Pernahkah Anda membayangkan perasaan Rasulullah ﷺ ketika bimbingan dari langit tiba-tiba terhenti? Setelah perjumpaan dahsyat di Gua Hira, lisan Jibril mendadak kelu, dan wahyu tak kunjung turun. Periode ini dikenal sebagai Fathratul Wahyi, sebuah masa yang menguji keteguhan hati sang Nabi.
1. Duka di Balik Keheningan Langit
Setelah menerima wahyu pertama, pendukung utama Nabi, Waraqah bin Naufal, wafat. Tak lama kemudian, wahyu pun terputus. Dalam kesedihan yang mendalam, Nabi ﷺ terkadang mendatangi puncak-puncak gunung, merindukan suara langit yang sempat menyapanya.
Namun, Allah tidak membiarkannya larut dalam pilu. Jibril sesekali menampakkan diri hanya untuk menguatkan batin beliau dengan kalimat: "Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah." Puncak dari penantian ini adalah turunnya Surah Adh-Dhuha, sebuah surat "cinta" yang menghapus segala prasangka kaum musyrikin yang mengejek bahwa Tuhan telah meninggalkan Muhammad.
وَالضُّحَىٰ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
"Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu." (QS. Ad-Duha: 1-3)
2. Kasih Sayang: Karunia Terbesar Sang Pencipta
Mengapa Nabi sangat merindukan wahyu? Karena dalam wahyu terdapat Wudd—kasih sayang yang teramat dalam dari Allah. Bagi orang yang beriman dan beramal saleh, Allah menjanjikan rasa kasih yang akan ditanamkan ke dalam hati makhluk-makhluk-Nya.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
"Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka)." (QS. Maryam: 96)
3. Hikmah di Balik Jeda: Wahyu Bukan Milik Pribadi Nabi
Ada pelajaran besar mengapa wahyu tidak turun setiap saat sesuai keinginan Nabi. Hal ini membuktikan bahwa wahyu bukanlah karangan Muhammad ﷺ. Beliau tidak memiliki kendali atas kapan ayat harus turun atau kapan Jibril harus datang. Wahyu adalah murni otoritas Ilahi, terpisah dari kehendak manusiawi sang Rasul.
4. Tragedi Fitnah (Al-Ifk): Ujian Kejujuran Langit
Bukti paling kuat bahwa wahyu bukan buatan Nabi adalah Insiden Fitnah (Haditsul Ifk). Bayangkan, Sayyidah Aisyah r.a., istri tercinta Nabi, dituduh berzina oleh kaum munafik. Fitnah ini mengguncang Madinah selama hampir 40 hari.
Selama masa itu, Nabi ﷺ menderita luar biasa. Beliau tidak memiliki bukti untuk membela istrinya, sementara desas-desus makin liar. Jika wahyu adalah milik Nabi, tentu beliau akan langsung "membuat" ayat di menit pertama untuk membersihkan nama keluarganya. Namun, beliau harus menunggu keputusan langit.
Allah akhirnya menurunkan pembelaan dalam Surah An-Nur:
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu, bahkan itu adalah baik bagi kamu." (QS. An-Nur: 11)
Bagi mukmin sejati, ujian ini adalah momen untuk berprasangka baik:
لَّوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُّبِينٌ
"Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata'." (QS. An-Nur: 12)
Kesimpulan
Agama Islam bukanlah produk budaya, bukan warisan nenek moyang, dan bukan pula hasil perenungan filosofis Muhammad ﷺ. Islam adalah Agama Wahyu. Jeda waktu turunnya wahyu dan ketidakberdayaan Nabi saat menghadapi fitnah adalah bukti otentik bahwa Al-Qur'an benar-benar datang dari Zat Yang Maha Tinggi, bukan dari pikiran manusia.
Abu Sultan Al-Qadrie