Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah. Di dalam alam semesta ini, ada sebuah sistem raksasa yang bekerja secara ilmiah, aktif, efektif, dan tidak akan pernah bisa diintervensi oleh opini atau perdebatan manusia. Sistem itu bernama Sunnatullah (Hukum-Hukum Allah). Jika hukum gravitasi bumi membuat benda jatuh ke bawah tanpa peduli siapa yang menjatuhkannya, maka hukum spiritual Allah jauh lebih presisi: siapa pun yang nekat melanggar hak orang lain—baik karena didorong oleh keserakahan maupun ketidaktahuannya—maka kehancuran pasti akan mengetuk pintunya.

Hukum Allah tidak pernah mengantuk, tidak pernah beristirahat, dan tidak mengenal kata "kompromi". Allah SWT menegaskan kepastian hukum-Nya dalam Al-Qur'an:

فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَحْوِيلًا

Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi sunnatullah (hukum Allah), dan tidak pula akan menemui penyimpangan bagi sunnatullah itu." QS. Fatir 43)

Ketika seseorang menggunakan kekuasaan atau kebodohannya untuk menzalimi orang lain, ia sedang menantang sebuah kekuatan mahadasar yang sangat mengerikan. Allah SWT berfirman:

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

"Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras."( QS. Al-Buruj 12 )

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita melalui sebuah hadis ilmiah tentang bagaimana doa orang yang dizalimi menembus hukum langit tanpa bisa dihambat oleh apa pun:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

"Dan takutilah doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya tidak ada pembatas (hijab) antara doanya dengan Allah." (HR. Bukhari )

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan moral terbesar dari konsep ini adalah pentingnya memiliki self-control (pengendalian diri). Opini publik bisa kita manipulasi, hukum buatan manusia bisa kita beli, dan ketidaktahuan bisa kita jadikan alasan di dunia. Namun di hadapan Sunnatullah, setiap tindakan memiliki reaksi yang setara. Menyakiti sesama manusia adalah cara paling instan untuk mengundang kehancuran tak terbendung ke dalam hidup kita sendiri.

Ada sebuah kisah nyata yang menyayat hati tentang seorang petani tua di sebuah desa. Tanah satu-satunya yang ia miliki untuk menghidupi keluarganya diserobot secara paksa oleh seorang pengusaha kaya melalui dokumen palsu. Petani itu kalah di pengadilan dunia karena dia orang bodoh yang tidak tahu hukum pidana.

Saat buldoser meratakan tanaman padinya yang siap panen, petani tua itu tidak membalas dengan pukulan. Sambil menangis tersedu-sedu dan memeluk anaknya yang kelaparan, ia bersujud di atas tanah yang berlumpur itu lalu menengadahkan tangan ke langit: "Ya Allah, hamba tidak tahu cara menuntut keadilan di dunia, maka hamba serahkan urusan ini pada pengadilan-Mu yang tidak pernah tidur."

Hanya berselang beberapa bulan, Sunnatullah bekerja. Pengusaha kaya tersebut tiba-tiba mengalami kebangkrutan total akibat bencana tak terduga, dan seluruh hartanya habis tanpa sisa. Kejadian itu menyedihkan bagi sang pengusaha, namun menjadi bukti bahwa hukum langit tidak pernah libur.

Mari kita buat tamsilan yang agak jenaka tapi sarat akan hikmah. Bayangkan Anda sedang duduk santai, lalu seekor nyamuk hinggap di jidat Anda. Karena kesal dan merasa diri Anda jauh lebih kuat dari nyamuk, Anda mengumpulkan seluruh tenaga, lalu—PLAK!—Anda menampar jidat Anda sendiri dengan kekuatan penuh.

Nyamuknya mungkin terbang menghindar sambil tertawa, tapi jidat Anda sendiri yang benjol, merah, dan pusing tujuh keliling.

Nah, manusia yang menzalimi atau melanggar hak orang lain itu persis seperti orang yang menepuk nyamuk di jidat sendiri. Mereka mengira sedang menghancurkan orang lain yang lemah, padahal menurut hukum Sunnatullah, mereka sebenarnya sedang mengirimkan hantaman keras ke wajah dan masa depan mereka sendiri. Jadi, jangan bangga kalau sukses menyakiti orang; Anda sebenarnya sedang merancang "benjol" abadi untuk diri sendiri!

3. Kesimpulan dan Penutup

Sebagai kesimpulan, jangan pernah tertipu oleh keterlambatan datangnya azab Allah. Sunnatullah yang tidak pernah beristirahat sedang bekerja secara presisi di balik layar kehidupan kita. Jika hari ini kita menanam duri di jalan hidup orang lain, maka bersiaplah suatu hari nanti kaki kita sendiri yang akan menginjak duri tersebut dengan rasa sakit yang jauh lebih mengerikan.

Mari kita jaga tangan, lisan, dan tindakan kita agar tidak merugikan sesama. Jadilah manusia yang menebar manfaat, agar hukum alam yang berbalik kepada kita adalah hukum kasih sayang dan keberkahan dari Allah SWT.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie