Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, Kadang-kadang, manusia tidak akan pernah bisa menghargai indahnya sebatang lilin sampai ia terperangkap di dalam ruangan yang gelap gulita. Begitu pula dalam kehidupan sosial. Kita sering kali tidak menyadari betapa indahnya nilai-nilai kesalehan, kerendahan hati, keadilan, dan belas kasih dari seorang mukmin, sampai akhirnya kita dipaksa oleh keadaan untuk berinteraksi dan merasakan pahitnya berurusan dengan orang-orang yang kasar, egois, sombong, serta jauh dari Tuhan.
Saat itulah kita sadar, karakter seseorang bukanlah sekadar kepribadian, melainkan pancaran dari apa yang ada di dalam dadanya. Cahaya hati seseorang bersumber dari kebijaksanaan dan perenungan yang mendalam. Sebaliknya, kegelapan batin dipicu oleh kerakusan materi serta kelalaian yang berkepanjangan.
Secara psikologis dan spiritual, manusia dirancang untuk merespons kontras. Kita mengenal sehat setelah merasakan sakit, dan kita merindukan kedamaian setelah lelah menghadapi keos. Dalam pandangan Islam, puncak dari segala ketenangan dan cahaya hati adalah makrifatullah—mengenal kebenaran mutlak, yaitu Allah SWT, lalu menaati rambu-rambu-Nya dengan penuh rasa cinta. Ketika hati dipenuhi cinta kepada Allah, perilakunya kepada sesama manusia akan melunak menjadi rahmat.
Allah SWT menggambarkan kontras antara pemilik cahaya iman dan kegelapan ego ini dalam Al-Qur'an:
أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِۦ فَوَيْلٌ لِّلْقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah." (QS. Az-Zumar: 22)
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa keimanan dan kebijaksanaan tertinggi itu berbanding lurus dengan indahnya akhlak, bukan kasarnya lisan atau tingginya ego:
أَكْمَلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita bayangkan kisah nyata yang sering terjadi di sekitar kita. Seorang pedagang kecil di pasar tradisional yang hidupnya pas-pasaran, setiap subuh bersujud memohon rida Allah. Suatu hari, seorang pembeli yang kaya raya dan mengendarai mobil mewah datang memaki-makinya hanya karena salah memberikan kembalian yang nominalnya tidak seberapa. Kata-kata kasar dan hinaan terlontar dari mulut si kaya yang egonya setinggi langit.
Bagaimana respons si pedagang kecil? Dengan mata yang berkaca-kaca menahan sedih, ia menunduk tanpa membalas makian itu. Ia tersenyum getir, mengembalikan uangnya, dan berkata, "Maafkan kelalaian saya, Pak. Semoga Allah memberkahi perjalanan Anda."
Di detik itulah semua orang yang melihat tersadar: siapa sebenarnya yang "kaya" dan siapa yang "miskin". Si kaya yang sombong itu sedang memamerkan kegelapan batinnya, sementara si pedagang miskin sedang memancarkan kemilau cahaya kesalehan yang menyejukkan jiwa. Menyedihkan melihat keangkuhan manusia, namun mengharukan melihat indahnya kerendahan hati.
Supaya kita tidak menjadi manusia yang membawa kegelapan bagi orang lain, mari kita pakai sebuah tamsilan sederhana yang agak kocak.
Pernahkah Anda melihat buah durian dan buah manggis? Orang yang egois, sombong, dan rakus materi itu ibarat buah durian di dalam angkot yang sempit. Udah kulitnya berduri tajam kalau kesenggol bikin luka, baunya menyengat sampai bikin pusing satu angkot, jalannya menonjol sendiri lagi! Semua orang dipaksa menerima "kehadirannya" yang mengganggu.
Berbeda dengan seorang mukmin yang bijaksana. Mereka ibarat buah manggis. Tampilannya dari luar mungkin biasa saja, gelap dan tidak mencolok. Tapi begitu dibuka... isinya putih bersih, rasanya manis, dan menyegarkan siapa saja yang mencicipinya.
Lucunya, banyak manusia di media sosial zaman sekarang yang sibuk mengedit "kulit luar" mereka agar terlihat seperti durian—keren, mahal, dan ditakuti orang. Padahal, begitu berinteraksi langsung, durinya menusuk hati sesama dan baunya (baca: kesombongannya) membuat orang lain ingin segera turun dari angkot kehidupan! Jadilah seperti manggis, tulus di dalam dan manis dalam bersikap.
3. Kesimpulan & Penutup
Sahabat sekalian, kesimpulan akhir dari perenungan kita hari ini sangat mendalam: Kebijaksanaan tertinggi dalam hidup bukanlah seberapa banyak materi yang kita kumpulkan, melainkan seberapa kenal kita kepada Allah SWT, lalu menaati setiap aturan-Nya dengan penuh cinta. Jangan biarkan kerakusan duniawi mengubah kita menjadi sosok yang kasar dan egois.
Mari kita jaga agar hati kita tetap menjadi sumber cahaya bagi orang-orang di sekitar kita melalui kerendahan hati, keadilan, dan belas kasih. Jangan sampai orang lain menyadari indahnya kesalehan justru karena mereka sudah lelah menghadapi kasarnya sikap kita.
Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan hati kita dari penyakit sombong dan menghiasinya dengan cahaya iman yang menyejukkan.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie