Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Secara psikologi transpersonal, sebuah ikatan manusia memiliki "atmosfer emosional" yang sangat dipengaruhi oleh sumber nilai yang dianut. Ketika sebuah pernikahan dibangun di atas ketaatan, pasangan tersebut menciptakan koherensi jantung (heart coherence). Ketaatan menghasilkan ketenangan (sakinah), dan ketenangan menurunkan hormon stres (kortisol). Sebaliknya, kemaksiatan menciptakan kegelisahan batin yang secara ilmiah membuat seseorang lebih reaktif, mudah marah, dan sulit berempati. Itulah mengapa rumah tangga yang jauh dari Allah terasa "panas" secara psikologis, karena frekuensi ketaatan telah digantikan oleh turbulensi ego.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ
فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam?" (QS. At-Tawbah [9]: 109)
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ... ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ
"Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian mengutus pasukannya... Lalu salah satu dari mereka datang dan berkata: 'Aku tidak meninggalkannya sampai aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.' Maka Iblis mendekatkannya dan berkata: 'Engkaulah yang terbaik'." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Rumah tangga adalah benteng terakhir umat. Pesan moralnya sederhana namun dalam: Jangan mengundang musuh ke dalam rumahmu. Maksiat adalah surat undangan bagi setan untuk mengambil alih kemudi rumah tanggamu. Jika kita ingin Allah menjamin kerukunan kita, maka jangan biarkan ada ruang bagi hal-hal yang dimurkai-Nya. Keberkahan bukan soal seberapa besar rumahnya, tapi seberapa banyak Allah disebut di dalamnya.
Ada seorang suami yang sedang berada di puncak kemarahan pada istrinya. Ia sudah bersiap mengucapkan kata perpisahan. Namun, saat ia melihat istrinya sedang sujud dalam tahajud, menangis meminta ampun kepada Allah atas kekurangannya sebagai istri, hati suami itu luluh seketika. Amarahnya hilang berganti haru. Ia sadar, selama istrinya masih mencintai Allah, Allah-lah yang akan membolak-balikkan hatinya untuk kembali mencintai istrinya. Ketaatan istri tersebut menjadi tali yang mengikat kembali hati suaminya melalui perantara tangan Allah.
Pernikahan yang dibangun di atas ketaatan ibarat rumah yang didirikan di atas batu karang yang kokoh. Meski badai ekonomi atau ombak ujian datang, ia tetap tegak karena pondasinya tertanam dalam. Namun, pernikahan yang dibangun di atas maksiat ibarat istana pasir di tepi pantai. Kelihatannya indah dan megah, tapi begitu terkena riak kecil ujian, ia langsung hancur berserakan karena tidak ada "pengikat" yang kuat di dasarnya.
Seorang pemuda bertanya kepada ustadz, "Ustadz, kenapa ya setelah menikah istri saya jadi sering ngomel, padahal pas pacaran dia lembut sekali?" Ustadz menjawab sambil tersenyum, "Mungkin pas pacaran dulu kamu sibuk maksiat berdua, jadi setan diam saja karena sudah menang. Sekarang setelah nikah, setan baru kerja lembur buat bikin kalian berantem. Solusinya gampang: Perbanyak istighfar. Kalau kamu sibuk istighfar, setannya yang pusing dan pindah rumah ke tetangga sebelah yang jarang ibadah!"
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, pilihan ada di tangan kita. Ingin Allah yang menjamin keharmonisan kita, atau setan yang mengambil alih kemudi rumah tangga kita? Ketaatan adalah pelindung, sementara maksiat adalah lubang. Mari kita tutup setiap lubang maksiat dengan taubat, agar Allah Yang Maha Tinggi menjaga kerukunan kita hingga ke Surga-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie