Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Mukaddimah

Secara sains komunikasi, sebuah hubungan yang sehat bukan berarti tanpa perbedaan, melainkan hubungan yang memiliki sistem "resolusi konflik" yang mumpuni. Berunding secara Ma'ruf (baik) melibatkan aktivitas otak di bagian Prefrontal Cortex yang bertanggung jawab atas kebijaksanaan. Ketika suami dan istri duduk berunding, mereka sedang menurunkan tensi emosional dan mengaktifkan empati. Secara ilmiah, jarak fisik yang dekat saat berdiskusi (tetap di dalam rumah) membantu pelepasan hormon oksitosin yang mampu melunakkan kekakuan hati, sehingga solusi lebih mudah ditemukan daripada saat saling menjauh.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ

"Dan berundinglah di antara kamu (tentang segala sesuatu) dengan baik."

(QS. At-Talaq [65]: 6)

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya."(QS. Al-Baqarah 228)

2. Pelajaran dan Pesan

Kepemimpinan suami dalam Islam bukanlah otoriterisme, melainkan tanggung jawab pelayanan. Satu tingkat perbedaan (Darajah) yang diberikan Allah kepada suami adalah derajat untuk mengayomi, bukan untuk menghakimi. Keindahan pernikahan terletak pada kerendahan hati untuk saling menasihati. Suami yang hebat adalah yang mau mendengar pendapat istrinya, dan istri yang mulia adalah yang mampu memberikan masukan dengan penuh kelembutan.

Seorang istri pernah merasa sangat kecewa dengan keputusan suaminya yang gagal dalam bisnis hingga tabungan mereka habis. Alih-alih pergi meninggalkan rumah, istri ini tetap di rumah dan berkata saat suaminya tertunduk malu, "Aku di sini bukan untuk menjadi hakim atas kegagalanmu, tapi untuk menjadi rekan diskusimu. Allah menyuruh kita berunding, mari kita mulai lagi dari titik ini." Suaminya menangis haru, menyadari bahwa kehadiran istrinya di rumah saat badai adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada uang yang hilang.

Hubungan suami istri ibarat Pilot dan Co-Pilot dalam satu kokpit. Keduanya memiliki kemampuan yang sama dalam mengemudikan pesawat kehidupan. Co-pilot bukan bawahan yang tak tahu apa-apa, ia adalah rekan ahli. Namun, dalam keadaan kritis, harus ada satu tangan yang mengambil keputusan akhir agar pesawat tidak goyah. Itulah Darajah—hanya beda satu tingkat fungsional demi keselamatan seluruh penumpang (keluarga), bukan beda derajat kemanusiaan.

Ada seorang suami yang ditanya, "Kenapa kamu selalu berunding dulu sama istri sebelum beli apa pun?" Suami itu menjawab, "Al-Qur'an kan bilang Wa'tamiru (berundinglah). Jadi kalau saya mau beli motor baru, saya rundingkan dulu." "Terus kalau istrinya nggak setuju?" "Ya itu gunanya berunding, saya harus menyiapkan pidato sepanjang 3 jam demi meyakinkan dia. Kalau gagal juga, berarti derajat saya sebagai 'Kapten' sedang diuji untuk tetap sabar naik motor lama!"

Hikmahnya: Berunding itu cara Allah agar suami tidak "offside" dalam mengambil keputusan.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia ,Rahasia keutuhan perkawinan adalah jangan biarkan ego memutus komunikasi. Tetaplah di dalam rumah, berhiaslah untuk pasanganmu, dan duduklah bersama untuk berunding. Masalah yang besar akan menyusut saat dua hati mau saling meSndengar. Jadikanlah rumahmu sebagai kokpit yang aman, di mana setiap krisis diselesaikan dengan diskusi yang penuh kasih sayang karena Allah.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie