Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Secara ontologis, eksistensi pria dan wanita berasal dari esensi yang satu. Dalam ilmu psikologi positif, kebahagiaan sejati tercapai ketika seseorang memahami tanggung jawab hidupnya. Allah tidak membedakan kapasitas ruhani antara pria dan wanita; keduanya memiliki "mesin" spiritual yang sama canggihnya untuk mencapai derajat takwa. Perbedaan fisik hanyalah instrumen fungsional, namun di hadapan hukum syariat (Taklif), keduanya adalah subjek yang setara. Wanita bukanlah pelengkap sejarah, ia adalah pembuat sejarah itu sendiri.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya." (QS. Ar-Rum: 21)
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR. Bukhari & Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Kesetaraan dalam Islam bukanlah tentang siapa yang paling kuat ototnya, tapi siapa yang paling kuat komitmennya terhadap syariat. Pria dan wanita memiliki "rapor" yang sama di hadapan Allah. Jangan rendahkan wanita karena ia di rumah, karena merawat rumah tangga adalah jihad yang setara dengan perjuangan pria di luar. Memuliakan wanita adalah tanda laki-laki yang terhormat, dan menghargai laki-laki adalah tanda wanita yang bermartabat.
Ingatlah kisah Asma binti Abi Bakar saat hijrah. Dalam keadaan hamil tua, ia mendaki tebing terjal untuk mengantar makanan bagi Rasulullah dan ayahnya di Gua Thaur. Ia tidak mengeluh tentang keterbatasan fisiknya sebagai wanita. Ia merasa memikul beban dakwah yang sama beratnya dengan para pria. Di sana kita melihat, bahwa tanggung jawab syariat telah menghapus rasa takut dan lelah, mengubah seorang wanita menjadi pilar kokoh tegaknya peradaban.
Pria dan wanita itu ibarat dua sayap burung. Jika sayap kanan kuat (pria dengan tanggung jawabnya) namun sayap kiri lemah (wanita yang tidak diberi ruang untuk bertumbuh), maka burung peradaban tidak akan pernah terbang tinggi. Burung itu hanya akan berputar-putar di tanah. Agar bisa terbang menuju rida Allah, kedua sayap harus mengepak dengan kekuatan yang sama, meski bentuk bulunya mungkin berbed
Seorang suami berkata, "Saya ini kepala keluarga, jadi saya yang memutuskan ke mana kita pergi!" Sang istri menjawab lembut, "Betul sayang, kamu kepalanya, tapi aku lehernya. Kepala tidak bisa menoleh kalau tidak digerakkan oleh leher." Ini hikmahnya: Dalam tanggung jawab, pria mungkin di depan sebagai nakhoda, tapi jangan lupa bahwa nakhoda yang cerdas selalu mendengarkan navigatornya. Tanpa kerja sama, kapal bisa menabrak karang karena ego!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari , Kesetaraan taklif adalah bentuk keadilan Allah. Wanita dibebani iman, Islam, dan tanggung jawab keluarga bukan sebagai beban, melainkan sebagai jalan menuju surga yang sama pintunya dengan pria. Mari kita berhenti berdebat tentang siapa yang lebih tinggi, dan mulailah bekerja sama untuk memenuhi tanggung jawab di hadapan Allah. Sebab pada akhirnya, yang ditanya bukan "Apakah kamu pria atau wanita?", tapi "Bagaimana kamu menjalankan amanah-Ku?".
Semoga Allah menguatkan pundak kita untuk memikul amanah iman ini.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie