Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Pernahkah Anda mencoba menguras seluruh air di samudra luas menggunakan sebuah mangkuk bakso yang kecil? Mustahil, bukan? Jangankan terkuras, mangkuknya pasti akan pecah karena tekanan air.

Anehnya, banyak di antara kita yang mencoba memasukkan keadilan Allah yang maha luas dan tak terbatas ke dalam "mangkuk kecil" bernama akal manusia, lalu ketika akalnya tidak sampai, mereka mulai meragukan keadilan Tuhan.

Secara matematis dan logika murni, sebuah sistem tidak akan pernah bisa diukur atau dibuktikan secara komprehensif oleh komponen yang berada di dalam sistem itu sendiri jika datanya tidak lengkap. Manusia dikepung oleh keterbatasan: kita tidak tahu masa lalu secara utuh, buta terhadap masa depan, dan tidak bisa membaca niat terdalam di hati manusia lain.

Maka, secara ilmiah, akal manusia tidak akan pernah mampu membuktikan keadilan Allah secara menyeluruh, kecuali jika manusia tersebut memiliki cakupan pengetahuan yang setara dengan Allah—yaitu mengetahui yang gaib, yang nyata, yang tersirat, dan yang tersurat. Keadilan Allah itu mutlak, tetapi instrumen ukur kita (akal) yang terlalu kerdil.

Mari sejukkan jiwa kita dengan merenungi firman Allah SWT tentang keterbatasan ilmu kita:

وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85)

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita melalui sebuah hadis qudsi yang sangat indah tentang betapa luasnya ilmu dan kekuasaan Allah dibandingkan dengan makhluk-Nya:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا ... يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

"Wahai hamba-Ku, kalau seandainya orang-orang pertama di antara kalian dan orang-orang terakhir, baik manusia maupun jin, mereka berada pada tingkat ketakwaan yang paling tinggi dari salah seorang di antara kalian, hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun... Wahai hamba-Ku, sesungguhnya ini adalah amal perbuatan kalian yang Aku catat demi kepentingan kalian, kemudian Aku balas dengan sempurna. Maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah dia memuji Allah; dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri." (HR. Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Sahabat, sifat Allah itu adalah Al-Halim (Maha Menunda hukuman bagi orang zalim agar mereka bertaubat). Allah menunda dengan penuh kesabaran yang menakutkan, tetapi Allah tidak pernah mengabaikan (Amanah/Mubashir). Ketika hukuman-Nya datang mendadak, itu bukan karena Allah tergesa-gesa, melainkan karena kuitansi dosa masa lalu baru saja jatuh tempo.

Mari kita renungkan sebuah kisah simbolis yang sarat akan makna mendalam: Kisah Burung Syuhah (sejenis burung elang/pemangsa) di masa Nabi Sulaiman 'alaihis salam.

Alkisah, ada seekor burung Syuhah yang sangat kejam. Setiap kali ia berburu, ia dengan sengaja menyambar anak-anak burung lain yang masih merah di sarangnya, lalu memakannya hidup-hidup di depan induknya yang menangis histeris. Bertahun-tahun burung Syuhah ini hidup makmur, gagah, dan seolah tidak tersentuh hukum alam. Induk-induk burung yang tertindas hanya bisa meratap ke langit, memohon keadilan. Akal makhluk melihat kejadian ini bertahun-tahun dan mulai bertanya: Di mana keadilan bagi burung-burung kecil itu?

Hingga pada suatu hari yang terik, burung Syuhah itu menyambar sepotong daging dari sebuah rumah yang sedang membakar sate. Ia tidak sadar, di dalam daging itu ada sebutir bara api kecil yang menempel. Ia membawa daging itu ke sarangnya yang megah untuk memberi makan anak-anaknya sendiri.

Begitu daging diletakkan, bara api itu membakar ranting kering sarangnya. Dalam sekejap, angin bertiup kencang dan api berkobar hebat. Burung Syuhah itu hanya bisa terbang berputar-putar di langit sambil menjerit histeris, menyaksikan sarangnya runtuh dan anak-anak tercintanya mati terpanggang menjadi abu di depan matanya sendiri. Ratapan pedih burung Syuhah hari itu sama persis dengan ratapan induk-induk burung yang dulu ia zalimi. Keadilan Allah datang terlambat di mata manusia, tapi datang tepat waktu di timbangan Allah.

Mari kita buat tamsilan yang agak jenaka. Bayangkan Anda sedang menonton sebuah film detektif yang sangat seru berdurasi dua jam. Baru menit ke-15, si penjahat utama menembak mati seorang polisi baik, lalu si penjahat berhasil kabur ke luar negeri dan hidup mewah.

Tiba-tiba, Anda berdiri dari kursi bioskop, melemparkan popcorn ke layar, dan berteriak marah: "Sutradara macam apa ini?! Film ini tidak mendidik! Penjahat kok menang, polisi baik kok mati! Saya mau pulang!"

Penonton lain pasti akan menertawakan Anda sambil berbisik: "Dasar amatir... Ini baru menit ke-15, jalannya cerita masih panjang. Duduk dulu, diam, tonton sampai menit ke-120, baru kamu tahu bagaimana kepala penjahat itu ditembak di akhir cerita!"

Begitulah kita dengan takdir Allah. Kehidupan dunia ini adalah film berdurasi panjang, sedangkan akal kita baru menontonnya sampai menit ke-15. Jangan lancang berteriak bahwa "Sutradara Alam Semesta" tidak adil hanya karena kita belum menonton akhir ceritanya.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, tugas kita sebagai hamba bukanlah membuktikan atau mengaudit keadilan Allah dengan akal kita yang cacat dan terbatas. Tugas kita adalah meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak pernah tidur, tidak pernah lalai, dan tidak pernah terburu-buru.

Jika hari ini Anda melihat kezaliman masih merajalela, atau Anda sendiri sedang dizalimi dan doa Anda belum dikabulkan, tenangkan jiwa Anda. Allah hanya sedang menunda untuk mengumpulkan seluruh "bab cerita" agar pembalasan-Nya menjadi sangat presisi dan sempurna. Jangan gunakan akalmu untuk meragukan Allah, tapi gunakan imanmu untuk bersabar menunggu akhir skenario-Nya yang menakjubkan.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie