Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah,

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, Allah SWT telah membekali kita dengan perangkat yang sangat canggih dan luar biasa: pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran. Semua itu diciptakan bukan sekadar untuk mencari nafkah atau menumpuk materi, melainkan sebagai alat makrifat—sebuah sarana untuk mengenali kebenaran, memahami tanda-tanda kebesaran Allah, dan menuntun kita pada kebijaksanaan hidup.

Namun, apa yang terjadi jika fungsi makrifat ini hilang? Manusia akan berjalan dengan mata tertutup, mengabaikan rambu-rambu ilahi, dan baru tersadar ketika segalanya sudah terlambat. Sungguh, tidak ada tragedi yang lebih mengerikan daripada sebuah penyesalan yang datang di saat pintu tobat telah tertutup rapat.

Secara psikologis-spiritual, penyesalan adalah bentuk konflik batin terdalam ketika seseorang menyadari adanya jarak yang sangat jauh antara "apa yang seharusnya ia lakukan" dengan "apa yang telah ia telanjur lakukan". Di dunia, penyesalan masih bisa melahirkan perbaikan (tobat). Namun di akhirat, penyesalan berubah menjadi siksaan mental yang membakar jiwa sebelum fisik mereka dibakar oleh api neraka.

Realitas tragis akibat hilangnya fungsi makrifat ini ditegaskan secara presisi dalam Al-Qur'an melalui jeritan pilu para penghuni neraka:

وَقَالُوا۟ لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِىٓ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

"Dan mereka berkata: 'Sekiranya dahulu kami mau mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala'." (QS. Al-Mulk: 10)

Mereka menyadari bahwa panca indra dan akal yang dulu mereka banggakan di dunia, ternyata lumpuh dari fungsi sejatinya. Rasulullah SAW juga mengingatkan kita agar memanfaatkan waktu dan akal sehat ini sebelum penyesalan itu datang menghampiri:

ٱغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim)

2. Pelajaran dan Pesan

Bayangkan sebuah malam yang sunyi, di mana seorang anak manusia terbaring lemah di ruang ICU. Detak jantungnya melambat di layar monitor. Di detik-detik terakhir hidupnya, ia memandangi keluarganya dengan tatapan yang sangat menyedihkan dan penuh ketakutan. Air matanya menetes membasahi bantal.

Bukan karena ia takut kehilangan hartanya, melainkan karena ia baru menyadari betapa ringkihnya hidup ini dan betapa kosongnya catatan amal yang ia bawa. Ia ingin meminta waktu satu menit saja untuk bersujud, satu detik saja untuk beristigfar, namun malaikat maut tidak pernah bernegosiasi. Pemandangan itu adalah gambaran kecil dari penyesalan raksasa yang akan dihadapi manusia di akhirat kelak jika menyia-nyiakan fungsi akalnya.

Agar kita tidak termasuk golongan yang meratap di akhirat, mari kita buat analogi sederhana yang agak menggelitik.

Bayangkan ada seorang mahasiswa bernama Tejo. Besok pagi dia harus menjalani ujian akhir semester yang sangat menentukan kelulusannya. Malam harinya, dosen sudah berbaik hati membagikan kisi-kisi soal dan buku panduan utama lewat grup WhatsApp.

Tapi apa yang Tejo lakukan? Alih-alih membaca dan memikirkan kisi-kisi itu, Tejo malah asyik main game online sampai subuh dan mengabaikan semua notifikasi.

Besoknya di ruang ujian, begitu melihat kertas soal, lembarannya terasa seperti bahasa alien bagi Tejo. Dia pun mulai garuk-garuk kepala yang tidak gatal, menatap langit-langit kelas, lalu menangis tersedu-sedu sambil meratap, "Oh Tuhan... seandainya semalam aku buka WhatsApp dan mikir jernih, pasti gak bakal sekongkol sama nilai E ini!"

Lucu dan mengenaskan, bukan? Ujian dunia yang durasinya cuma dua jam saja bisa bikin orang stres setengah mati kalau tidak mau mendengar dan berpikir. Apalagi ujian akhirat yang abadi? Al-Qur'an sudah menjadi "kisi-kisi" terbaik yang dikirimkan Allah, maka sungguh jenaka sekaligus ajaib jika kita memilih mengabaikannya lalu berharap lulus ke surga.

3. Kesimpulan & Penutup

Sahabat sekalian, pesan moral yang tinggi dari ayat ini adalah panggilan untuk segera "bangun" dari tidur panjang kelalaian kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang baru menggunakan akal sehatnya secara jernih justru di saat fajar akhirat telah terbit, karena pada saat itu, kebenaran yang kita lihat hanya akan menjadi bahan bakar penyesalan.

Mari kita fungsikan kembali pendengaran kita untuk mendengarkan nasihat agama, dan gunakan akal kita untuk merenungi setiap langkah kaki kita. Sebelum napas berhenti di tenggorokan, dan sebelum jeritan "Seandainya dahulu kami mau mendengar..." menjadi kalimat pertama yang kita ucapkan di akhirat.

Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari kelalaian hati dan menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang bijaksana.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie