Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita merenung, di balik megahnya peradaban Islam, ada ribuan malam sepi yang dilewati para ulama ditemani secangkir kopi atau teh, jemari yang legam oleh tinta, dan tumpukan kertas. Mengapa lelahnya fisik mereka dihargai begitu dahsyat oleh Allah?

Secara ilmiah dan esensial, ilmu adalah tujuan utama penciptaan, sedangkan perjuangan fisik adalah sarana untuk melindungi tujuan tersebut. Tanpa ilmu, kita tidak akan pernah tahu bagaimana cara menyembah Allah dengan benar (Ma'rifatullah).

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Keagungan ilmu ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang menggetarkan jiwa:

تُوزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِدَادُ الْعُلَمَاءِ وَدِمَاءُ الشُّهَدَاءِ، فَيَرْجَحُ مِدَادُ الْعُلَمَاءِ عَلَى دِمَاءِ الشُّهَدَاءِ

"Akan ditimbang pada hari kiamat antara tinta para ulama dengan darah para syuhada, maka tinta para ulama melebihi (lebih berat dari) darah para syuhada." (HR. Al-Baihaqi & Ibnu Abdil Barr)

2. Pelajaran dan Pesan

Perang dan pengorbanan darah para syuhada dilakukan agar agama ini tidak punah dari muka bumi. Namun, tahukah kita apa yang dijaga agar tidak punah? Yang dijaga adalah ilmu. Darah syuhada membuka gerbang kebebasan, tetapi tinta ulamalah yang mengisi jiwa manusia di dalam gerbang tersebut dengan iman.

Mari kita bayangkan sebuah peristiwa memilukan pada tahun 1258 M, ketika pasukan Mongol luluhlantakkan Baghdad. Mereka tidak hanya membantai penduduk, tetapi melemparkan jutaan kitab karya para ulama ke Sungai Tigris. Sejarah mencatat, air Sungai Tigris berubah menjadi hitam pekat karena tinta dari kitab-kitab tersebut, bercampur dengan merahnya darah. Para ulama menangis bukan hanya karena kehilangan nyawa keluarga mereka, tapi karena warisan wahyu dan ilmu yang ditulis dengan air mata dan fajar yang dingin, lenyap dalam sekejap. Mereka tahu, matinya satu ulama dan hilangnya ilmu adalah retaknya dinding dunia.

Anda membeli sebuah smartphone lipat terbaru yang paling mahal dan canggih seharga puluhan juta rupiah. Dusnya dilapisi pelindung antipeluru, dijaga oleh satpam ketat saat pengiriman (ini ibarat sarana/darah syuhada). Tapi pas dibuka, ternyata di dalamnya tidak ada operating system-nya, tidak ada aplikasinya, alias blank (ini ibarat kehilangan tujuan/tinta ulama).

Kan lucu kalau kita punya handphone antipeluru tapi cuma bisa dipakai buat ganjel pintu? Nah, begitulah agama tanpa ilmu. Syuhada mengorbankan nyawa untuk melindungi "wadah" Islam, sedangkan ulama menulis tinta untuk mengisi "aplikasi dan sistem" di dalam jiwa kita. Dua-duanya mulia, tapi tintalah penentu isinya!

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat, darah syuhada mengalir lalu mengering di bumi, menyuburkan tanah saksi perjuangan. Namun, tinta ulama mengalir di atas kertas, menembus abad demi abad, menembus ruang dan waktu, lalu mengalir ke dalam hati kita hari ini.

Jika hari ini kita belum mampu menumpahkan darah sebagai syuhada, jangan sampai kita juga malas menumpahkan perhatian untuk menuntut ilmu. Hormati para guru, muliakan para ulama, dan bacalah kitab-kitab mereka. Karena kelak di timbangan akhirat, coretan pena yang kita pelajari dengan ikhlas bisa jadi lebih berat daripada darah yang tumpah di medan laga.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie