Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddiamh
Dalam studi sosiologi keluarga, sebuah sistem akan stabil jika setiap anggotanya merasa memiliki nilai yang diakui (mutual recognition). Secara psikologis, menganggap pasangan jauh di bawah tingkat kita akan menciptakan hubungan yang toksik dan menekan kreativitas jiwa. Islam justru menawarkan konsep Keseimbangan Hak. Keharmonisan terjadi ketika suami dan istri sadar bahwa pemenuhan hak pasangan adalah nutrisi bagi kesehatan mental keluarga. Saat hak istri terpenuhi, ia akan memiliki cadangan energi emosional yang besar untuk memberikan kasih sayang terbaik bagi suaminya.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis :
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya."(QS. Al-Baqarah 228)
أَلَا إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا
"Ingatlah, sesungguhnya bagi kalian (suami) ada hak atas istri kalian, dan bagi istri kalian ada hak atas kalian (suami)."
(HR. Tirmidzi)
2. Pelajaran dan Pesan
Suami yang menganggap dirinya berada di "tujuh langit" sementara istrinya di "bumi" adalah suami yang belum paham hakikat pernikahan. Darajah (satu tingkat) yang diberikan Allah bukanlah tiket untuk menjadi tiran, melainkan beban tanggung jawab yang lebih besar. Hak dan kewajiban itu ibarat dua sisi koin; engkau tidak bisa menuntut hakmu dipenuhi jika engkau sendiri melupakan hak istrimu. Pernikahan adalah tentang kesetaraan dalam kemuliaan manusia, namun berbeda dalam pembagian peran.
Seorang ulama besar pernah ditanya, "Mengapa engkau begitu menghargai istrimu padahal engkau memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi darinya?" Beliau menjawab, "Ilmuku adalah untuk Allah, namun akhlakku adalah untuknya. Dia telah merelakan masa mudanya, kecantikannya, dan seluruh hidupnya untuk melayaniku. Jika Allah memberiku satu derajat kepemimpinan, maka derajat itu kugunakan untuk menjamin dialah wanita paling bahagia di dunia. Haknya atas perhatianku adalah hutang yang kubawa sampai mati."
Hubungan suami istri itu ibarat Mata dan Tangan. Saat tangan terluka, mata menangis. Saat mata menangis, tangan mengusap air matanya. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih penting. Satu tingkat kelebihan suami ibarat Kapten dan Co-Pilot; perbedaannya sangat kecil, hanya soal siapa yang memegang kendali akhir saat badai, namun keduanya adalah penerbang yang setara secara kualifikasi. Jika kapten merendahkan co-pilot, pesawat itu akan jatuh karena hilangnya kerja
Ada suami yang sangat kaku, selalu berkata, "Aku ini pemimpin, derajatku di atasmu! Kamu harus turuti semua kataku!" Istrinya tersenyum dan menjawab, "Benar Mas, kamu memang pemimpin. Tapi ingat, kalau kamu memimpin di langit ke tujuh dan aku di bumi, nanti kalau kamu lapar, siapa yang masakin? Memangnya kamu bisa minta tolong bidadari buat kirim nasi goreng pakai Grab-Food ke langit?" Sang suami langsung tertawa dan sadar bahwa derajat tinggi itu tidak ada gunanya tanpa dukungan "rakyat jelata" yang paling dicintainya di dapur.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, janganlah kejahilan menghalangi kita untuk memuliakan pasangan. Ingatlah bahwa hak istrimu adalah kewajibanmu, dan hakmu adalah kewajiban istrimu. Allah memberikan satu tingkat kelebihan bagi suami untuk mengayomi, bukan untuk menginjak. Mari bangun rumah tangga yang seimbang, di mana hak ditunaikan dengan senang hati dan kewajiban dijalankan dengan penuh cinta. Karena di situlah letak keberkahan yang hakiki.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie