Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang hatinya dipenuhi cahaya iman, pernahkah kita bingung melihat fenomena ini: Ada orang yang bicaranya sangat puitis, retorikanya memukau, tapi kata-katanya cuma lewat begitu saja di telinga kita tanpa membekas. Sebaliknya, ada orang yang bicaranya sederhana, terbata-bata, namun entah mengapa langsung membuat air mata kita menetes dan mengubah jalan hidup kita. Mengapa bisa demikian?

Secara ilmiah psikologi spiritual Islam, sebuah ucapan yang baik tidak akan pernah memiliki "ruh" untuk menembus dan menggerakkan hati manusia lain, kecuali jika sang pembicara telah melakukan mujahadah terlebih dahulu. Mujahadah adalah perjuangan berat di balik layar untuk menyembelih hawa nafsu, kesombongan, dan ego pribadinya, agar kata-kata yang keluar murni karena Allah, bukan demi tepuk tangan manusia. Kata-kata yang keluar dari lisan hanya akan sampai ke telinga, tetapi kata-kata yang keluar dari hati yang telah ditaklukkan egonya, pasti akan menembus hati lagi.

Allah SWT mengisyaratkan pentingnya keselarasan jiwa dan perjuangan batin ini dalam Al-Qur'an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيهِمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad (berjuang bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami, Benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabut: 69)

Kekuatan ketulusan kata yang bebas dari ego ini juga dipertegas oleh Rasulullah SAW, bahwa keselamatan dan bobot ucapan seseorang tergantung pada bagaimana ia menjaga hatinya demi Allah:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) hendaklah ia diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan berharga untuk kita semua, terutama yang suka berbagi konten atau berbicara di depan publik: Sebelum sibuk memperbaiki retorika dan penampilan di depan kamera, sibuklah memperbaiki niat di dalam dada. Dakwah yang abadi bukanlah dakwah yang viral karena keindahan kata-katanya, melainkan dakwah yang diberkahi karena ketulusan pembuatnya yang telah berhasil membunuh keinginan untuk dipuji.

Mari kita kenang sebuah kisah mengharukan dari ulama besar, Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. Suatu hari, ada seorang ibu yang datang membawa anaknya yang sangat suka makan gula berlebihan hingga giginya rusak. Ibu ini memohon, "Wahai Syekh, tolong nasehati anak saya agar berhenti makan gula, karena kalau Anda yang bicara, dia pasti patuh."

Namun, Syekh Abdul Qadir mengejutkan ibu itu dengan berkata, "Pulanglah, dan kembalilah satu bulan lagi." Setelah satu bulan, ibu itu datang lagi. Syekh Abdul Qadir lalu memandang anak kecil itu dan hanya mengucapkan satu kalimat sederhana, "Wahai anakku, berhentilah makan gula berlebihan." Ajaibnya, anak itu langsung patuh.

Ibu itu bingung dan bertanya, "Kenapa harus nunggu satu bulan hanya untuk mengucapkan satu kalimat itu, wahai Syekh?" Beliau menangis meneteskan air mata lalu menjawab, "Satu bulan yang lalu, aku sendiri masih suka makan gula. Bagaimana mungkin kata-kataku bisa menyentuh hati anakmu, jika aku sendiri belum menaklukkan egoku untuk berhenti memakannya?" Sungguh, sebuah tamparan bagi kita yang hobi menasihati orang lain sebelum menasihati diri sendiri.

Supaya kita bisa merenung sambil tersenyum, mari kita bayangkan sebuah Pistol Mainan Anak-anak yang mengeluarkan peluru busa, dibandingkan dengan Senapan Serbu Sungguhan yang digunakan militer.

Ada orang yang bicaranya menggelegar, pakai mic mahal, pakai efek gema yang dahsyat, tapi hatinya penuh ego ingin dianggap hebat (ini ibarat pistol mainan plastik yang dicat mirip senjata asli). Kelihatannya seram, suaranya berisik, "Dor! Dor! Dor!", tapi pas pelurunya kena hati orang, cuma nempel busa, tidak ada efeknya sama sekali, malah bikin ketawa yang dengar.

Sebaliknya, ada orang yang bicaranya pelan, lembut, tidak pakai urat, tapi di malam hari dia menangis minta ampun sama Allah agar egonya dihilangkan (ini ibarat senjata dengan peluru tajam asli yang dilapisi peredam suara). Suaranya tidak terdengar, "fush...", tapi peluru ketulusannya langsung menembus jantung pertahanan hati yang mendengarkan, membuat orang langsung sadar dan bertobat.

Lucunya, kita zaman sekarang sering ketipu, sibuk beli "pistol mainan" yang tampilannya estetik dan instagramable buat dakwah, padahal yang kita butuhin adalah "peluru tajam ketulusan" yang bisa nembus ego penonton!

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, kesimpulannya, kekuatan sebuah kata tidak terletak pada indahnya susunan huruf di bibir, melainkan pada beratnya perjuangan melawan ego di dalam hati. Investasi dakwah yang abadi adalah ketika kita berani jujur pada diri sendiri dan murni karena Allah saat menyampaikan kebenaran.

Mari kita belajar menaklukkan ego kita masing-masing. Sebelum kita meluruskan orang lain dengan kata-kata kita, mari kita tekuk lutut kita di hadapan Allah untuk meluruskan niat kita sendiri. Semoga setiap untaian kata yang kita bagikan di media sosial ini tidak menjadi bumerang di akhirat, melainkan menjadi saksi investasi pahala yang terus mengalir abadi.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie