Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir- Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Secara psikologis, kebahagiaan manusia sering kali keliru dikaitkan dengan jumlah materi yang melimpah. Namun, penelitian modern dalam ilmu psikologi positif menemukan fenomena bernama Hedonic Treadmill—sebuah kondisi di mana pemenuhan fasilitas fisik hanya memberikan kesenangan sesaat, lalu manusia akan kembali pada level kepuasan yang sama dan terus merasa kurang.
Di sinilah indahnya konsep Hikmah atau kebijaksanaan dalam Islam. Kebijaksanaan adalah kemampuan spiritual dan intelektual untuk melihat dunia dengan kacamata iman. Ia bekerja laksana sistem imun bagi jiwa. Ketika seorang hamba dianugerahi hikmah, orientasi berpikirnya berubah dari "memiliki apa yang diinginkan" menjadi "mensyukuri apa yang ada". Kebijaksanaan memandu jiwa menuju stabilitas emosi yang kokoh. Efek ilmiahnya luar biasa: tingkat stres menurun, hormon kortisol berkurang, dan dada terasa lapang, meskipun ia hidup dalam penghasilan yang terbatas atau fasilitas yang sangat sederhana.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai agungnya anugerah kebijaksanaan ini:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
"Dia (Allah) memberikan hikmah (kebijaksanaan) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS. Al-Baqarah: 269)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga menegaskan hakikat kekayaan sejati yang lahir dari kebijaksanaan jiwa:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (rasa puas)." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan moral terbesar dari topik ini adalah tentang kemandirian jiwa ('Iffah dan Qana'ah). Kebijaksanaan mengajarkan kita untuk memutus rantai ketergantungan pada makhluk. Berharap pada manusia adalah celah terbesar lahirnya kekecewaan, sedangkan berharap pada Allah adalah jangkar ketenangan.
Ketika kita memiliki kebijaksanaan, kita tidak akan merendahkan diri di hadapan manusia hanya demi dunia, dan tidak akan menjadi hamba yang serakah. Hidup yang stabil dan terhormat adalah ketika tangan kita sibuk memberi, hati kita sibuk bersyukur, dan wajah kita tegak karena hanya tunduk kepada Al-Khaliq. Ini adalah bekal keselamatan, bukan hanya untuk bertahan di dunia, tapi juga untuk selamat di alam keabadian.
Ada sebuah kisah tentang seorang guru ngaji di pedalaman yang hidup di rumah bambu beralaskan tikar usang. Penghasilannya dari bertani tidak menentu, bahkan sering kali ia dan istrinya harus berpuasa karena tidak ada makanan. Suatu hari, seorang saudagar kaya datang berkunjung dan merasa iba melihat kondisinya yang serba terbatas. Saudagar itu menyodorkan seonggok uang tunai yang sangat besar.
Namun, dengan senyuman yang begitu teduh dan air mata yang berlinang karena haru, guru ngaji itu menolak dengan halus. Ia berkata, "Terima kasih, Saudaraku. Simpanlah uang ini untuk mereka yang lebih membutuhkan. Allah telah memberi saya kecukupan yang luar biasa. Setiap kali saya melihat anak-anak bisa membaca Al-Qur'an, dada saya bergetar bahagia. Rumah ini kecil, tapi setiap sudutnya adalah tempat kami bersujud. Saya takut, jika harta ini saya terima, ia akan menggeser rasa syukur yang sudah tenang di hati saya." Saudagar itu menangis, menyadari bahwa di hadapannya berdiri seorang manusia yang miskin secara fasilitas, namun menjadi "raja" karena kekayaan kebijaksanaan jiwanya.
Mari kita umpamakan hidup ini seperti sebuah kapal yang sedang berlayar di samudra luas. Fasilitas duniawi seperti uang, rumah, dan kendaraan, hanyalah hiasan dan cat di dinding kapal tersebut. Sementara itu, Hikmah atau kebijaksanaan adalah lentera, kompas, dan kemudi kapal.
Sebagus apa pun sebuah kapal, jika tidak memiliki kemudi dan kompas, ia akan mudah terombang-ambing oleh badai, menabrak karang, dan akhirnya tenggelam ke dasar laut. Sebaliknya, sebuah perahu kayu yang sederhana, jika dikemudikan oleh kapten yang bijaksana dengan kompas yang akurat, ia akan mampu melewati ombak setinggi apa pun dan sampai ke pelabuhan tujuan dengan selamat. Keterbatasan materi bukanlah penentu tenggelamnya hidupmu, melainkan hilangnya lentera kebijaksanaan dari jiwamu.
Lucunya, manusia zaman sekarang sering tertukar dalam memaknai arti "cukup". Banyak orang yang rumahnya sebesar lapangan bola, tapi tidurnya harus pakai obat penenang karena pikirannya gelisah mikirin cicilan dan persaingan bisnis. Sementara ada orang yang rumahnya tipe "RSSS"—Rumah Sangat Sederhana Sampai Selonjoran Saja Susah—tapi kalau tidur jam 8 malam sudah mendengkur dengan suksesnya, pulas sampai subuh!
Kita sibuk membeli jam tangan miliaran rupiah, padahal waktu yang tersedia sama-sama 24 jam. Kita sibuk membeli tempat tidur yang harganya ratusan juta, padahal yang kita beli hanya "tempat" tidurnya, bukan "tidur nyenyak"-nya. Kebijaksanaan itu membuat kita sadar: untuk apa mengejar dunia sampai tersengal-sengal, kalau ujung-ujungnya menu makanan kita dibatasi oleh dokter karena faktor usia? Makan nasi pakai garam pun, kalau dinikmati dengan syukur, rasanya seperti makan di restoran bintang lima!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudaraku yang berbahagia, sebagai kesimpulan, kebijaksanaan adalah lentera Ilahi yang tidak boleh padam dari dalam dada kita. Ia adalah kunci stabilitas hidup. Bersamanya, penghasilan yang terbatas tidak akan membuat kita mengemis, dan fasilitas yang sederhana tidak akan mengurangi kemuliaan kita di hadapan Allah. Mari kita gantungkan harapan hanya kepada Allah, agar kita dilepaskan dari perbudakan duniawi dan dibimbing menuju keselamatan abadi.
. والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie