Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, secara biologis kita hanya memiliki satu ayah. Namun secara maknawi dan ruhani, kehidupan kita ditopang oleh tiga sosok "Ayah" yang luar biasa. Allah SWT telah mengisyaratkan pentingnya menghormati para pendahulu dan pembimbing jiwa kita dalam Al-Qur'an:
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰان
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami... (QS. Al-Hasyr 10)
Hubungan ruhani antara seorang guru pembimbing (Ayah Ruhani) dengan muridnya bahkan digambarkan oleh Rasulullah SAW seperti hubungan orang tua dengan anaknya sendiri. Beliau bersabda:
إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ
"Sesungguhnya aku bagi kalian kedudukannya seperti seorang ayah, aku mengajari kalian. (HR. Abu Dawud No. 8)"
Secara psikologis dan spiritual, jiwa manusia membutuhkan role model. Jika ayah kandung membangun jasad kita, maka ayah ruhani membangun struktur kesadaran ketuhanan di dalam jiwa kita.dan
2. Pelajaran Pesan
Tiga Garis Masa Karunia
Mari kita lihat perbedaan mendalam dari ketiga figur ayah ini:
Ayah Kandung (Biologis): Beliau adalah pintu gerbang kita ke dunia. Namun, garis masa jasanya secara lahiriah dibatasi oleh kematian. Saat ia wafat, warisan hartanya dibagi, dan bimbingan fisiknya selesai.
Ayah Mertua (Sosial): Beliau yang mempercayakan belahan jiwanya untuk kita jaga. Namun, ikatan ini secara hukum sosial bisa terputus jika terjadi badai perceraian.
Ayah Ruhani (Guru/Mursyid): Beliau adalah sosok yang mengenalkan jiwa kita kepada Allah SWT. Garis masanya? Abadi. Ilmu, doa, dan pancaran ruhaninya menembus dinding kubur hingga hari kebangkitan.
Ada sebuah kisah menyedihkan tentang seorang pemuda yang sukses secara materi. Ketika ayah kandungnya wafat, ia menangis tegar karena merasa sudah membalas budi dengan harta. Ketika mertuanya menjauh karena bisnisnya bangkrut, ia hanya kecewa.
Namun, suatu hari ia terpuruk dalam dosa besar dan depresi berat hingga berniat mengakhiri hidup. Di saat dunia menutup pintu, Ayah Ruhaninya—sang guru yang sudah tua renta—datang berjalan kaki bermil-mil, mengetuk pintu rumahnya, lalu memeluknya sambil menangis: "Wahai anakku, jangan putus asa dari rahmat Allah. Dosamu besar, tapi ampunan Allah jauh lebih besar. Jiwamu adalah tanggung jawabku di hadapan Allah."
Di sinilah kita sadar, saat dunia mencampakkan kita, Ayah Ruhani justru menangis mendoakan keselamatan kita di sepertiga malam.
Bayangkan diri kita ini seperti sebuah Handphone canggih.
Ayah Kandung adalah pabrik yang merakit casing dan hardware kita hingga fisik kita kokoh.
Ayah Mertua adalah toko yang menyediakan aksesori indah (pasangan hidup) agar tampilan kita makin menarik dan fungsional.
Tapi... apalah artinya HP mahal dan aksesori keren kalau tidak ada Sinyal dan Paket Data? Nah, Ayah Ruhani itulah providernya! Beliau yang menyambungkan jiwa kita dengan "Wi-Fi" Langit, sehingga kita bisa connect dengan Allah SWT. Tanpa beliau, kita hanyalah HP mahal yang mati total dan tidak berguna!
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian, hormatilah ayah kandungmu karena dari sanalah darahmu mengalir. Hormatilah mertuamu karena dari sanalah kebahagiaan sosialmu bermula. Namun, jangan pernah sekalipun engkau memutus hubungan dan menyakiti hati Ayah Ruhanimu (gurumu).
Sebab, ketika jasadmu sudah hancur di dalam tanah, dan anak istrimu mulai melupakanmu, doa-doa dan syafaat ilmu dari guru ruhanimulah yang akan terus mengalir menjadi cahaya yang menemani jiwamu di alam keabadian. Semoga kita termasuk murid-murid yang tahu budi dan setia hingga ke akhirat.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie