Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Dalam psikologi sosial, terdapat fenomena yang disebut Self-Serving Bias, di mana seseorang cenderung melihat haknya lebih besar daripada hak orang lain, namun melihat kewajiban orang lain lebih besar daripada kewajiban dirinya. Jika ini terjadi dalam pernikahan, akan muncul ketimpangan emosional. Secara ilmiah, hubungan yang sehat membutuhkan Resiprositas (timbal balik). Ketika seorang suami memberikan apa yang ia tuntut dari istrinya, otak pasangan akan merespons dengan rasa aman dan penghargaan yang mendalam. Keadilan bukan hanya soal logika, tapi soal menjaga kesehatan mental dan stabilitas jiwa pasangan.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis :
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf." (QS. Al-Baqarah : 228)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ، كَمَا أُحِبُّ أَن تَتَزَيَّنَ لِي
"Sesungguhnya aku sangat suka berhias untuk istriku, sebagaimana aku suka dia berhias untukku." (HR. Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubra)
2. Pelajaran dan Pesan
Jangan menjadi suami yang "rasis" di rumah sendiri. Rasisme dalam rumah tangga adalah saat engkau merasa memiliki hak istimewa untuk dihormati, namun engkau meremehkan keluarga istrimu. Saat engkau menuntut istrimu tampil cantik dan wangi, namun engkau sendiri tampil kusam dan tak sedap dipandang di depannya. Moralitas tertinggi dalam Islam adalah menempatkan diri pada posisi orang lain. Apa yang engkau inginkan darinya, mulailah dengan memberikan hal yang sama kepadanya.
Ada seorang suami yang selalu pulang kerja dengan wajah ceria dan menyempatkan mandi serta memakai parfum terbaik sebelum menyapa istrinya, meski ia sangat lelah. Putranya bertanya, "Ayah, bukankah Ibu sudah biasa melihat Ayah kotor saat bekerja?" Sang Ayah menjawab, "Nak, ibumu telah berdandan cantik sepanjang hari untuk menyambutku. Sungguh rasis jika Ayah menyuguhkan aroma keringat dan wajah masam sebagai balasan atas keindahan yang ia berikan. Ayah ingin matanya hanya melihat yang indah dariku, sebagaimana mataku melihat keindahan darinya."
Pernikahan itu ibarat sebuah cermin. Jika engkau berdiri di depan cermin dan ingin melihat bayangan yang tersenyum, maka engkau harus tersenyum terlebih dahulu. Engkau tidak bisa cemberut di depan cermin lalu marah karena bayangan di dalamnya tidak tersenyum. Apa yang engkau berikan kepada istrimu, itulah "bayangan" yang akan dipantulkan kembali kepadamu. Jika engkau rasis dalam hak, maka jangan kaget jika cermin itu memberikan pantulan yang mengecewakan.
Seorang suami memprotes istrinya, "Ma, kok sekarang jarang dandan sih kalau di rumah?" Istrinya menjawab kalem, "Pa, kalau Mama dandan pakai bedak mahal dan parfum wangi, tapi yang nyambut cuma bapak-bapak pakai kaos oblong bolong dan bau minyak angin, itu namanya 'ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat dapur'. Kalau Papa mau Mama jadi bidadari, Papa juga jangan jadi 'tukang kebun' terus dong di rumah!" Hikmahnya: Jangan menuntut standar tinggi dari pasangan jika standar kita sendiri masih di bawah rata-rata.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , Kesimpulannya, berhentilah menjadi "rasis" dalam rumah tangga. Jangan mengklaim hak yang tidak ingin engkau berikan solusinya. Hormatilah keluarganya sebagaimana engkau ingin keluargamu dihormati. Berhiaslah untuknya sebagaimana engkau ingin ia cantik di matamu. Karena pernikahan Islami adalah tentang keadilan yang indah, di mana suami dan istri berlomba-lomba memberikan yang terbaik, bukan berlomba menuntut yang terbanyak.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie