Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah, Pernahkah Anda membayangkan seseorang yang membeli mobil sport model terbaru yang sangat mewah dan mahal? Teknologinya canggih, mesinnya menderu dahsyat. Namun, ia nekat mengendarainya di malam hari yang gelap gulita, melewati hutan lebat dengan jalanan berliku tajam dan dikelilingi jurang sedalam ratusan meter.

Tiba-tiba... pet! Lampu utamanya padam total. Apa yang terjadi? Hanya tinggal menunggu waktu sampai mobil mewah itu terjun bebas ke dalam jurang kehancuran. Apakah mobilnya buruk? Tidak, strukturnya sangat kuat. Ia hancur murni karena satu hal: ia kehilangan sistem pencahayaan.

Begitulah gambaran hidup manusia. Sehebat apa pun jabatan, sepadat apa pun harta, dan secanggih apa pun isi kepala kita, tanpa adanya cahaya kebijaksanaan agama (iman dan ilmu), kita sedang mengendarai diri kita menuju jurang kebinasaan.

Secara psikologis, manusia yang berjalan tanpa kompas spiritual akan selalu didera kecemasan eksistensial. Mereka memiliki segalanya untuk hidup (fasilitas), tetapi tidak tahu untuk apa mereka hidup (tujuan). Agama hadir sebagai cahaya (nur) yang menyejukkan jiwa, menuntun akal agar tidak tersesat di tengah rimba dunia yang penuh tipu daya.

Allah SWT menggambarkan pentingnya cahaya petunjuk ini dalam Al-Qur'an:

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًا يَمْشِي بِهِۦ فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا

"Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?" (QS. Al-An'am: 122) (Nama surat & no ayat di bawah samping kanan)

Tanpa lentera agama, kita sejatinya sedang "berjalan dalam kegelapan". Rasulullah SAW juga telah memperingatkan kita agar selalu memohon perlindungan dari kegelapan hati melalui sebuah hadis:

ٱللَّهُمَّ ٱجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا

"Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya pada penglihatanku, dan cahaya pada pendengaranku." (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita buka lembaran akhirat yang penuh penyesalan. Di dalam Al-Qur'an, Allah mengabadikan sebuah ratapan yang sangat memilukan hati dari para penghuni neraka. Ketika mereka sudah dilemparkan ke dalam kobaran api yang menyala-nyala, penyesalan terbesar mereka bukanlah karena kurang kaya atau kurang pintar saat di dunia. Penyesalan mereka adalah karena tidak menggunakan akal dan telinganya untuk mencari "lentera" kebijaksanaan agama.

Mereka menangis, berteriak di tengah siksaan, sembari meratap: "Sekiranya dahulu kami mau mendengar atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala!" Sebuah penyesalan yang terlambat, sebuah tangisan darah yang tidak lagi berguna, hanya karena saat di dunia mereka bangga berjalan dalam kegelapan tanpa tuntunan ilahi.

Supaya kita tidak ikut meratap seperti mereka, mari kita buat analogi sederhana yang sedikit menggelitik.

Bayangkan Anda sedang tersesat di tengah hutan belantara pada malam hari. Anda membawa sebuah lentera kecil. Tiba-tiba, ada orang yang lewat membawa smartphone keluaran terbaru seharga puluhan juta rupiah, tapi baterainya 0% alias mati total.

Orang itu dengan sombongnya berkata, "Lihat nih, hp saya layarnya jernih, kameranya bisa zoom sampai ke bulan, harganya mahal!"

Anda mungkin hanya akan tersenyum simpul sambil membatin, "Biar harganya mahal, tapi kalau layarnya mati, hp-mu gak bisa dipakai buat nerangin jalan dari patukan ular siluman, Bambang!" Di tengah hutan yang gelap, lentera minyak tanah yang harganya murah jauh lebih menyelamatkan daripada gadget mewah yang mati total.

Jangan sampai kita seperti orang itu: sibuk memamerkan "casing" kehidupan yang mewah (mobil, rumah, gelar), tapi "baterai" iman dan lampu kebijaksanaan dalam jiwa kita kosong melongpong!

3. Kesimpulan & Penutup

Sahabat sekalian, pesan moral tingkat tinggi dari analogi ini sangat jelas: jangan pernah terpesona dengan kemewahan fasilitas hidup jika kita sendiri kehilangan arah dan tujuan hidup. Mobil mewah tanpa lampu utama hanya akan menjadi mesin pembunuh di kegelapan malam.

Mari kita sinari sisa umur kita dengan cahaya Al-Qur'an dan Sunnah. Isilah tangki kebijaksanaan kita setiap hari dengan ibadah, ilmu, dan amal saleh. Jangan tunggu sampai lampu kehidupan kita padam di tengah jalan, dan jangan sampai kita menjadi bagian dari mereka yang meratap di ujung jalan yang salah.

Semoga Allah selalu menyalakan lentera iman di dalam hati kita hingga kita selamat sampai ke jannah-Nya.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie