Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Mukaddimah
Sahabat religius yang dicintai Allah, secara neurosains, penggunaan gawai seperti iPad, telepon, dan internet memicu pelepasan dopamin yang mekanisme kecanduannya serupa dengan narkoba. Inilah "narkoba digital" yang tanpa sadar bisa membuat kita terpaku berjam-jam. Namun, secara ilmiah, teknologi sebenarnya bersifat netral. Perangkat ini hanyalah alat yang tidak memiliki moralitas sendiri; moralitas itu sepenuhnya berada pada niat dan jemari penggunanya. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang mampu menjadikan teknologi sebagai "asisten spiritual" untuk mengakses ilmu, bukan membiarkannya menjadi pencuri waktu yang menjauhkan kita dari Sang Pencipta.
2. Uraian (Landasan Dalil & Analogi)
Esensi dari penggunaan teknologi ini telah diingatkan dalam sumber hukum utama kita sebagai pengingat akan tanggung jawab kelak:
A. Mengenai Pertanggungjawaban Indera:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُوْلًا
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya."
B. Mengenai Landasan Niat:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
"Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya."
Teknologi ibarat sebilah pisau yang sangat tajam. Jika dipegang oleh seorang koki yang ahli, ia melahirkan hidangan yang lezat. Namun, jika dipegang oleh orang yang lalai, ia bisa melukai diri sendiri. Pisau itu netral; kegunaannya tergantung pada siapa yang memegang gagangnya.
3. Pelajaran dan Pesan
Teknologi adalah ujian netralitas. Gadget di tangan Anda bisa menjadi jembatan menghafal Al-Qur'an, namun bisa juga menjadi alat maksiat yang membuang umur sia-sia. Jadilah tuan atas teknologi Anda, bukan budak dari notifikasi.
Ada sebuah ironi yang sering kita alami: kita kuat menatap layar HP selama 3 jam, namun mata terasa berat saat membaca mushaf Al-Qur'an selama 3 menit. Kita kuat scrolling sampai jempol keriting, tapi kaku saat harus bertasbih. Sungguh mengharukan melihat seorang ibu menangis karena anaknya berada di satu ruangan namun jiwanya "entah di mana" akibat layar, sementara di belahan lain, seorang pemuda menggunakan internetnya untuk menyebarkan hidayah. Ingatlah, di akhirat nanti tidak ada pengadilan tentang jumlah followers, melainkan tentang apa yang dilakukan jari-jari kita di atas layar tersebut.
4. Kesimpulan dan Penutup
Sebagai penutup, internet dan gawai adalah pencapaian ilmiah yang netral. Mari kita akhiri kecanduan yang sia-sia dan mulai menggunakan perangkat digital ini sebagai obat bagi kebodohan serta sarana menuju Surga. Gunakanlah ia sebagai tangga untuk mendaki rida Allah, sehingga setiap klik dan ketikan kita tercatat sebagai amal jariyah.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Abu Sultan Al-Qadrie