Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Pembukaan

Sahabat yang dirahmati Allah, Pernahkah kita merasa heran melihat orang-orang yang tidak beriman namun hidupnya bergelimang kemewahan, memiliki fisik yang menawan, atau teknologi yang sangat canggih? Secara ilmiah dan spiritual, itu bukanlah tanda cinta Allah, melainkan sebuah ujian yang menipu. Allah SWT bisa saja membagikan dunia beserta isinya kepada siapa saja, termasuk kepada orang kafir. Namun, ada satu aset mahal yang eksklusif hanya Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman: yaitu Al-Hikmah (Kebijaksanaan).

Tanpa hikmah, segala fasilitas dunia itu justru menjadi jebakan yang mematikan (istidraj). Allah SWT mengingatkan hal ini dalam Al-Qur'an:

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

"Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka mengagumkanmu. Sesungguhnya Allah hanya menghendaki dengan memberi semua itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak nyawa mereka melayang, sedang mereka dalam keadaan kafir."(QS. At-Tawbah: 55)

Sebaliknya, kekafiran dan keingkaran akan melahirkan kebutaan mata hati. Sehebat apa pun strategi bisnis atau IQ seorang manusia, jika ia ingkar kepada Allah, ia akan mengalami kebodohan fatal yang menghancurkan seluruh amalnya. Allah SWT menegaskan:

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ

"Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah akan menyesatkan (menyia-nyiakan) amal-amal mereka."(QS. Muhammad: 1)

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita dalam sebuah hadis tentang bagaimana Allah membagikan dunia dan iman:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحِبَّ

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai. Tetapi Allah tidak memberikan agama (iman dan hikmah) ini kecuali kepada orang yang Dia cintai."(HR. Ahmad no. 3672)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita tengok lembaran sejarah modern. Berapa banyak konglomerat dunia, selebritas papan atas, atau penguasa global yang hidupnya berakhir tragis? Mereka memiliki segalanya—pulau pribadi, uang tak berseri, dan popularitas. Namun, karena hampa dari hikmah iman, mereka terseret ke dalam skandal moral yang menjijikkan, kecanduan narkoba, hingga depresi berat. Di puncak popularitasnya, tidak sedikit dari mereka yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri di kamar hotel mewah yang sunyi. Sungguh menyedihkan, mereka menguasai dunia, tapi tidak mampu menguasai diri mereka sendiri. Mereka kaya di mata manusia, tapi bangkrut di hadapan Pencipta.

Bayangkan ada seorang anak kecil yang diberi hadiah oleh ayahnya sebuah mobil sport mewah berspesifikasi balap yang sangat kencang. Mobil itu indah, mahal, dan mengagumkan. Namun, si ayah tidak memberikan kunci dan tidak mengajarkan cara menyetir kepada anak tersebut. Apa yang terjadi? Si anak nekat menyalakan mobil, menancap gas sedalam-dalamnya tanpa tahu cara mengerem dan membaca rambu lalu lintas. Mobil itu akhirnya menabrak tebing dan hancur berkeping-keping.

Dunia dan kecerdasan intelektual tanpa iman adalah mobil sport itu, sedangkan hikmah adalah keahlian menyetirnya. Orang kafir mendapatkan mobilnya, tapi orang beriman mendapatkan mobil sekaligus keahlian navigasinya.

Lucunya manusia zaman sekarang, banyak yang mengidap sindrom "silau dunia". Mereka melihat orang kafir sukses bikin roket ke luar angkasa, lalu berseru, "Wah, hebat banget ya, mereka udah mikirin cara tinggal di Mars!"

Padahal kalau dipikir-pikir pakai akal sehat, itu adalah puncak kelucuan yang hakiki. Mereka sibuk merancang rumah masa depan di planet Mars yang jaraknya jutaan kilometer, tapi mereka lupa memesan tempat di kapling kuburan mereka sendiri yang ukurannya cuma $2 \times 1$ meter! Punya teknologi untuk menembus atmosfer langit, tapi tidak punya kebijaksanaan untuk sujud kepada Yang Menciptakan langit. Itu namanya pintar-pintar bodoh!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara yang berbahagia , hikmah adalah hak istimewa (privilege) terbesar yang hanya Allah titipkan di dalam dada orang-orang yang beriman. Jangan pernah merasa minoritas atau rendah diri hanya karena materi dunia kita belum seberapa dibanding mereka yang ingkar. Bersyukurlah atas hidayah iman, karena dengan iman, kita dituntun untuk menyelamatkan diri, bisnis, dan rumah tangga kita dari kehancuran moral.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga cahaya iman dan hikmah di dalam hati kita, serta menjauhkan kita dari kebodohan yang membinasakan.

. والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie