Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, Kita harus menyadari sebuah catatan penting dalam dinamika dakwah hari ini: Umat Islam modern saat ini sudah jauh lebih kritis. Mereka tidak bisa lagi digerakkan hanya dengan untaian kata-kata indah yang berapi-api di atas mimbar. Umat saat ini belajar menggunakan mata mereka, yaitu dengan melihat bukti perilaku, bukan lagi sekadar menggunakan telinga untuk mendengar teori.
Oleh karena itu, kebutuhan umat terhadap figur penyeru atau dai yang tulus, aktif, dan disiplin dalam mempraktikkan ilmunya jauh lebih mendesak daripada kebutuhan terhadap orang-orang yang hanya berkutat pada fikih teoritis tanpa teladan konkret. Umat merindukan agama yang membumi dalam akhlak, bukan yang mengawang-awang dalam perdebatan.
Secara psikologis dan sosiologis, masyarakat modern mengalami kejenuhan terhadap informasi (information overload). Ketika semua orang bisa mengakses teks keagamaan lewat gawai mereka, nilai sebuah informasi lisan menjadi turun, sedangkan nilai sebuah keteladanan visual (behavioral modeling) menjadi sangat mahal. Islam sejak awal menempatkan keteladanan perilaku sebagai metode dakwah yang paling ilmiah dan menyejukkan jiwa, karena ia langsung menyentuh pusat kesadaran manusia tanpa sekat retorika.
Allah SWT memberikan teguran yang sangat mendalam bagi mereka yang hanya pandai berteori tetapi perilakunya bertolak belakang:
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 3) (QS. As-Saff: 3)
Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang jujur pada ilmunya. Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang pentingnya menjadi dai yang mengamalkan ilmu agar tidak menjadi golongan yang merugi di akhirat, melalui sabdanya:
يُجَاءُ بِٱلرَّجُلِ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ فَيُلْقَىٰ فِي ٱلنَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي ٱلنَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ ٱلْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ ٱلنَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ ٱلْمُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ ٱلْمُنْكَرِ وَآتِيهِ
"Seorang lelaki mendatangi Hari Kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, hingga usus perutnya keluar terburai. Lalu ia berputar-putar di dalam neraka seperti seekor keledai yang berputar mengitari alat penggilingannya. Penghuni neraka pun berkumpul mengelilinginya seraya bertanya: 'Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah dulu engkau sering memerintahkan kami berbuat makruf dan melarang kami dari kemungkaran?' Ia menjawab: 'Dulu aku memerintahkan kalian berbuat makruf, tapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan aku melarang kalian dari kemungkaran, tapi aku sendiri menerjangnya'." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita merenungkan sebuah kisah nyata yang menyayat hati tentang kerinduan umat terhadap ketulusan. Di sebuah daerah pascabencana yang masyarakatnya kehilangan tempat tinggal dan fasilitas sekolah, datanglah sekelompok orang yang membawa pengeras suara. Mereka berdiri di atas panggung darurat, lalu berceramah panjang lebar tentang dalil-dalil kesabaran, keutamaan tawakal, dan pahala menahan ujian. Namun, masyarakat mendengarkannya dengan tatapan kosong, dingin, bahkan ada yang menangis sedih karena merasa lapar dan telantar tanpa solusi nyata.
Di saat yang sama, datanglah seorang dai yang pendiam. Beliau tidak naik ke atas panggung dan tidak memegang mikrofon. Dengan pakaian yang sederhana, beliau langsung turun ke lumpur, menggendong kayu-kayu reruntuhan, membantu membersihkan puing-puing madrasah yang hancur, dan menyuapi anak-anak yatim yang kelaparan dengan tangannya sendiri hingga gemetar kelelahan.
Demi melihat tindakan nyata sang dai yang penuh peluh dan air mata ketulusan itu, seketika ket ketegangan masyarakat mencair. Mereka menangis haru, lalu serentak bangkit bersama-sama ikut membersihkan desa mereka tanpa perlu diperintah lagi. Tindakan nyata satu orang dai yang disiplin mempraktikkan ilmunya telah menyembuhkan luka mental umat, jauh lebih dahsyat daripada seribu rangkaian khotbah teoritis di atas panggung.
Supaya kita bisa memahami pergeseran cara belajar umat modern ini dengan senyuman cerdas, mari kita pakai tamsilan tentang "Instruktur Olahraga Online versus Atlet Nyata".
Bayangkan Anda ingin belajar cara membentuk tubuh agar sehat dan atletis. Lalu, Anda menonton sebuah video di media sosial yang menampilkan seorang pria, sebut saja namanya si Leman . Leman ini memakai jas rapi, duduk di kursi empuk sambil makan keripik kentang dan minum soda manis. Di depan kamera, Leman berpidato selama dua jam: "Bapak, Ibu, kalau mau sehat, kalian harus push-up 50 kali sehari! Harus lari subuh-subuh! Harus disiplin pantang makanan berminyak!" Tapi perut si Leman sendiri mohon maaf, makin hari makin maju ke depan seperti bemper truk.
Kira-kira, apakah Anda akan bersemangat mengikuti perintah Leman? Tentu tidak! Anda mungkin bakal berkomentar, "Ah, Leman... kamu aja nyuruh kita lari sambil rebahan, gimana kita mau percaya !"
Sekarang, coba bandingkan jika Anda melihat seorang instruktur lain yang tidak banyak bicara. Dia langsung menyalakan kamera, memakai baju olahraga, lalu melakukan gerakan push-up, mandi keringat, dan menunjukkan otot-ototnya yang terbentuk nyata dari hasil kedisiplinannya bertahun-tahun. Tanpa dia perlu teriak-teriak menyuruh Anda, mata Anda yang melihat bukti perilaku itu akan otomatis tergerak untuk bangkit dari kasur dan ikut berolahraga!
Lucu dan menyentil batin kita, bukan? Umat Islam zaman sekarang persis seperti penonton olahraga itu. Mereka sudah kenyang mendengar " Leman - Leman spiritual" yang jago berkhotbah tentang kebersihan hati di media sosial, tetapi di dunia nyata hobi pamer kemewahan, kasar pada sesama, dan haus akan pujian. Umat tidak butuh ditutup telinganya dengan teori; umat ingin dibuka matanya dengan melihat sosok dai yang raga dan akhlaknya mencerminkan isi Al-Qur'an secara nyata!
3. Kesimpulan & Penutup
Sahabat sekalian, pesan moral tingkat tinggi dari catatan penting hari ini adalah sebuah refleksi besar bagi kita semua, terutama bagi para pengemban dakwah: mari geser gaya beragama kita dari level pendengaran menuju level penglihatan. Berhentilah menjadi manusia yang hanya sibuk memproduksi wacana fikih teoritis, sementara lingkungan di sekitar kita merindukan aplikasi nyata dari nilai-nilai Islam tersebut.
Jika Anda mengunggah konten agama di media sosial, pastikan isi konten itu sudah mewujud terlebih dahulu dalam perilaku harian Anda di rumah dan di tengah masyarakat. Jadilah penyeru yang tulus, aktif, dan disiplin. Ketika umat melihat bahwa kejujuran, kerendahan hati, keadilan, dan belas kasih yang kita bicarakan adalah sesuatu yang benar-benar kita hidupi dalam keseharian, maka wibawa dakwah akan kembali tegak, dan hati manusia akan berbondong-bondong mendekat kepada rida Allah SWT.
Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari penyakit lisan yang tidak selaras dengan perbuatan, dan menggolongkan kita ke dalam figur penyeru yang tulus yang mampu menginspirasi umat dengan keindahan akhlak nyata.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie