Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sedetik dalam hidup adalah rangkaian ketukan pintu pilihan. Kita memilih untuk melihat apa, mendengar apa, dan melangkah ke mana. Namun, tahukah kita apa puncak dari segala kebijaksanaan (hikmah) itu? Puncak hikmah bukanlah tumpukan teori di kepala, melainkan ketepatan dan ketajaman seorang hamba dalam menjatuhkan pilihan hidup yang benar di mata Allah.

Ketika Allah memberikan al-hikmah kepada seseorang, Dia sebenarnya sedang memberikan kemudi keselamatan di tengah badai duniawi. Mari kita renungkan firman Allah SWT berikut:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ وَإِنَّمَا يُؤْتَى الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

"Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS. Al-Baqarah: 269)

Pilihan kita hari ini adalah cermin dari kualitas spiritual kita. Rasulullah SAW, manusia paling bijaksana, pernah dihadapkan pada pilihan kosmik yang sangat menentukan. Beliau ditawari untuk menjadi "Nabi-Raja" seperti Nabi Sulaiman AS, atau menjadi "Nabi-Hamba".

Mari kita simak hadis yang menggetarkan jiwa ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ خُلِقَ قَبْلَ هَذِهِ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ عَبْدًا رَسُولًا

Dari Ibnu Abbas ia berkata: "Jibril duduk di samping Nabi SAW, lalu ia melihat ke langit tiba-kira ada malaikat yang turun. Jibril berkata: 'Malaikat ini tidak pernah turun sejak diciptakan sebelum saat ini.' Ketika malaikat itu turun, ia berkata: 'Wahai Muhammad, Tuhanmu mengutusku kepadamu, (untuk bertanya) apakah Dia akan menjadikanmu seorang Nabi-Raja atau seorang Hamba-Rasul?' Jibril memberi isyarat: 'Tawadulah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.' Maka Rasulullah SAW bersabda: 'Akan tetapi (aku memilih) menjadi seorang Hamba-Rasul'." (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain dijelaskan alasan agung di balik pilihan beliau: "Agar saat aku lapar aku bisa bersabar dan merenung mengingat Allah, dan saat aku kenyang aku bisa bersyukur." Sebuah pilihan yang mengutamakan keselamatan dan kedekatan kepada Sang Pencipta di atas segalanya.

2. Pelajaran dan Pesan

Pilihan Rasulullah SAW mengajarkan kita sebuah pesan moral yang tinggi: Kekayaan dan kekuasaan memiliki ruang kelalaian yang lebar. Di sana ada potensi kesombongan, ego, dan peluang membalas dendam yang jauh lebih besar. Orang yang bijaksana (shahibul hikmah) tidak akan silau oleh kemilau lahiriah. Mereka akan selalu memilih opsi hidup yang paling aman bagi keselamatan agamanya, meskipun secara kasat mata terlihat lebih sederhana, sunyi, atau penuh perjuangan.

Bayangkan sebuah malam di Madinah. Sang pemimpin besar, panglima perang yang disegani, dan utusan penguasa alam semesta, tidur di atas selembar tikar anyaman kurma yang kasar. Ketika beliau terbangun, bekas-bekas bilah tikar itu membekas merah di kulit punggungnya yang mulia.

Melihat pemandangan itu, sahabat Umar bin Khattab weeping—air matanya meleleh tidak tertahankan. Umar berkata dengan suara bergetar: "Wahai Rasulullah, para raja Romawi dan Persia tidur di atas sutra dan kemewahan, sementara Engkau kekasih Allah seperti ini?"

Rasulullah SAW tersenyum tenang, menyejukkan hati Umar yang gundah, lalu berkata: "Apakah kamu tidak rida wahai Umar, kalau dunia ini untuk mereka dan akhirat untuk kita?"

Itulah pilihan emosional yang lahir dari keluhuran jiwa. Beliau memilih menahan perihnya dunia demi menjaga kemurnian misinya.

Hidup ini bagaikan menakhodai sebuah kapal di tengah lautan gadget dan media sosial. Aplikasi dan tren hari ini menawarkan kita ribuan tombol "klik". Ada tombol yang membawa popularitas cepat tapi merusak moral, ada tombol yang menawarkan kekayaan instan tapi menghancurkan keberkahan.

Orang yang tidak memiliki hikmah akan menekan semua tombol yang tampak berkilau. Akibatnya? Kapal jiwanya karam menabrak karang ego. Namun, orang yang bijaksana bertindak seperti nakhoda yang memegang kompas syariat; ia hanya memilih rute yang aman, walau harus memutar jauh demi menghindari badai fitnah.

Kadang kita ini lucu. Di era modern ini, banyak orang yang kalau memilih menu makanan di aplikasi online, analisisnya bisa sampai setengah jam. Dilihat rating bintangnya, dibaca ulasan pembelinya, dihitung diskon ongkirnya sampai detail. Begitu teliti!

Tapi giliran memilih tontonan di media sosial, memilih ucapan yang mau diketik di kolom komentar, atau memilih jalan rezeki—seringkali main hantam saja tanpa mikir "rating"-nya di hadapan Allah SWT. Kita super teliti untuk urusan perut yang sifatnya sementara, tapi sering "pingsan" akal sehatnya saat memilih investasi untuk akhirat.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, esensi dari The Power of Choice—kekuatan memilih—bukanlah tentang seberapa banyak pilihan yang kita miliki, melainkan seberapa tepat kita memilih rute yang menyelamatkan iman kita. Jangan tukar keselamatan jangka panjang (akhirat) dengan kenyamanan jangka pendek (dunia). Ketika Anda dihadapkan pada dua pilihan yang membingungkan, pilihlah jalan yang paling menjaga ketakwaan Anda, yang paling membuat hati Anda tenang saat bersujud, bukan yang paling membuat Anda dipuji oleh manusia.

Semoga Allah SWT senantiasa mengaruniakan hikmah ke dalam hati kita, sehingga jemari kita, langkah kaki kita, dan keputusan-keputusan hidup kita selalu dibimbing di atas jalan keselamatan.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie