Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dicintai Allah, seringkali kita mengejar kecerdasan intelektual namun lupa mengejar kebijaksanaan (Al-Hikmah). Padahal, hikmah adalah cahaya yang membuat ilmu tidak hanya bersarang di kepala, tapi meresap ke dalam dada. Para ulama merangkum hakikat hikmah dalam tiga makna besar:
Pertama: Memahami Al-Qur'an. Bukan sekadar membaca, tapi mengerti mana yang halal dan haram, serta memahami perumpamaan yang Allah berikan. Hikmah adalah saat ayat-ayat itu mengubah perilaku kita.
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
"Dia (Allah) memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa dikaruniai hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak." (QS. Al-Baqarah: 269)
Kedua: Meneladani Jalan Kenabian. Imam Asy-Syafi'i menyebut hikmah adalah As-Sunnah. Orang yang bijaksana adalah mereka yang "frekuensi" jiwanya selaras dengan para Nabi—selalu terjaga dari maksiat karena rasa malu kepada Allah.
Ketiga: Akal Sehat yang Hakiki. Hikmah adalah kemampuan membedakan mana yang abadi dan mana yang fana, sehingga kita tidak melakukan sesuatu yang akan kita tangisi di masa depan. Rasulullah SAW bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
"Orang yang cerdas (bijaksana) adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." (HR. Tirmidzi no. 2459)
2. Pelajaran dan Pesan
Ada seorang ayah yang menghabiskan seluruh hidupnya mengumpulkan harta agar anaknya bisa kuliah di luar negeri. Namun, ia lupa mengajarkan satu hal: Hikmah Al-Qur'an. Saat sang ayah sakit sakaratul maut, sang anak pulang. Bukannya membimbing ayahnya membaca Laa ilaha illallah, sang anak justru sibuk menelepon pengacara untuk memastikan asuransi dan pembagian rumah mewah mereka. Sang ayah meninggal dalam linangan air mata, menyadari bahwa ia telah membangun istana untuk anaknya, tapi lupa membangun "iman" di dalam dada anaknya. Ilmu dunia diraih, tapi hikmah tak dimiliki. Itulah penyesalan yang tak berujung.
Hikmah itu ibarat "Rem" pada sebuah kendaraan yang melaju kencang. Setinggi apa pun jabatanmu dan secepat apa pun lari duniamu, jika kendaraanmu tidak punya rem, kamu pasti akan hancur di jurang kemaksiatan. Ilmu adalah mesinnya, tapi kebijaksanaan adalah remnya. Mesin membawamu pergi, tapi rem menyelamatkanmu dari kecelakaan.
Lucunya kita, kadang merasa paling pintar sedunia hanya karena gelar sudah berderet dari depan sampai belakang nama. Ada orang pintar, gelarnya mentereng, tapi tiap kali ada masalah sedikit langsung update status galau dan memaki-maki di media sosial. Ini ibarat orang yang punya kunci gudang emas, tapi dia sendiri tidur di emperan jalan karena lupa cara pakai kuncinya. Pintar teorinya, tapi "konslet" praktiknya. Akal sehatnya sedang "mudik" saat emosinya naik!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara yang berbahagia , kebijaksanaan adalah mahkota bagi seorang mukmin. Ia adalah perpaduan antara pemahaman Kitabullah, keteladanan Sunnah, dan kejernihan akal. Jangan sampai kita menjadi orang yang pintar bicara tapi tumpul rasa, atau pintar mencari dunia tapi buta jalan pulang ke surga.
Mari kita berdoa agar Allah tidak hanya memberi kita ilmu yang luas, tapi juga Al-Hikmah yang menuntun kita pada keselamatan. Sebab, orang yang paling malang bukanlah orang yang tidak punya harta, melainkan orang yang punya akal tapi tidak punya kebijaksanaan untuk mengenal Allah sebagai Tuhannya.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie