Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Pernahkah Anda melihat seseorang yang sedang tekun bekerja, jujur, dan tidak sedang mengganggu siapa pun, tiba-tiba ditimpa kesialan yang besar? Di saat itu, logika awam kita mungkin akan memprotes, "Kenapa orang baik ini mendadak sial? Di mana keadilan Tuhan?"

Tunggu dulu. Jangan terburu-buru bingung. Mari kita bedah bagaimana Allah SWT mengelola keadilan di alam semesta ini menggunakan sebuah konsep yang sangat presisi: Sistem Rekening Giro Ilahi.

Secara ilmiah dalam sistem akuntansi modern, ada perbedaan antara pembukuan berbasis obligasi terpisah (isolated bonds) dengan rekening giro (current account). Dalam rekening giro, semua transaksi—baik setor tunai, transfer masuk, penarikan, maupun utang di tempat yang berbeda-beda—akan diakumulasikan ke dalam satu saldo tunggal yang utuh.

Begitulah cara Allah menilai kehidupan kita. Allah tidak mengadili manusia per kasus yang terisolasi di satu tempat saja. Seseorang mungkin tampak bersih di tokonya hari ini, tetapi saldo amal globalnya di tempat lain sedang mengalami "debit besar" akibat dosa tersembunyi. Ketika hukuman atau kesialan turun, itu bukanlah ketidakadilan, melainkan penagihan otomatis atas pelanggaran hukum Allah yang tercatat di halaman lain dalam buku amal yang sama.

Mari sejukkan jiwa kita dengan merenungi firman Allah SWT:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

"Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; jikalau (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, Pasti Kami mendatangkannya (pahala/balasannya). Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan." (QS. Al-Anbiya: 47)

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita melalui sebuah hadis yang sangat menggetarkan jiwa tentang konsep "rekening muamalah" antar-manusia yang bisa bangkrut:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ . فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

"Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab: "Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta benda." Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si ini. Maka diberikanlah sebagian kebaikannya kepada si ini dan sebagian lagi kepada si ini. Jika kebaikannya telah habis sebelum terselesaikan tuntutan atasnya, maka diambil lambat-laun dari dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Ada sebuah kisah nyata tentang seorang sopir taksi yang di jalanan dikenal sangat garang. Di balik pekerjaannya mencari nafkah, ternyata ia adalah seorang anak durhaka yang kerap memukuli ibu kandungnya yang sudah lansia hingga menangis di pojok kamar. Pada suatu malam, setelah kembali berbuat durhaka, ia menarik taksinya ke jalanan.

Secara tak terduga, ia dicegat oleh perampok berdarah dingin. Tragis dan menyedihkan, sopir taksi itu diekssekusi di tempat dengan sangat kejam. Orang-orang di sekitar tempat kejadian menangis melihat jasadnya, merasa iba pada seorang sopir taksi yang "sedang mencari nafkah halal" tapi bernasib malang. Mereka tidak tahu, di malam yang sama, air mata ibunya yang terzalimi baru saja mengetuk pintu langit. Kematian tragisnya di jalanan adalah eksekusi instan dari rekening giro dosanya yang sudah jatuh tempo.

Mari kita buat tamsilan yang sederhana. Bayangkan ada seorang pria bernama Pak Khalid . Siang hari, Pak Khalid ditilang polisi dan mobilnya disita saat dia sedang menyetir dengan sangat rapi, pakai sabuk pengaman, jalannya pelan, dan mematuhi lampu merah 100%. Netizen yang melihat pasti membela Pak Joko dan menghujat polisi: "Wah, polisinya zalim! Orang taat aturan kok ditangkap!"

Tapi, mari kita buka "Rekening Giro" Pak Khalid. Ternyata, malam sebelumnya, Pak Khalid ini baru saja menghadiri pesta maksiat, mabuk-mabukan, dan membawa kabur mobil sewaan orang lain tanpa bayar!

Pak Khalid ditangkap polisi bukan karena kesalahannya saat menyetir rapi di siang hari, tapi karena "tagihan" dosa mencuri mobil di malam harinya baru cair siang itu! Polisi lalu lintas itu, tanpa sadar, hanyalah alat yang dikirim takdir untuk menagih utang lama Pak Khalid.

Di sinilah kita belajar tentang sunnatullah: Orang zalim sering kali dijadikan alat pembalasan oleh Allah. Penjahat atau orang kejam (seperti pembunuh sopir taksi tadi) pada hakikatnya adalah "cambuk Allah" di bumi untuk mengeksekusi pelaku dosa lain yang rekening gironya sudah minus. Lalu apakah pembunuh itu bebas tugas? Tidak. Setelah tugasnya sebagai "cambuk" selesai, Allah pula yang akan membalas kezaliman sang penindas tersebut dengan hukuman yang setara.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, sistem keadilan Allah itu bekerja secara holistik, menyeluruh, dan tidak pernah salah alamat. Jika hari ini kita tertimpa kesialan padahal kita merasa tidak berbuat salah di tempat tersebut, jangan buru-buru menyalahkan takdir. Periksa kembali "rekening giro" amal kita. Jangan-jangan, itu adalah cicilan sanksi dari dosa-dosa masa lalu kita di tempat lain yang belum kita mintakan ampunan.

Maka, mari kita selalu menjaga setiap lembar halaman buku kehidupan kita agar tetap bersih. Ingatlah, setiap transaksi maksiat sekecil apa pun di sudut yang paling tersembunyi, kuitansi penagihannya bisa datang kapan saja, di mana saja, melalui perantara yang tidak pernah kita duga

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie