Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, …..Pernahkah kita merasa lelah mengejar dunia? Berlari tanpa henti, namun jiwa tetap merasa hampa. Mengapa? Karena kita sering kali salah menilai apa yang berharga di mata Sang Pencipta. Kita menyangka puncak kesuksesan adalah harta yang melimpah dan jabatan yang mentereng. Padahal, ada satu aset maha besar yang jika kita memilikinya, kita telah menggenggam kebaikan paling utuh di alam semesta. Aset itu bernama Al-Hikmah—kebijaksanaan.
Mari kita renungkan bagaimana Allah SWT memandang nilai sebuah kebijaksanaan dalam Firman-Nya:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ وَالْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
"Dia (Allah) memberikan hikmah (kebijaksanaan) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa dikaruniai hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak (melimpah). Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat."(QS. Al-Baqarah: 269)
Secara ilmiah psikologi dan spiritual, orang yang memiliki hikmah tidak akan mudah stres oleh guncangan hidup. Mengapa? Karena mereka memandang dunia dengan kacamata iman.
Rasulullah SAW juga menegaskan betapa utamanya orang yang diberikan kebijaksanaan oleh Allah hingga kita diperbolehkan memiliki rasa "iri" yang positif (ghibthah) kepada mereka:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
"Tidak boleh ada hasad (iri hati) kecuali pada dua perkara: (pertama) seorang yang Allah anugerahi harta lalu ia habiskan harta itu di jalan yang benar, dan (kedua) seorang yang Allah anugerahi hikmah (kebijaksanaan) lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Bayangkan sebuah kisah nyata yang sering kita lihat di sekitar kita. Seorang miliarder tua yang terbaring lemah di ruang ICU sebuah rumah sakit mewah. Di luar ruangan, anak-anaknya justru sibuk bertengkar memperebutkan tanda tangan warisan. Sang ayah menangis di balik masker oksigennya, menyadari bahwa seluruh triliunan rupiah yang dia kumpulkan seumur hidup tidak bisa membeli ketulusan hati anak-anaknya, bahkan tidak bisa membelikan satu tarikan napas yang lega. Saat ajal menjemput, semua kemewahan itu terputus. Sungguh tragis, mengumpulkan harta seumur hidup, tapi mati dalam kesendirian jiwa.
Allah SWT sudah mengingatkan betapa kecilnya nilai dunia yang dikejar mati-matian itu:
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا
"Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sedikit (remeh), dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.'" (QS. An-Nisa: 77)
Mari kita buat sebuah perumpamaan. Bayangkan Anda sedang naik pesawat dari Jakarta menuju London. Di dalam pesawat, pramugari memberikan fasilitas bantal yang empuk, makanan yang enak, dan selimut yang hangat. Apakah Anda akan membongkar kursi pesawat itu dan berniat membawanya pulang ke rumah? Tentu tidak! Anda tahu semua itu hanya fasilitas "sementara" selama perjalanan. Rumah Anda yang asli ada di tempat tujuan.
Dunia ini adalah pesawatnya, dan akhirat adalah rumah kita. Orang yang bijaksana (punya hikmah) akan menikmati fasilitas dunia secukupnya untuk sampai ke tujuan, bukan malah sibuk menggenggam kursi pesawat sampai lupa cara mendarat dengan selamat.
Lucunya kita manusia ini, kadang tingkat "kehilangan kebijaksanaan" kita sudah di luar nalar. Kita sering menangis histeris kalau kehilangan smartphone yang harganya 5 juta, tapi kita santai-santai saja dan malah tertawa saat kehilangan waktu salat subuh atau kehilangan adab kepada orang tua.
Ada orang yang saking terobsesinya dengan dunia, waktu ditanya, "Bro, kalau kaya nanti mau beli apa?" Dia jawab, "Mau beli pulau!" Pas ditanya lagi, "Kalau udah mati mau dikubur di mana?" Dia bingung, baru sadar kalau pulau yang dia beli tidak bisa dibawa masuk ke dalam liang kubur berukuran $2 \times 1$ meter. Kan kocak ya? Punya cita-cita beli pulau, tapi tanah yang bakal ditempati selamanya malah lupa disiapkan.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara yang berbahagia , kekayaan materi bersifat bersyarat dan akan punah. Ia akan terputus begitu kain kafan membalut tubuh kita. Namun, kebijaksanaan—kemampuan memandang dunia sebagai tempat menanam dan akhirat sebagai tempat memanen—adalah karunia abadi. Orang yang bijaksana adalah orang yang terkaya, karena hatinya selalu merasa cukup dengan pemberian Allah (qana'ah).
Mari kita berdoa agar Allah senantiasa mengaruniakan kita Al-Hikmah, agar kita tidak tertipu oleh dunia yang "sedikit" ini, dan mampu mengumpulkan bekal yang "melimpah" untuk akhirat nanti.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie