Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Secara psikologi sosial, setiap manusia membawa "ekosistem" budayanya masing-masing ke dalam pernikahan. Ketika dua ekosistem yang berbeda jauh bertemu—baik secara ekonomi, pendidikan, maupun strata sosial—muncul sebuah tantangan besar bernama adaptasi nilai. Ketimpangan yang tajam tanpa dibarengi kedewasaan mental seringkali melahirkan At-Ta'ālī atau rasa superioritas. Padahal, kebahagiaan sejati dalam rumah tangga tidak ditemukan pada "siapa yang lebih tinggi", melainkan pada "seberapa selaras" langkah keduanya dalam menapaki jalan kehidupan. Kafā'ah bukanlah tentang membatasi cinta, melainkan tentang membangun fondasi pemahaman yang setara agar komunikasi tetap mengalir sejuk tanpa ada hati yang merasa terintimidasi.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis :
Allah Swt. mengingatkan kita tentang asal-usul manusia agar tidak ada ruang bagi kesombongan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." [QS. Al-Hujurat: 13]
Rasulullah ﷺ juga menekankan pentingnya kesamaan visi dalam beragama:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
"Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau akan beruntung." [HR. Bukhari & Muslim]
2. Pelajaran dan Pesan
Harta bisa habis dalam semalam, gelar bisa usang dimakan zaman, namun kerendahan hati (Tawāḍu') adalah perhiasan abadi. Kafā'ah (kesetaraan) adalah langkah Adab sebelum akad. Ia adalah bentuk kehati-hatian agar kita tidak memberi beban kepada pasangan yang melampaui batas kesabarannya. Jangan biarkan nasab atau ijazahmu menjadi tembok penghalang bagi kasih sayang. Ingatlah, bahwa puncak dari ilmu adalah mengenal diri sendiri sebagai hamba, bukan merasa sebagai tuan di atas pasangan hidupmu.
Pernah dikisahkan seorang istri yang berasal dari keluarga bangsawan kaya raya, menikah dengan seorang penuntut ilmu yang sederhana. Suatu malam, saat sang suami sedang tertidur pulas karena kelelahan belajar, sang istri menatap wajah suaminya sambil menangis haru. Ia membisikkan doa, "Ya Allah, meskipun suamiku tak memberiku kemewahan seperti di rumah ayahku, namun bimbingannya telah membawaku lebih dekat kepada-Mu. Demi Allah, ilmu dan ketaatannya jauh lebih mewah dari segala emas yang pernah kumiliki." Inilah indahnya ketika iman menghapus sekat perbedaan status sosial.
Pernikahan itu ibarat sepasang sayap burung. Agar burung bisa terbang tinggi mencapai langit impian, kedua sayapnya harus memiliki kekuatan dan ukuran yang seimbang. Jika sayap kanan terlalu besar (misal: pendidikan terlalu tinggi namun sombong) sementara sayap kiri kecil dan lemah, maka burung tersebut hanya akan berputar-putar di tempat dan akhirnya jatuh ke bumi. Kafā'ah adalah upaya menyelaraskan kedua sayap itu, sementara Tawāḍu' adalah angin yang mengangkatnya terbang dengan tenang.
Ada seorang suami yang baru saja mendapatkan gelar Doktor, ia mulai merasa sangat pintar di rumah. Suatu hari ia berkata pada istrinya yang lulusan SMA, "Dinda, mulai sekarang panggil Abang dengan sebutan 'Doktor', ya. Supaya ada wibawa intelektual di rumah ini." Istrinya tersenyum sambil membawa piring berisi sambal terasi kesukaan suaminya dan menjawab, "Siap, Pak Doktor. Tapi mohon izin, menurut penelitian ilmiah di dapur tadi, kalau Pak Doktor makannya tidak pakai kerupuk, tingkat kecerdasannya bisa menurun 50% karena kurang garing!" Suami itu tertawa dan tersadar; setinggi apa pun gelarnya, di depan sambal terasi buatan istrinya, ia tetaplah seorang hamba yang butuh makan dan butuh perhatian.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , Secara hakiki, pemicu utama perselisihan bukanlah perbedaan angka di rekening atau lembar ijazah, melainkan racun kesombongan (Ta'ālī) yang menyelinap masuk. Kafā'ah adalah pagar pencegah, namun Tawāḍu' adalah obat penawar. Terutama bagi penuntut ilmu, mereka adalah kufu' bagi siapa pun, karena manhaj Allah telah mengajarkan mereka cara memuliakan manusia. Mari kita jadikan pernikahan sebagai tempat merunduk bersama di hadapan Sang Khalik, bukan tempat saling mendongak merasa lebih hebat.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie