Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat Medsos yang hatinya selalu dinaungi rahmat Allah, pernahkah kita berpikir mengapa ada ucapan manusia yang tetap hidup, dibaca, dan mengubah jutaan jiwa meskipun sang pembicara sudah wafat ratusan tahun yang lalu? Mengapa kata-kata mereka seolah memiliki keabadian?
Secara ilmiah spiritual, Al-Qur'an membongkar rahasia ini melalui sebuah analogi botani yang luar biasa indah. Kata-kata yang benar, jujur, dan tulus (Kalimah Thayyibah) diibaratkan seperti sebuah pohon yang sempurna. Pohon ini memiliki sistem fondasi yang luar biasa: akarnya menghujam sangat dalam ke pusat bumi, batangnya kokoh menjulang tinggi menembus langit, dan ia tidak pernah egois karena selalu memproduksi buah kebaikan pada setiap musim dengan izin Tuhannya. Ketulusan niat di dalam hati adalah akar rahasianya, sedangkan perubahan perilaku manusia di dunia adalah buah-buah manisnya.
Mari kita rasakan kesejukan firman Allah SWT ini di dalam dada:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ . تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya." (QS. Ibrahim: 24-25)
Keabadian dampak dari kata-kata yang baik ini juga selaras dengan sabda Rasulullah SAW mengenai investasi pahala yang tidak akan pernah putus:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan besar untuk kita penghuni dunia maya: Jangan pernah meremehkan satu kalimat baik yang kita ketik atau kita ucapkan. Ketika Anda menulis komentar positif, membagikan nasihat, atau menghibur orang yang sedang jatuh dengan ketulusan, Anda sedang menanam bibit pohon abadi di langit. Jangan fokus pada berapa banyak "view" atau "like" di dunia, tetapi fokuslah pada seberapa dalam akar keikhlasan kita tertancap di hadapan Allah.
Mari kita tengok kisah menyayat hati tentang penulisan kitab paling sahih di muka bumi, Shahih Al-Bukhari. Imam Bukhari menghabiskan waktu 16 tahun untuk mengumpulkan hadis, dan setiap kali beliau akan menuliskan satu hadis ke dalam kitabnya, beliau akan mandi, berwudhu, dan shalat istikharah dua rakaat demi menjaga kesucian niatnya. Di masa tuanya, beliau sempat diusir dari kampung halamannya karena fitnah dan meninggal dalam kesendirian yang menyedihkan di sebuah desa kecil.
Secara kasat mata duniawi, akhir hidup beliau tampak tragis. Namun, karena setiap patah kata hadis yang beliau tulis didasari oleh ketulusan yang menghujam ke langit, kitab beliau abadi. Hari ini, setelah lebih dari seribu tahun beliau wafat, jutaan Muslim di seluruh dunia setiap hari mengucapkan, "Rawahu Al-Bukhari" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari). Jasad beliau sudah hancur bersatu dengan tanah, namun "pohon" kata-kata tulus yang beliau tanam terus berbuah pahala yang mengalir deras ke kubur beliau setiap detik.
Agar kita bisa memahaminya dengan rileks dan tersenyum, mari kita bayangkan dua orang yang sedang menanam sesuatu di pekarangan rumah mereka.
Orang pertama menanam Pohon Kurma atau Pohon Jati yang berkualitas tinggi. Menanamnya butuh perjuangan, dirawat dengan pupuk terbaik, dan tidak langsung tumbuh besar (ini ibarat kata-kata tulus yang butuh keikhlasan batin).
Orang kedua, karena ingin cepat kelihatan sukses di depan tetangga, dia tidak mau repot menanam. Dia malah beli Pohon Plastik Impor warna-warni yang ada lampu kelap-kelipnya, lalu dia tancapkan di tanah (ini ibarat kata-kata yang hanya mencari viral, sensasi, dan pujian manusia).
Awalnya, tetangga pada kaget, "Wah, estetik banget pohonnya, instagramable!". Tapi begitu sore hari datang angin puting beliung disertai hujan badai, pohon plastik itu langsung terbang entah ke mana, lampunya korsleting, dan menyisakan sampah yang bikin malu (ini ibarat konten sensasional yang cepat hilang ditelan zaman). Sementara pohon jati yang asli tetap berdiri tegak, makin kokoh diterpa angin, dan kelak anak cucunya bisa menikmati buah dan keteduhannya.
Lucunya, kita di medsos sering banget bangga pamer "pohon plastik kelap-kelip" yang tidak ada akarnya, cuma demi pujian sementara, padahal begitu badai ujian hidup datang, konten itu tidak bisa menyelamatkan mental dan pahala kita!
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian, kesimpulannya, mari kita menjadi petani-petani langit di media sosial. Jadikan setiap status, video, dan ketikan jemari kita sebagai kalimat yang baik (Kalimah Thayyibah). Ingatlah analogi dari Allah: akar yang kuat di bumi adalah keikhlasanmu, dan cabang yang menjangkau langit adalah berkah dari kata-katamu.
Pensiunlah dari membuat konten yang memecah belah atau sekadar mencari sensasi instan yang tidak ada akarnya. Mari kita investasikan sisa umur kita untuk menanam pohon-pohon kebaikan yang buahnya akan tetap bisa kita panen di alam kubur dan akhirat kelak, saat handphone dan akun medsos kita sudah lama dinonaktifkan oleh dunia.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie