Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Mukaddimah

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa dalam Al-Qur'an, kata "Mendengar" hampir selalu disebut sebelum "Melihat"? Secara sains, rahasia ini sungguh menakjubkan. Telinga adalah indra pertama yang berfungsi sempurna sejak kita masih berupa janin. Pada minggu ke-26 di rahim ibu, sang bayi sudah bisa merekam detak jantung ibundanya, sementara mata baru bisa melihat warna dengan jelas setel312ah bulan keempat pasca kelahiran.

Telinga adalah penjaga kita yang tak pernah tidur. Mata hanya melihat ke depan, namun telinga menangkap suara dari enam arah: atas, bawah, depan, belakang, kanan, dan kiri. Dalam kegelapan malam yang pekat, mata kita lumpuh, namun telinga tetap bekerja sebagai radar yang setia. Inilah kecanggihan desain Sang Khalik yang mendahulukan instrumen "penerima kebenaran" (telinga) sebelum instrumen "penikmat keindahan" (mata).

2. Uraian

Dalil Al-Qur'an dan Hadis

Allah SWT menegaskan urutan penciptaan ini dalam firman-Nya:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-Insan: 2)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ

"Katakanlah (Muhammad): "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatanmu..." (QS. Al-An'am: 46)

Rasulullah SAW juga sering berdoa memohon kebaikan pada kedua indra ini:

اللَّهُمَّ مَتِّعْنِي بِسَمْعِي وَبَصَرِي ، وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَ مِنِّي

"Ya Allah, berilah aku kenikmatan dengan pendengaranku dan penglihatanku, dan jadikanlah keduanya sebagai pewaris dariku (tetap sehat sampai aku wafat)." (HR. Tirmidzi)

3. Pelajaran dan Pesan

Urutan "Mendengar sebelum Melihat" mengajarkan kita tentang kerendahan hati dalam mencari ilmu. Untuk memahami realitas dan kebenaran, kita harus mau mendengarkan lebih banyak daripada sekadar melihat kulit luarnya. Orang yang kehilangan penglihatan banyak yang menjadi ulama besar dan sastrawan ulung, namun mereka yang kehilangan pendengaran sejak lahir akan kesulitan berbicara dan memahami konsep dunia. Pesan moralnya jelas: Jadilah pendengar yang baik bagi kebenaran, karena dengan telinga kita memahami makna, sedangkan dengan mata kita hanya melihat rupa.

Para ilmuwan merekam suara detak jantung ibu dan gemericik plasenta yang didengar bayi di dalam rahim. Ketika rekaman itu diputar di hadapan bayi yang sedang menangis tersedu-sedu setelah lahir, sebuah keajaiban terjadi. Bayi itu seketika tenang, tangisnya reda, dan ia merasa aman. Suara itu adalah memori pertama tentang perlindungan. Seolah-olah Tuhan ingin berbisik kepada sang bayi, "Engkau tidak sendirian, Aku menjagamu melalui detak kehidupan ini bahkan sebelum matamu sanggup menatap dunia."

Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di malam yang gelap. Mata Anda hanya bisa melihat sejauh lampu depan menyorot jalan. Namun, jika ada kerusakan kecil pada mesin di bagian bawah atau roda belakang, mata Anda tidak akan tahu. Telinga Andalah yang pertama kali menangkap suara "asing" itu dan memberi peringatan agar Anda berhenti sebelum bahaya besar terjadi. Pendengaran adalah "sistem peringatan dini" kehidupan yang mencakup area yang tidak terjangkau oleh pandangan mata

Allah menciptakan kita dengan dua telinga dan hanya satu mulut. Harusnya, ini menjadi kode keras bahwa kita harus lebih banyak mendengar daripada berkomentar! Bayangkan jika dibalik: dua mulut dan satu telinga. Mungkin dunia ini akan penuh dengan orang yang berebut bicara sampai tidak ada lagi tempat untuk menyerap ilmu. Kita diberi "dua lubang" untuk masuknya informasi dan "satu lubang" untuk keluarnya kata-kata agar kita menyaring apa yang kita dengar sebelum kita ucapkan.

4. Kesimpulan dan Penutup

Uruian kata dalam Al-Qur'an bukanlah kebetulan. Pendengaran didahulukan karena ia adalah pintu utama kecerdasan dan keimanan. Hanya ada satu ayat di mana penglihatan didahulukan (QS. As-Sajdah: 12), yaitu saat di akhirat nanti, ketika manusia melihat kedahsyatan hari pembalasan yang kecepatannya melebihi suara.

Mari kita gunakan telinga kita untuk mendengar ayat-ayat-Nya dan mata kita untuk mensyukuri ciptaan-Nya. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal di akhirat kelak sambil berkata, "Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala."

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Abu Sultan Al-Qadrie