Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Pernahkah Anda melihat orang yang gemar berbuat zalim, hobi menyakiti sesama, atau pamer harta hasil korupsi, tetapi hidupnya tampak adem ayem, sehat walafiat, dan semakin makmur? Di sisi lain, ada orang saleh yang hidupnya lurus, tapi ujiannya datang bertubi-tubi sampai habis-habisan.

Melihat pemandangan ini, tak jarang akal kerdil kita mulai goyah dan bertanya, "Ya Allah, mengapa yang jahat justru makin jaya, sementara yang baik makin menderita? Di mana keadilan-Mu?"

Ketahuilah, jika pertanyaan itu terbersit di benak kita, itu tanda bahwa kita sedang menderita "penyakit kurang piknik" secara spiritual. Kita lupa bahwa Allah memiliki sifat Al-Halim—Maha Menunda hukuman, tetapi tidak pernah meloloskan kezaliman.

Secara ilmiah dalam ilmu manajemen risiko dan audit operasional, ada istilah yang disebut deferred billing atau penundaan tagihan. Sebuah sistem yang canggih tidak akan menagih kesalahan setiap detik, melainkan mengumpulkan seluruh rekam jejak pelanggaran hingga batas waktu tertentu, lalu mengeluarkan satu tagihan raksasa yang tidak bisa didebat.

Dalam syariat Islam, penundaan takdir ini disebut dengan istilah Istidraj bagi pelaku dosa, dan Ibtila' (ujian penaikan kelas) bagi orang beriman. Allah memberikan kelonggaran waktu (tangguh) kepada orang zalim bukan karena Allah lupa atau membiarkan mereka, melainkan agar dosa mereka genap dan tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk mengelak di hadapan mahkamah akbar kelak.

Mari kita sejukkan jiwa dan tenangkan hati dengan merenungi firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

"Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberikan tenggang waktu kepada mereka hanyalah supaya dosa mereka bertambah; dan bagi mereka azab yang menghinakan." (QS. Ali 'Imran: 178)

Rasulullah SAW juga memberikan penjelasan ilmiah yang sangat gamblang mengenai fenomena "pembiaran" ini dalam sebuah hadis yang mulia:

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ

"Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan kelonggaran waktu bagi orang yang zalim. Namun, apabila Allah telah mengazabnya (menindaknya), maka Dia tidak akan meloloskannya sedikit pun." (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Prinsip utama bagi seorang mukmin adalah menanamkan keyakinan kokoh bahwa keadilan Allah itu bersifat mutlak. Tugas kita di dunia ini bukanlah menjadi "hakim takdir" yang sibuk mengaudit mengapa orang lain ditimpa kemalangan atau mengapa penjahat belum dihukum. Tugas terbesar kita adalah Muhasabah—selalu kritis, mengaudit, dan mengoreksi kesalahan diri sendiri agar derajat kita semakin tinggi di sisi Allah SWT.

Ada sebuah kisah nyata tentang seorang saudagar kaya yang sangat kikir dan angkuh. Ia memiliki sebidang tanah luas dan dengan sewenang-wenang menggusur gubuk bambu milik seorang janda tua lumpuh yang tinggal bersama anak yatimnya yang masih kecil, hanya demi memperluas area parkir usahanya. Janda tua itu menangis di atas tanah berlumpur, memeluk anaknya, dan berdoa tanpa suara ke langit.

Tahun demi tahun berlalu, usaha sang saudagar semakin menggurita. Orang-orang di kampung itu mulai berbisik sinis, "Lihat si saudagar, makin zalim makin kaya, doa janda tua itu tidak mempan." Namun, Allah sedang menenun takdir-Nya dalam diam.

Tepat sepuluh tahun kemudian, sang saudagar menginvestasikan seluruh aset kekayaannya ke dalam satu proyek raksasa. Secara tak terduga, proyek itu terseret kasus penipuan global skala besar. Dalam semalam, seluruh pabriknya disita negara, rekeningnya dibekukan, dan ia dinyatakan bangkrut total. Akibat syok berat, sang saudagar terserang stroke mendadak hingga seluruh tubuhnya lumpuh. Tragis dan menyedihkan, ia kini menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda di sebuah panti jompo, persis seperti kondisi janda tua yang dulu diusirnya. Allah menundanya sepuluh tahun, tetapi tagihan keadilan-Nya cair tanpa kurang satu persen pun.

Mari kita buat tamsilan yang agak jenaka untuk menyentuh logika kita. Bayangkan Anda sedang mengendarai sepeda motor di jalan raya. Tiba-tiba, ada seorang pengendara motor lain yang ngebut kesetanan, tidak pakai helm, menerobos lampu merah, dan melaju sambil mengangkat roda depannya (standing) dengan sombongnya.

Melihat itu, Anda langsung bersungut-sungut marah, "Wah, tidak adil ini! Saya yang taat aturan, pakai helm dobel, jalannya pelan, malah kena macet. Dia yang melanggar kok lancar jaya tanpa hambatan? Polisi pada ke mana sih?!"

Sambil mengomel, Anda terus berkendara sejauh satu kilometer ke depan. Tiba-tiba di kelokan jalan, Anda melihat pengendara motor yang sombong tadi sudah nyungsep dengan sukses di dalam parit berlumpur, motornya ringsek, dan dia sedang diomeli oleh pak polisi yang rupanya sudah berjaga di ujung jalan.

Di momen itu, apakah Anda akan ikut nyemplung ke parit untuk menemani dia? Tentu tidak, bukan? Anda pasti akan tersenyum kecil sambil membatin, "Oh... ternyata polisinya tidak tidur, mereka cuma nunggu di tikungan depan."

Begitulah takdir. Orang yang berbuat dosa dan kezaliman itu ibarat pengendara yang sedang ngebut menuju "parit kebinasaan". Mereka belum jatuh sekarang bukan karena mereka hebat, tapi karena tikungan eksekusi dari Allah jalannya masih agak di depan. Maka, jangan sibuk mengurusi motor orang lain yang mau nyungsep, fokus saja pegang stang motormu sendiri agar selamat sampai tujuan.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian yang dirahmati Allah, keadilan Ilahi itu pasti dan tidak pernah meleset. Daripada kita menghabiskan energi untuk mempertanyakan mengapa takdir Allah begini dan begitu kepada orang lain, mari kita alihkan pandangan itu ke dalam cermin diri kita sendiri.

Mari kita sibuk mengaudit hati kita: Sudahkah kita meminta maaf atas lisan kita yang tajam? Sudahkah kita bersihkan harta kita dari hak orang lain? Jalankan muhasabah setiap malam sebelum memejamkan mata. Jadikan diri kita kritikus paling kejam bagi dosa-dosa kita sendiri, dan jadilah hamba yang paling berprasangka baik terhadap setiap keputusan takdir Allah SWT. Dengan begitulah, derajat dan ketenangan jiwa kita akan diangkat tinggi oleh-Nya.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie