1. Mengapa Al-Qur'an Tak Tersentuh Tangan Jahil?
Secara ilmiah dan historis, Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab suci yang memiliki jalur transmisi Mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang yang mustahil bersepakat bohong) baik secara tulisan (Rasm) maupun lisan (Syafahi).
Allah Swt. berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." QS : Al-Hijr : 9
Berbeda dengan kitab-kitab terdahulu yang penjagaannya diserahkan kepada para pendeta dan rabi (QS. Al-Maidah: 44), Al-Qur'an diambil alih langsung oleh Sang Pemilik Kalam. Inilah alasan mengapa satu huruf pun tidak berubah selama lebih dari 14 abad.
2. Rumah Tanpa Pencuri
Bayangkan Anda memiliki perhiasan paling mahal di dunia. Anda pasti akan lelah menjaganya setiap malam. Namun, dengan Al-Qur'an, Pemiliknya-lah yang menjaga harta itu untuk Anda.
Ketika Anda menghafal Al-Qur'an, Anda bukan sedang menjaga ayat-ayat itu, melainkan ayat-ayat itulah yang menjaga Anda. Kedamaian muncul saat kita sadar bahwa kita sedang memegang sesuatu yang murni, langsung dari Arsy Allah, tanpa campur tangan distorsi manusia.
3. Amalan Salafussalih: Menanam Ayat di Dalam Dada
Para pendahulu kita yang saleh tidak hanya melihat Al-Qur'an sebagai pajangan di rak buku. Mereka adalah "Mushaf Berjalan".
- Utsman bin Affan r.a. saking cintanya pada penjagaan Al-Qur'an, beliau syahid dalam keadaan memeluk mushaf.
- Imam Syafi'i mengkhatamkan Al-Qur'an setiap hari di luar Ramadhan, dan dua kali sehari di dalam Ramadhan. Bagi mereka, menjaga Al-Qur'an adalah dengan terus "berinteraksi" dengannya.
4. Tamsilan : Mata Air yang Tak Pernah Keruh
Al-Qur'an itu ibarat Mata Air yang Tak Pernah Keruh. Meskipun jutaan orang mengambil air darinya, meskipun ribuan orang mencoba melempar lumpur ke dalamnya, mata air itu tetap jernih karena dasarnya terhubung langsung dengan samudera kekuasaan Allah.
5. Anekdot :
Ada seorang santri yang mengeluh karena sulit menghafal Al-Qur'an. Dia bilang, "Ustadz, hafalan saya masuk telinga kanan keluar telinga kiri." Ustadznya tersenyum lalu menjawab, "Itu masih bagus, setidaknya telingamu sempat 'dicuci' oleh wahyu. Yang bahaya itu kalau masuk telinga kanan, keluarnya lewat WhatsApp, isinya ghibah semua!"
Artinya, proses menjaga Al-Qur'an (murojaah) memang melelahkan, tapi itulah cara Allah membersihkan kotoran di hati kita secara perlahan.
6. Pesan Penting : Amanah dalam Menjaga
Jika Allah sudah menjamin penjagaan Al-Qur'an, maka tugas kita adalah menjaga kedekatan kita dengannya. Jangan sampai kitabnya terjaga di dunia, namun "hilang" dari hati kita karena kemaksiatan.
Rasulullah SAW bersabda:
تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
"Jagalah Al-Qur'an ini (dengan terus membacanya). Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur'an itu lebih cepat lepasnya daripada unta dari ikatannya." (HR. Bukhari & Muslim)
Abu Sultan Al-Qadrie