Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Ketenangan dalam sebuah rumah tangga bukanlah hasil dari tumpukan materi, melainkan hasil dari sinkronisasi jiwa. Secara psikologis dan sosiologis, kesetaraan atau Kafā'ah menciptakan frekuensi yang sama dalam berkomunikasi. Ketika terjadi ketimpangan yang terlalu tajam tanpa dibalut dengan iman, ego manusia cenderung menciptakan sekat bernama Ta’āli (kesombongan). Padahal, pernikahan adalah perjalanan dua orang yang saling menatap ke arah yang sama, bukan saling beradu tinggi untuk melihat siapa yang paling mendominasi.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis :
Allah Swt. mengingatkan kita untuk tidak berjalan di muka bumi dengan perasaan lebih tinggi dari yang lain:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." (QS. Al-Isra: 37)
Rasulullah ﷺ juga menekankan pentingnya karakter dan agama di atas segalanya:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
"Jika datang kepadamu seseorang yang engkau ridhai agama dan akhlaknya untuk melamar, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas." (HR. Tirmidzi)
2. Pelajaran dan Pesan
Kafā'ah (kesetaraan) bukanlah alat untuk mendiskriminasi mereka yang kurang mampu, melainkan sebuah bentuk kehati-hatian (ihtiyath) agar cinta tidak layu karena gesekan status. Namun, ingatlah bahwa setinggi apa pun status sosial atau pendidikanmu, ia tidak memberimu hak untuk merendahkan pasanganmu. Kehormatan seseorang tidak terletak pada apa yang ia miliki, tapi pada bagaimana ia memperlakukan orang yang "di bawahnya".
Bayangkan seorang suami yang bekerja keras sebagai buruh kasar, pulang dengan tangan kasar dan bau keringat. Di rumah, istrinya yang berasal dari keluarga ningrat dan berpendidikan tinggi tidak menutup hidung atau memalingkan wajah. Sebaliknya, sang istri mengambil air hangat, mencium tangan suaminya yang kasar, dan berbisik, "Terima kasih telah menjagaku dengan halal." Di saat itu, Ta'āli mati dan Sakinah bertahta. Keikhlasan sang istri meruntuhkan tembok kasta.
Pernikahan itu ibarat dua buah roda pada satu sepeda. Jika roda depan berukuran besar milik truk dan roda belakang berukuran kecil milik sepeda anak-anak, maka kayuhan akan menjadi berat, tidak stabil, dan mudah terjatuh. Kafā'ah berusaha menyamakan ukuran roda itu agar perjalanan menjadi halus. Namun, jika ukuran roda memang sudah berbeda sejak awal, maka "pelumasnya" adalah Tawāḍu' (rendah hati). Tanpa pelumas, gesekan akan menimbulkan api.
Ada seorang pria yang merasa sangat pintar dan berpendidikan tinggi, lalu ia selalu meremehkan istrinya yang "hanya" lulusan sekolah dasar. Suatu hari ia berkata sombong, "Dinda, kau ini beruntung punya suami cerdas sepertiku, kalau tidak, mungkin anak-anak kita tidak akan ada yang jadi orang." Istrinya tersenyum manis sambil menjawab, "Bang, kalau saya tidak sabar dan cukup 'bodoh' untuk mau menikah dengan abang yang sombong ini, mungkin abang masih jomblo sampai sekarang." Pria itu terdiam. Terkadang, orang yang merasa paling pintar lupa bahwa kesabaran pasangannya adalah kecerdasan yang jauh lebih tinggi.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , Sumber keretakan rumah tangga seringkali bukan karena kurangnya uang atau gelar, melainkan karena munculnya Ta’āli (merasa lebih tinggi). Kafā'ah adalah ikhtiar manusia untuk menyerasikan langkah, namun Tawāḍu' adalah kunci untuk menyatukan hati. Seorang penuntut ilmu yang sejati adalah kufu’ (setara) bagi siapa pun, karena ilmunya seharusnya melahirkan sifat rendah hati, bukan kesombongan. Mari kita bangun rumah tangga di atas fondasi takwa, bukan di atas tumpukan gengsi duniawi.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie