Getaran di Gua Hira
Pernahkah kita membayangkan sebuah momen di mana dimensi langit yang agung bersentuhan langsung dengan dimensi bumi yang fana? Itulah yang terjadi di kegelapan Gua Hira. Wahyu bukan sekadar bisikan batin atau imajinasi puitis; wahyu pertama adalah peristiwa fisik yang nyata, dahsyat, dan menggetarkan seluruh eksistensi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW.
1. Khalwat dan Pencarian Kebenaran
Sebelum fajar kenabian menyingsing, Muhammad bin Abdullah sering mengasingkan diri (tahannuts) di Gua Hira. Beliau membawa bekal sederhana, beribadah selama berhari-hari, mencari jawaban atas kegelisahan jiwanya terhadap kondisi moral masyarakatnya.
Hingga tiba saat yang dijanjikan, Al-Haq (Kebenaran) datang menghampiri beliau melalui perantara Malaikat Jibril.
2. Wahyu Adalah Realitas Fisik, Bukan Mimpi
Penting untuk digarisbawahi bahwa wahyu pertama bukan sekadar penglihatan samar. Jibril menampakkan diri secara nyata. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah SAW, diceritakan betapa intensnya pertemuan tersebut:
جَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ: اقْرَأْ. قَالَ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ. قَالَ: فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ: اقْرَأْ. قُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ. فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ: اقْرَأْ. فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ. فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي
“Malaikat itu mendatangi Nabi dan berkata: 'Bacalah!' Beliau menjawab: 'Aku tidak bisa membaca.' Nabi bercerita: 'Maka malaikat itu memegangku dan memelukku/meremasku hingga aku merasa sangat kepayahan (kelelahan), lalu ia melepaskanku dan berkata lagi: Bacalah!'...” (HR. Bukhari)
Tindakan Jibril meremas/memeluk Nabi hingga lelah bertujuan untuk memastikan bahwa apa yang dialami Nabi adalah kenyataan fisik, bukan ilusi, bukan mimpi, dan bukan pula sekadar perenungan filosofis. Setelah tiga kali dekapan yang menyesakkan dada itu, turunlah kalimat pertama yang mengubah wajah dunia:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-Alaq: 1-5)
3. Khadijah: Pelabuhan Ketenangan Sang Nabi
Setelah peristiwa hebat itu, Rasulullah SAW pulang dengan hati yang bergetar hebat. Beliau, pemimpin anak Adam dan kekasih Pencipta alam semesta, merasa ketakutan yang luar biasa secara manusiawi.
فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيخَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي. فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوعُ
"Maka Rasulullah pulang dengan hati yang gemetar. Beliau menemui Khadijah binti Khuwailid dan bersabda: 'Selimuti aku! Selimuti aku!' Maka mereka menyelimutinya hingga rasa takutnya hilang."
Di sinilah peran luar biasa Sayyidah Khadijah terlihat. Allah $\text{SWT}$ telah menciptakan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam menciptakan pasangan hidup sebagai tempat bernaung, sebagaimana firman-Nya:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang..." (QS. Ar-Rum: 21)
4. Logika Fitrah: Mengapa Allah Tidak Akan Mempermalukanmu?
Saat Nabi menyampaikan kekhawatirannya—"Aku khawatir akan keselamatan diriku"—Khadijah menjawab dengan kalimat yang tidak didasari oleh wahyu atau hadits (karena saat itu hukum belum turun), melainkan didasari oleh fitrah yang suci.
Khadijah berkata dengan penuh keyakinan:
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
"Tidak, demi Allah! Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Karena engkau sungguh menyambung silaturahmi, menanggung beban orang yang lemah, membantu orang miskin, memuliakan tamu, dan menolong setiap upaya menegakkan kebenaran."
Logika Khadijah sangat sederhana namun mendalam: Seseorang yang hidupnya hanya untuk menebar kebaikan tidak mungkin diakhiri dengan kehinaan oleh Sang Pencipta.
5. Penutup
Peristiwa Gua Hira mengajarkan kita bahwa kebenaran seringkali datang dengan "getaran" yang hebat. Namun, di balik setiap beban berat yang Allah berikan, Dia juga mengirimkan sosok-sosok penenang seperti Khadijah. Sejarah mencatat betapa berartinya peran Khadijah, hingga tahun wafatnya disebut sebagai Aamul Huzni (Tahun Duka Cita).
Abu Sultan Al-Qadrie