Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita mendengar seseorang yang terjebak maksiat lalu dengan entengnya berkata, "Ya mau bagaimana lagi, ini kan sudah takdir Allah. Saya dipaksa begini."?
Pandangan fatalisme (Jabariyah) atau takdir paksaan seperti ini adalah sebuah kekeliruan besar yang merusak logika keimanan. Bagaimana mungkin Allah yang Maha Adil memaksa seorang hamba menjadi kafir atau bermaksiat, lalu setelah itu Allah menyiksanya di neraka? Itu adalah tuduhan keliru yang menganggap Allah berbuat zalim. Pandangan pasrah tanpa usaha ini justru menyerupai keyakinan kaum musyrik zaman dahulu yang ditegur keras dalam Al-Qur'an:
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ
"Orang-orang musyrik akan berkata, 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan apa pun.'" (QS. Al-An'am: 148)
Faktanya, Allah SWT tidak menciptakan kita seperti robot atau boneka tali. Allah membekali manusia dengan modal paling istimewa: Kehendak Bebas (Ikhtiyar) untuk memilih jalan hidupnya sendiri, apakah ia ingin menjadi hamba yang bersyukur atau hamba yang ingkar.
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
"Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan (yang lurus); ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur." (QS. Al-Insan: 3)
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
"Dan katakanlah (Muhammad), 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.'" (QS. Al-Kahf: 29)
Oleh karena itu, secara ilmiah dan syar'i, segala petaka, dosa, dan kehancuran moral yang terjadi di atas bumi ini bukanlah kezaliman Allah, melainkan murni akibat dari pilihan bebas dan perbuatan tangan manusia itu sendiri.
2. Pelajaran Dan Pesan Moral
Kebebasan memilih adalah kehormatan yang Allah berikan kepada kita. Mengakui ikhtiyar artinya kita siap mengambil tanggung jawab penuh atas hidup kita. Jangan pernah menjadikan takdir sebagai "kambing hitam" atas kemalasan atau kemaksiatan yang kita pilih secara sadar.
Bayangkan perasaan seorang ayah yang bekerja keras memeras keringat demi membelikan laptop baru untuk anaknya agar bisa kuliah dengan baik. Namun, di belakang ayahnya, anak itu justru menggunakan laptop tersebut untuk bermain judi online dan menonton hal-hal yang merusak moralnya hingga masa depannya hancur. Saat ditangkap, sang anak menangis dan menyalahkan ayahnya: "Ini salah Ayah! Kenapa Ayah kasih saya laptop ini?" Sungguh menyayat hati. Sang ayah memberikan fasilitas sebagai bentuk kasih sayang dan kepercayaan, namun sang anak menyalahgunakannya untuk menghancurkan diri sendiri. Begitulah analogi kita dengan Allah; Allah berikan kita modal umur, kesehatan, dan akal untuk kebaikan, tetapi sering kali manusia memilih jalan maksiat lalu menyalahkan takdir Ilahi.
Ada sebuah kisah jenaka penuh hikmah tentang seorang pencuri sandal di teras masjid yang tertangkap basah oleh marbot. Saat diinterogasi dan hendak dipukul, si pencuri membela diri dengan gaya teologis: "Tunggu Pak Marbot! Jangan pukul saya! Tolong hargai takdir. Saya mencuri sandal ini sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh, ini murni takdir paksaan dari Allah, saya tidak punya pilihan!" Sang marbot tersenyum tipis, lalu tanpa ragu langsung mengayunkan tongkat kayunya ke betis si pencuri: Bakk! Si pencuri berteriak kesakitan, "Aduh! Kenapa kamu pukul saya?!" Marbot menjawab dengan santai, "Jangan salahkan saya, dong. Pukulan saya ke kaki kamu ini juga sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Ini takdir paksaan dari Allah, saya cuma menjalankan takdir saja!"
Hikmahnya: Kita selalu tahu cara menggunakan logika "pilihan bebas" saat urusan dunia. Kalau kita lapar, kita memilih cari makan, bukan pasrah menunggu nasi jatuh dari langit atas nama takdir. Maka gunakan pula logika cerdas itu untuk memilih taat dan menjauhi maksiat!
3. Kesimpulan Dan Penutup
Saudara yang berbahagia, Allah Maha Adil dan bersih dari sifat menzalimi makhluk-Nya. Surga atau neraka yang akan kita huni kelak adalah hasil dari rangkaian keputusan-keputusan kecil yang kita pilih secara sadar di dunia ini melalui kemudi bernama ikhtiyar. Allah telah membentangkan petunjuk-Nya, sekarang keputusan ada di tangan kita.
Mari kita berhenti menyalahkan keadaan dan takdir atas dosa serta kegagalan hidup kita. Jemputlah takdir terbaikmu dengan memilih langkah kaki yang benar hari ini. Segala kebaikan datang dari Allah SWT, dan segala kesalahan berasal dari kelemahan pilihan kita sendiri.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie