan apa kiri? Saya takut jatuh!"? Nggak, kan? Lucu banget kalau kita sok tahu mau ngajarin pilot senior. Kita pasti bakal tetap duduk santai, dengerin musik, atau lanjut tidur, karena kita percaya 100% sama keahlian sang pilot.

Nah, Waliullah itu adalah orang yang sadar kalau "Pilot" kehidupan ini adalah Allah Yang Maha Mengatur. Ketika hidup mereka diguncang badai ujian, utang menumpuk, atau masalah datang, mereka tidak cemas berlebihan dan tidak meratapi masa lalu. Mereka bersandar penuh pada Allah. Lucunya, kita ini sering stres dan kena anxiety karena kita hobi bertindak seolah-olah kita ini "asisten Tuhan" yang harus mikirin semua hal sendirian, padahal kita cuma penumpang! Serahkan saja sama Allah lewat iman dan takwa, beres kan?

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, kesimpulannya, esensi dari menjadi seorang Waliullah adalah meraih kemerdekaan batin yang sejati. Definisi kekasih Allah begitu sederhana: iman dan takwa. Efek sampingnya sungguh luar biasa: hilangnya rasa takut (La khaufun 'alaihim) dan lenyapnya rasa sedih (Wa la hum yahzanun).

Maka, mari kita pensiun dari rasa cemas yang berlebihan tentang hari esok, dan mari kita berhenti meratapi kegagalan di hari kemarin. Fokuslah pada apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk mendekat kepada Allah. Jadilah kekasih-Nya, maka Dia sendiri yang akan menggaransi ketenangan di dalam hati kita.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie