Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang hatinya dirindukan surga,
Pernahkah terlintas di benak kita sebuah pertanyaan yang menggelitik: "Mengapa untuk melangkah ke masjid atau mencari sepiring rizki yang halal terasa begitu banyak batu sandungannya, sementara jalan menuju kemaksiatan dan rizki yang haram seolah dibentangkan karpet merah tanpa hambatan?"
Ketahuilah, ini bukan sebuah kebetulan. Ini adalah Sunnatullah—ketetapan Allah yang sengaja didesain sebagai instrumen ujian (ibtila’) untuk menyaring dan menguji siapakah di antara kita yang memiliki kualitas iman yang murni. Allah tidak melihat kuantitas hidup kita, melainkan kualitas ketakwaan kita.
Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2)
Desain ujian ini sangat nyata, dan Allah menegaskan dalam ayat lain bahwa di balik setiap dinamika kehidupan, ada tanda-tanda besar bagi orang-orang yang mau berpikir:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ وَإِنْ كُنَّا لَمُبْتَلِينَ
"Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan sesungguhnya Kami benar-benar menimpakan ujian." (QS. Al-Mu'minun: 30)
Secara psikologis dan spiritual, Allah sengaja menyembunyikan kemudahan di balik kesukaran jalan halal untuk menjaga kemurnian motivasi kita. Bayangkan jika rumusnya dibalik: yang halal dibuat selalu instan dan otomatis kaya, sedangkan yang haram dibuat rumit dan langsung miskin.
Jika demikian terjadi, maka manusia akan berbondong-bondong taat bukan karena cinta, takut, atau patuh kepada Allah, melainkan semata-mata karena mengejar fasilitas kemudahan duniawi tersebut. Keikhlasan akan sirna, dan esensi ibadah akan kehilangan maknanya yang paling dalam.
2. Pelajaran dan Pesan
Dari sunnatullah ini kita memetik pelajaran moral yang sangat tinggi. Di panggung dunia, kita sering menyaksikan paradoks materi yang kasat mata. Seorang pelaku maksiat—misalnya pemilik bisnis haram seperti klub malam atau rumah bordil—bisa mengeruk keuntungan jutaan hingga miliaran rupiah hanya dalam semalam dengan begitu mudahnya.
Namun di sudut lain, kita melihat seorang pekerja pos atau montir bengkel tua yang harus bermandikan oli, berlumuran lumpur, dan ditembus derasnya air hujan. Mereka memeras keringat dari pagi hingga petang hanya demi membawa pulang sebungkus nasi dan uang yang pas-pasan untuk keluarganya.
Secara lahiriah, dunia menganggap sang montir itu nista dan sang pemilik klub malam itu mulia karena hartanya. Namun di mata syariat, pelapisan lumpur fisik, noda hitam oli, dan basahnya keringat sang montir jauh lebih bersih, wangi, dan bercahaya daripada kemewahan meja kantor riba atau bisnis maksiat yang "kotor" di hadapan Allah SWT.
Ada sebuah kisah nyata tentang seorang supir angkutan umum tua di sebuah kota kecil. Suatu sore yang basah setelah hujan, ia menemukan sebuah tas kerja milik penumpang yang tertinggal di kursi belakang. Ketika dibuka untuk mencari identitas pemiliknya, matanya terbelalak. Tas itu penuh berisi lembaran uang tunai ratusan juta rupiah—jumlah yang bahkan tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya.
Saat itu, setan membisikkan kemudahan: "Ambil saja, ini kan rezeki nomplok. Anakmu butuh biaya kuliah, istrimu sedang sakit." Supir tua itu sempat bergetar, air matanya menetes memikirkan kesulitan hidupnya. Namun, mutiara hikmah di hatinya berteriak lebih kencang: "Ini bukan hakku!"
Dengan tubuh gemetar dan sisa tenaga yang ada, ia mengemudikan angkotnya mencari alamat pemilik tas tersebut hingga larut malam. Ketika tas itu diserahkan utuh, sang pemilik menangis haru dan mencoba memberikan seikat besar uang sebagai hadiah terima kasih.
Supir tua itu tersenyum menggeleng, air matanya menyeka pipi yang keriput, lalu berkata: "Jangan kurangi pahala kejujuran saya dengan uang ini, Pak. Saya hanya ingin memberi makan anak-istri saya dari uang yang jelas halal, bukan dari hak orang lain yang tertinggal."
Itulah keindahan jiwa yang lulus dari beratnya ujian jalan yang halal.
Mengapa emas dan berlian itu letaknya tersembunyi jauh di dalam perut bumi, harus digali dengan peluh, dan dilebur dalam suhu ribuan derajat celcius? Mengapa tidak tergeletak begitu saja di atas trotoar jalan? Jawabannya sederhana: karena ia bernilai tinggi.
Begitu pula dengan surga dan keridaan Allah. Jalan halal itu sengaja dibuat mendaki dan melelahkan karena ia adalah proses "peleburan" untuk membentuk mentalitas hamba yang mulia. Sementara maksiat dan jalan haram itu ibarat sampah plastik—ia ada di mana-mana, sangat mudah ditemukan di pinggir jalan, namun sama sekali tidak memiliki nilai di hadapan sejarah.
Kita ini kadang suka aneh kalau berpikir. Ada orang yang mengeluh: "Ustadz, saya ini sudah coba bisnis herbal yang halal, jujur, tapi kok untungnya lama banget ya? Sementara tetangga saya yang ikut investasi bodong dan jualan barang KW, kok cepat banget beli mobil baru?"
Saya bilang ke dia: "Saudaraku, Anda mau masuk surga atau mau masuk dealer mobil?"
Kita sering protes kepada Allah mengapa jalan yang benar itu macet dan banyak lampu merahnya. Padahal, lampu merah itu dipasang supaya kita tidak tabrakan dan selamat sampai tujuan! Kalau kita nekat memilih jalan tol kemaksiatan yang jalurnya mulus tapi ujungnya jurang neraka, jangankan mobil baru, iman kita pun ikut hancur lebur. Lagipula, buat apa naik mobil mewah kalau sepanjang jalan dikejar-kejar oleh "pajak" akhirat yang super ketat?
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian,kesulitan dalam menempuh jalan yang halal bukanlah tanda bahwa Allah tidak sayang kepada kita. Sebaliknya, itu adalah tanda bahwa Allah sedang menghargai setiap tetesan keringat kita dengan nilai yang sangat mahal. Jangan pernah iri dengan kemudahan yang didapatkan oleh para pelaku keharaman; kemudahan mereka adalah istidraj—jebakan berupa kenikmatan yang perlahan-lahan membawa mereka menuju kebinasaan.
Tetaplah bangga menjadi montir yang berlumur oli, tetaplah tegar menjadi pekerja yang letih, selama jalan yang kita tempuh berada di bawah payung rida Allah SWT. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan seberapa bersih harta itu saat dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie