Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Secara fitrah biologis dan psikologis, manusia diciptakan dengan ruang-ruang kosong dalam jiwanya yang tidak bisa diisi oleh dirinya sendiri. Pria memiliki sisi maskulin yang membutuhkan kelembutan afeksi untuk mendinginkan egonya, sementara wanita memiliki sisi feminin yang memerlukan perlindungan dan kepemimpinan untuk menumbuhkan rasa amannya. Dalam perspektif Desain Ilahi, ketimpangan ini bukanlah cacat, melainkan magnet. Proses saling melengkapi ini disebut Takamul. Ketika dua kutub yang berbeda ini bersatu, terjadilah sebuah fenomena psikis yang disebut Sakinah—sebuah kondisi tenteram di mana detak jantung dan gelombang otak melambat dalam harmoni yang damai.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis :
Allah Swt. menegaskan bahwa rasa cinta itu bukanlah kebetulan, melainkan hasil ciptaan-Nya:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya (wa ja’ala) di antaramu rasa kasih (Mawaddah) dan sayang (Rahmah).” [QS. Ar-Rum: 21]
Rasulullah ﷺ menggambarkan betapa indahnya ekspresi cinta itu:
لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ
“Kami tidak melihat (solusi) bagi dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” [HR. Ibnu Majah]
2. Pelajaran dan Pesan
Cinta batiniah itu penting, namun Mawaddah adalah kewajiban perilaku. Jangan biarkan pasanganmu menebak-nebak apakah kau masih mencintainya atau tidak. Allah menggunakan kata Wa Ja'ala (dan Dia menjadikan), yang artinya Allah telah menanamkan potensi itu, namun kitalah yang harus menumbuhkannya melalui senyuman, hadiah kecil, dan tutur kata yang lembut. Mengabaikan ekspresi cinta kepada pasangan adalah bentuk kurangnya syukur atas ayat-ayat Allah yang ada di dalam rumah kita sendiri.
Pernah terjadi, seorang suami kehilangan penglihatannya dalam sebuah kecelakaan. Beberapa tahun kemudian, sang istri mulai kehilangan kecantikannya karena penyakit kulit yang parah. Sang suami tetap memperlakukannya dengan sangat lembut, seolah sang istri adalah wanita tercantik di dunia. Saat sang istri meninggal, sang suami menangis dan barulah orang tahu bahwa selama ini suaminya sebenarnya sudah sembuh dan bisa melihat. Namun, ia berpura-pura tetap buta selama bertahun-tahun hanya agar istrinya tidak merasa malu atau rendah diri karena perubahan fisiknya. Itulah puncak dari Rahmah—kasih sayang yang melindungi kehormatan pasangan melampaui kepentingan diri sendiri.
Bayangkan sebuah rumah yang dibangun dari susunan bata. Bata itu kuat, namun ia tidak akan bisa menjadi dinding yang kokoh tanpa adanya semen. Pria dan wanita adalah bata-bata itu, sementara Mawaddah dan Rahmah adalah semennya. Tanpa semen, bata hanya akan bertumpuk namun mudah roboh saat ditiup angin konflik. Namun dengan semen "ciptaan Allah" ini, dua benda yang berbeda bisa menyatu menjadi satu bangunan kokoh yang mampu menahan badai musim apa pun.
Seorang suami berkata kepada istrinya dengan sok puitis, "Istriku, cintaku padamu itu seperti ayat Al-Qur'an, suci dan abadi." Istrinya menjawab pelan, "Bang, kalau cintanya sudah seperti ayat, tolong 'Mawaddah'-nya dipraktikkan. Ayat itu harus diamalkan, bukan cuma dibaca puitis tapi uang belanja masih 'Mad Thabi'i' (panjang sekali nunggunya) dan bantuan cuci piring masih 'Idgham Bilaghunnah' (hilang tanpa suara)!" Suami itu tertawa tersipu. Ingatlah, cinta batin itu urusan hati, tapi membantu istri di dapur adalah Mawaddah yang nyata.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , Sakinah (ketenangan) adalah tujuan, sedangkan Mawaddah (ekspresi cinta) dan Rahmah (belas kasih) adalah jalannya. Semuanya adalah anugerah besar yang diciptakan Allah (Wa Ja'ala) untuk kita syukuri. Jika hari ini rumah tanggamu terasa gersang, mungkin kita lupa meminta kepada Sang Pemilik Hati untuk menumbuhkan kembali Mawaddah di antara kita. Mari jadikan pasangan kita sebagai tempat pulang yang paling menyejukkan di tengah hiruk-pikuk dunia.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie