Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah,

Dalam mengarungi kehidupan ini, memiliki harta, pekerjaan yang mapan, dan kesuksesan finansial bukanlah sebuah dosa. Namun, yang menjadi pembeda utama antara seorang mukmin yang bijaksana dengan manusia yang tersesat adalah di mana ia meletakkan dunia tersebut. Mari kita jujur pada diri sendiri, di manakah posisi dunia kita saat ini? Apakah di tangan atau di hati?

Ada dua tolok ukur yang sangat jelas untuk menilainya:

Dunia di Tangan (Terpuji): Terjadi ketika dunia dijadikan murni sebagai sarana atau alat untuk membeli kebahagiaan akhirat. Seseorang bekerja keras secara sukses, namun ketika dunia itu datang atau pergi dari hidupnya, mentalnya tidak goyah sedikit pun. Baginya, emas dan debu memiliki nilai yang sama jika hal itu berkaitan dengan urusan haram atau syubhat.

Dunia di Hati (Tercela): Terjadi ketika kesibukan mengejar harta, profesi, dan kesenangan duniawi mulai menggoda manusia untuk mengabaikan kewajiban agama. Ketika kita mulai berani melalaikan salat, menghentikan langkah menuntut ilmu, atau bahkan nekat menembus batas kedurhakaan demi materi, itulah tanda bahwa dunia telah merajai hati kita.

Secara psikologis dan spiritual, meletakkan dunia di tangan akan melahirkan ketangguhan mental (emotional resilience). Orang yang dunianya hanya di tangan tidak akan menderita stres berlebihan saat mengalami kerugian, karena ia tahu "pemilik asli" dari harta tersebut adalah Allah. Sebaliknya, menaruh dunia di hati akan merusak sistem imun spiritual kita, membuat kita menjadi hamba dari materi yang fana dan melupakan tujuan penciptaan kita.

Allah SWT mengingatkan kita dengan sangat tegas di dalam Al-Qur'an agar tidak menaruh dunia di dalam hati hingga melalaikan akhirat:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. Al-Munafiqun: 9)

Ketika dunia berhasil diletakkan hanya sebatas di tangan, maka kemuliaan sejati akan hadir. Rasulullah SAW memberikan wasiat emas agar kita selamat dari jerat duniawi melalui sabdanya:

ٱزْهَدْ فِي ٱلدُّنْيَا يُحِبَّكَ ٱللَّهُ

"Zuhudlah (jangan terikat) terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu." (HR. Ibnu Majah)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita kenang sebuah kisah mengharukan dari kehidupan para sahabat Nabi. Suatu ketika, Abdurrahman bin Auf—seorang konglomerat terkaya di Madinah—baru saja mendapatkan keuntungan besar dari kafilah dagangnya. Ratusan unta membawa barang-barang mewah masuk ke kota. Namun, saat mendengar sebuah hadis tentang beratnya pertanggungjawaban orang kaya di akhirat nanti, beliau langsung menangis tersedu-sedu di depan makanan baktinya.

Sambil meneteskan air mata, beliau berkata dengan suara bergetar, "Aku takut kekayaanku ini akan memperlambat langkahku masuk ke surga Allah." Hari itu juga, seluruh barang dagangan beserta unta-untanya beliau sedekahkan total untuk kaum muslimin di Madinah tanpa tersisa. Bagi Abdurrahman bin Auf, tumpukan emas yang melimpah itu nilainya sama dengan debu jalanan jika menghalangi jalannya menuju rida Allah. Sungguh sebuah ketulusan jiwa yang sangat menyentuh hati.

Nah, supaya kita bisa menilai diri kita sendiri dengan cara yang agak menggelitik, mari kita pakai tamsilan sederhana tentang kegunaan sebuah barang.

Pernahkah Anda memperhatikan fungsi dari sebuah sandal jepit? Sandal jepit itu tugasnya sangat mulia: melindungi kaki kita agar tidak terkena duri, kotoran, atau panasnya aspal jalanan. Letak sandal jepit itu di mana? Di bawah, di telapak kaki kita! Kita pakai dia berjalan ke mana-mana, tapi kita tidak pernah jatuh cinta setengah mati pada sandal jepit itu.

Bayangkan kalau ada orang yang meletakkan sandal jepit itu di atas kepalanya, lalu dipeluk-peluk, diciumin sepanjang jalan, dan kalau sandal jepitnya hilang sebelah, dia langsung menangis histeris seolah-olah dunia kiamat.

Lucu dan aneh, bukan? Begitulah orang yang meletakkan dunia di dalam hatinya! Dunia ini, seperti harta, jabatan, dan kendaraan, hakekatnya hanyalah "sandal jepit" kehidupan untuk mengantarkan kita melangkah menuju masjid, menuju majelis ilmu, dan menuju akhirat.

Mengapa saat "sandal jepit" dunia itu hilang atau berkurang, kita stresnya seperti orang hilang ingatan, sampai berani meninggalkan salat demi menjaga sandal jepit itu? Itu tandanya posisinya tertukar, sandal jepit yang harusnya di bawah kaki, malah kita masukkan dan bertahta di dalam hati kita!

3. Kesimpulan & Penutup

Sahabat sekalian, pesan moral yang tinggi dari tolok ukur ini adalah sebuah ajakan untuk menata ulang interior hati kita. Jadilah orang yang sukses, jadilah pengusaha yang kaya raya, jadilah profesional yang hebat di bidang Anda. Genggamlah dunia itu sekuat tenaga di telapak tangan Anda.

Namun, pastikan di dalam ruangan hati Anda, hanya ada Allah dan Rasul-Nya. Ketika dunia berada di tangan, Anda mengendalikannya untuk bersedekah dan beribadah. Ketika dunia itu diambil kembali oleh Allah, hati Anda tidak akan retak, karena Anda tahu emas dan debu nilainya sama saja di hadapan keabadian akhirat.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita agar tidak buta oleh kemilau dunia, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bijaksana

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie