Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللّٰهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Saudaraku yang berbahagia ,
Seringkali kita merenungi takdir. Ketika musibah datang, ketika kesengsaraan menimpa, kita bertanya, "Mengapa ini terjadi pada saya? Apakah ini semua sudah takdir buta yang tidak dapat dihindari?"
Dalam kesempatan ini, mari kita merenungkan sebuah kebenaran mendasar dari Al-Qur’an. Bahwa akar penyebab kesengsaraan—baik di dunia yang fana ini, maupun di akhirat yang abadi—bukanlah takdir yang buta, melainkan pilihan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Pilihan yang terangkum dalam tiga krisis yang saling berkaitan: Kurangnya Ilmu, Kurangnya Tauhid, dan Praktik Kemusyrikan.
Dasar pemikiran ini terukir jelas dalam Surah Al-Mulk ayat 10 dan 11. Mari kita dengarkan firman Allah ini dengan hati yang khusyuk:
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوْا بِذَنْۢبِهِمْۚ فَسُحْقًا لِّاَصْحٰبِ السَّعِيْرِ
Artinya:
"Dan mereka berkata, 'Seandainya (dahulu) kami mau mendengarkan atau berpikir, niscaya kami tidak akan termasuk golongan penghuni neraka yang menyala-nyala itu.' Maka mereka pun mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi para penghuni neraka yang menyala-nyala itu."
Ayat ini adalah penyesalan paling jujur dari penghuni neraka. Mereka tidak menyalahkan takdir. Mereka tidak menyalahkan Allah. Mereka menyalahkan diri sendiri, sebab mereka telah menolak dua potensi yang diberikan Allah: potensi untuk mendengarkan (menerima ilmu/wahyu) dan potensi untuk berpikir (menggunakan akal). Inilah krisis pengetahuan.
1. Krisis Pertama: Kurangnya Ilmu (Kapten Kapal Tanpa Peta)
Hadirin sekalian, Ilmu yang dimaksud di sini bukanlah sekadar tumpukan ijazah atau gelar akademis. Ini adalah ilmu tentang hakikat hidup: Siapa Tuhan kita? Untuk apa kita diciptakan? Ke mana kita akan kembali? Apa peta jalan menuju kebahagiaan sejati?
Al-Qur’an dan Sunnah adalah Peta dan Kompas kehidupan kita.
Tamsilannya : Kapten Kapal Tanpa Peta dan Kompas
Bayangkan seorang kapten kapal yang berlayar menuju pulau impian (kebahagiaan abadi). Tetapi, dengan sombong, ia menolak menggunakan Peta (Al-Qur’an) dan Kompas (Sunnah). Ia hanya mengandalkan kira-kira, mengikuti arah angin yang berubah-ubah (hawa nafsu), dan mendengarkan saran dari pelaut-pelaut yang juga tersesat.
Apa hasilnya?
- Kapalnya berputar-putar tanpa tujuan (hidup yang sia-sia).
- Ia menabrak karang tersembunyi (terjerumus dalam dosa dan masalah yang tak terduga).
- Ia ditimpa badai tanpa persiapan (menghadapi krisis hidup dengan kepanikan).
- Akhirnya, ia tidak pernah sampai ke tujuan dan kapalnya tenggelam (kesengsaraan abadi).
Kesengsaraannya bukan karena lautan itu jahat, tetapi karena ia sengaja memilih untuk tidak menggunakan ilmu navigasi yang telah disediakan. Inilah makna dari "Seandainya kami mau mendengarkan (Peta) atau berpikir (menggunakan Kompas)."
2. Krisis Kedua: Kurangnya Tauhid (Pelayan dengan Banyak Tuan)
Ilmu yang benar akan mengarahkan kita pada Tauhid, yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, sandaran, sumber harapan, dan sumber ketakutan.
Kurangnya tauhid berarti hati seseorang terbagi-bagi, melayani banyak "tuan" sekaligus.
Tamsilannya : Seorang Pelayan dengan Banyak Tuan yang Bertentangan
Bayangkan seorang pelayan yang mengabdi pada empat tuan sekaligus:
- Tuan Harta: "Bekerjalah siang-malam, jangan peduli halal atau haram!"
- Tuan Gengsi: "Tampillah mewah! Beli barang mahal walau harus berutang!"
- Tuan Hawa Nafsu: "Nikmati semua yang kamu inginkan, tanpa batasan!"
- Tuan Opini Publik: "Lakukan apa pun agar semua orang menyukaimu!"
Pelayan ini akan hidup dalam kecemasan dan stres luar biasa karena perintah tuannya selalu bertentangan. Ia tidak akan pernah bisa memuaskan semuanya. Hatinya terpecah, energinya terkuras, dan ia selalu merasa gagal.
Inilah gambaran penderitaan orang yang kurang bertauhid. Ia tersiksa oleh keinginannya sendiri yang terpecah belah. Ia melayani materi, kedudukan, manusia, dan nafsunya, sehingga ia kehilangan satu pusat komando yang sejati dan menenangkan: Allah SWT.
3. Krisis Ketiga: Kemusyrikan (Orang Haus yang Mengejar Fatamorgana)
Kemusyrikan adalah manifestasi nyata dari kurangnya tauhid. Ketika hati menolak menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran, secara otomatis ia akan mencari sandaran-sandaran palsu lainnya.
Tamsilannya : Orang Haus yang Mengejar bayang bayang Mirage (Fatamorgana)
Seorang pengembara sangat kehausan di tengah padang pasir (jiwa yang merindukan ketenangan dan pertolongan). Dari kejauhan, ia melihat genangan air yang berkilauan (ia menganggap harta, jabatan, makhluk, atau benda keramat sebagai sumber pertolongan). Ia yakin, "Air" itulah keselamatannya.
Apa hasilnya?
- Ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk berlari menuju fatamorgana tersebut.
- Setibanya di sana, ia tidak menemukan apa-apa selain pasir panas yang menyengat. Harapannya hancur berkeping-keping.
- Ia jatuh dalam keputusasaan yang lebih dalam, lebih lelah, dan lebih haus dari sebelumnya.
Inilah inti dari penderitaan akibat kemusyrikan. Menggantungkan harapan pada sesuatu yang fana dan tidak memiliki kekuatan apa pun. Kesengsaraan muncul karena menyekutukan Sumber Air Sejati (Allah) dengan ilusi yang menipu.
Kesimpulan dan Seruan
Saudara-saudaraku yang berbahagia, penyesalan para penghuni neraka dalam Surah Al-Mulk adalah sebuah pengakuan final bahwa kesengsaraan mereka adalah hasil dari pilihan mereka sendiri.
- Kesengsaraan berawal dari Kebodohan yang Dipilih Sendiri. Mereka menolak Peta (mendengarkan) dan Kompas (berpikir).
- Kebodohan menyebabkan Kurangnya Tauhid. Hati mereka terpecah, melayani banyak "tuan" sehingga hidup dalam kecemasan.
- Kurangnya Tauhid berujung pada Kemusyrikan. Mereka mengejar fatamorgana yang hanya menghasilkan kekecewaan dan kehampaan.
Maka, marilah kita hari ini berjanji kepada diri sendiri:
- Perkuat Ilmu: Jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber petunjuk utama, dengarkanlah dan renungkanlah.
- Murnikan Tauhid: Fokuskan hati hanya kepada Allah. Lepaskan diri dari perbudakan kepada harta, gengsi, dan hawa nafsu. Jadikan Allah satu-satunya pusat orientasi hidup kita.
Dengan Ilmu yang Benar dan Tauhid yang Murni, kita akan menemukan ketenangan sejati, sehingga kita tidak perlu menyesal seperti para penghuni neraka, dan insya AlAlah, kita akan menjadi golongan yang berbahagia, di dunia maupun di akhirat.
Wallaahu ‘Alamu bis-Shawab,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Abu Sultan Al-Qadrie .