Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir- Rahim
1. Mukaddimah
Sahabat religius yang luar biasa, secara psikologis, ada dorongan dalam diri manusia yang disebut dengan need for admiration atau kebutuhan untuk dikagumi. Namun, jika kebutuhan ini tidak terkontrol, ia berubah menjadi penyakit narsisme spiritual. Secara ilmiah, memamerkan kemewahan di depan orang yang kekurangan dapat memicu "depresi perbandingan" pada orang lain. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang merasa cukup dengan penilaian Allah, bukan yang haus akan decak kagum manusia. Kebahagiaan sejati muncul dari rasa syukur yang tenang, bukan dari sorotan mata yang iri.
2. Uraian
Dalil Al-Qur’an & Hadis
A. Ayat Al-Qur'an (Tentang larangan sombong):
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
Artinya: "Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." (QS. Al-Isra': 37)
B. Sabda Rasulullah SAW (Tentang kesederhanaan):
طُوْبٰى لِمَنْ هُدِيَ لِلْإِسْلَامِ وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا وَقَنَعَ
"Beruntunglah orang yang mendapat petunjuk kepada Islam, sedangkan hidupnya cukup dan dia merasa puas (qana'ah)." (HR. Tirmidzi)
3. Pelajaran dan Pesan
Rumahmu adalah tempat sujudmu, bukan galeri untuk pameran kekayaan. Saat Allah memberkatimu dengan rumah yang megah, ingatlah bahwa di luar sana ada saudaramu yang bahkan tidak tahu malam ini akan tidur di bawah atap mana. Pamer adalah penyakit psikologis yang mengikis empati. Moralitas seorang mukmin diukur dari seberapa besar ia menjaga perasaan orang lain yang lebih lemah darinya, bukan seberapa tinggi ia memperlihatkan kemewahannya.
Bayangkan seseorang yang hidupnya serba pas-pasan, mungkin ia mengontrak di sebuah petak sempit. Suatu hari, ia mengunjungi rumah temannya yang kaya raya. Sang pemilik rumah dengan bangga mengajak tamunya berkeliling: "Lihat lantai marmer ini, lihat lampu kristal ini, lihat luasnya taman ini."
Sang tamu hanya tersenyum kecil, namun di dalam hatinya ia merasa sesak, bukan karena iri, tapi karena ia teringat atap rumahnya yang bocor dan sempitnya ruang gerak keluarganya. Sang pemilik rumah merasa hebat karena dipuji, tanpa sadar ia telah meninggalkan luka di hati saudaranya. Seandainya ia menjamu tamunya dengan hidangan yang hangat dan obrolan yang merendah, ia akan mendapatkan doa yang tulus, bukan sekadar kekaguman yang hampa.
Hidup kita ibarat sebatang pohon yang berbuah lebat. Pohon yang bijaksana akan merunduk karena beratnya buah, memberikan keteduhan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya. Namun, pohon yang sombong akan sengaja mengangkat dahan-dahannya setinggi mungkin agar semua orang melihat buahnya, padahal orang yang berdiri di bawahnya justru tidak mendapatkan keteduhan sama sekali. Jadilah pohon yang merunduk; semakin banyak nikmat, semakin dalam kerendahhatianmu.
Kita ini terkadang lucu. Kita membeli rumah besar agar orang lain kagum, tapi kita yang sibuk bayar cicilannya dan kita yang pusing bersih-bersihnya. Kita ajak tamu keliling rumah seperti tour guide di museum, padahal tamunya mungkin cuma ingin numpang ke toilet atau sekadar minum teh. Ingat ya, tamu yang kagum tidak akan membantumu membayar pajak rumah. Jangan sampai kita beli rumah untuk menyenangkan mata orang lain, tapi malah membuat hati sendiri capek karena haus pujian!
4. Kesimpulan dan Penutup
Saudara-saudari terkasih, bersyukurlah dengan tulus. Gunakan nikmat Allah untuk menolong, bukan untuk menyombong. Sembunyikan kemewahanmu demi menjaga perasaan saudaramu yang fakir. Di hadapan Allah, bukan luasnya rumah yang dihitung, tapi luasnya hatimu dalam menampung kasih sayang sesama.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie