Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, ia adalah musim semi bagi hati. Di sinilah Rasulullah ﷺ memberikan cetak biru (blueprint) bagaimana seorang hamba seharusnya "bertemu" dengan Kalam Allah.
1. Dalil Al-Qur'an dan Sunnah
Landasan interaksi Rasulullah ﷺ dengan Al-Qur'an di bulan Ramadhan didokumentasikan dengan sangat indah dalam riwayat berikut:
Hadis tentang Mu'aradhah (Tadarus bersama Jibril):
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
"Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat Jibril menemui beliau. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk tadarus Al-Qur’an bersama beliau." (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)
2. Nilai Spiritual
Secara ilmiah dan ruhani, Tadarus bukan sekadar membaca. Kata daraso-yadrusu berarti mempelajari dengan seksama, mengulang-ulang, dan meresapi. Ketika Rasulullah ﷺ menyetorkan hafalannya kepada Jibril, beliau sedang melakukan "Check and Recheck" ruhani.
Ini menyejukkan jiwa karena:
- Penguatan: Al-Qur'an adalah Ruh (nyawa). Semakin sering ia disetorkan kepada sumber aslinya (Jibril/Wahyu), semakin hidup hati kita.
- Keintiman: Bayangkan pertemuan malam-malam di bulan Ramadhan antara manusia terbaik dan malaikat terbaik, membahas firman Tuhan Yang Maha Agung. Ini adalah puncak keintiman yang seharusnya kita tiru—berduaan dengan Al-Qur'an di sepertiga malam terakhir.
3. Amalan Salafush Shalih: Jejak Langkah Para Pendahulu
Para pendahulu kita memahami bahwa Ramadhan adalah bulan "penurunan" Al-Qur'an. Maka, mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai prioritas utama:
- Imam Malik: Begitu masuk Ramadhan, beliau meninggalkan majelis ilmu hadis dan fokus sepenuhnya pada pembacaan Al-Qur'an.
- Qatadah: Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur'an setiap 7 hari di bulan biasa, namun di bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkannya setiap 3 hari sekali. Di 10 malam terakhir, beliau mengkhatamkannya setiap malam.
- Sufyan Ats-Tsauri: Jika masuk bulan Ramadhan, beliau meninggalkan segala ibadah sunnah lainnya demi fokus membaca Al-Qur'an.
Mereka tidak hanya membaca, mereka hidup bersama ayat-ayat tersebut.
4. Anekdot :
"The Power of Kepepet"
Ada sebuah kisah ringan tentang seorang santri yang ingin meniru kecepatan khatam para Salafush Shalih.
Suatu hari, dia ditanya temannya, "Sudah juz berapa bacanya?" Dengan percaya diri dia menjawab, "Sudah hampir selesai!" Temannya bertanya lagi, "Artinya tahu?" Dia menjawab dengan santai, "Wah, kalau itu saya tidak tahu. Tapi setidaknya, Al-Qur'an sudah saya khatamkan, dan malaikat sudah lelah mencatat pahala saya."
Pelajaran dari anekdot ini: Jangan sampai kita seperti pelari maraton yang berlari secepat kilat tapi lupa membawa tongkat estafet. Khatam itu penting, tapi tadabur (memahami) adalah intinya. Jangan sampai kita mengejar target kuantitas sampai lupa kualitas—nanti yang dapat pahala malah malaikat karena capek mencatat kita yang cuma "kejar tayang"!
5. Tamsilan yang Indah
Bayangkan Al-Qur'an sebagai sebuah Surat Cinta dari Sang Kekasih (Allah SWT).
Jika Anda menerima surat cinta dari seseorang yang sangat Anda cintai, apakah Anda akan membacanya sekali lalu membuangnya? Tentu tidak. Anda akan membacanya berulang-ulang, meresapi setiap katanya, mencari tahu makna di balik setiap kalimat, bahkan mungkin Anda akan menempelkannya di dinding atau menyimpannya di tempat paling aman.
Begitulah seharusnya Al-Qur'an di bulan Ramadhan—kita membacanya dengan rindu, mempelajarinya dengan cinta, dan menjaganya di hati sebagai panduan hidup sampai hari pertemuan kita dengan-Nya.
6. Pesan Kuat : Membangun "Perpustakaan" di Dalam Dada
Pesan moral dari tindakan Rasulullah ﷺ sangat jelas: Kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas interaksi kita dengan Al-Qur'an. Jika Rasulullah ﷺ, yang sudah dijamin surga, masih merasa perlu "setoran" setiap malam, bagaimana dengan kita?
Tadarus bukan sekadar mengejar target khatam, tetapi tentang membangun koneksi agar setiap ayat yang dibaca turun langsung ke dalam hati, mengubah perilaku, dan memperbaiki akhlak.
Abu Sultan Al-Qadrie