Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir- Rahmanir-Rahim

1. Mukaddimah

Pernahkah Anda merenungkan bagaimana pergantian siang dan malam terasa begitu lembut? Secara ilmiah, fenomena ini hanya mungkin terjadi jika bumi berbentuk bulat dan berputar pada porosnya. Jika bumi datar dan diam, matahari hanya akan menyinari satu sisi secara permanen, atau siang akan berganti malam secara mendadak seperti saklar lampu yang ditekan.

Namun, bumi kita "menari" dalam rotasi yang sangat halus. Kebulatan bumi inilah yang memungkinkan adanya gradasi warna senja yang jingga dan fajar yang biru. Keindahan rotasi ini menjaga keseimbangan suhu dunia agar tidak ada bagian yang membeku selamanya atau terpanggang abadi. Inilah "nafas" planet kita yang diatur oleh tangan Sang Maha Pencipta.

2. Uraian

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur'an menggambarkan bentuk bumi yang bulat dengan pilihan kata yang sangat cerdas dan puitis:

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia melilitkan malam atas siang dan melilitkan siang atas malam..." (QS. Az-Zumar: 5)

(Kata "Yukawwiru" berarti melilitkan secara melingkar, seperti melilitkan sorban pada kepala yang bulat).

Rasulullah SAW juga memberikan isyarat tentang matahari dan benda langit yang terus bergerak dalam lintasan tanpa henti:

إِنَّهَا تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ

"Sesungguhnya ia (matahari) terus berjalan hingga sampai ke tempat peristirahatannya di bawah Arsy." (HR. Bukhari)

(Makna hadis ini selaras dengan penjelasan Ibnu Abbas bahwa benda langit berada di atas orbitnya dan tidak pernah berhenti/hilang, menunjukkan sistem tata surya yang berputar).

3. Pelajaran dan Pesan

Ilmu pengetahuan tentang bumi yang bulat ini mengajarkan kita tentang Keluasan Hati. Bumi yang bulat menunjukkan bahwa tidak ada ujung dari sebuah perjalanan sebelum kita kembali ke titik awal. Begitu pula hidup; kebaikan yang kita lempar akan berputar dan kembali kepada kita. Jika bumi yang begitu besar saja patuh pada orbitnya, mengapa kita manusia yang kecil seringkali merasa benar sendiri dan enggan berputar mengikuti aturan Sang Pencipta? Jadilah seperti bumi: tenang di permukaan, namun terus bergerak maju dalam ketaatan.

Pada abad ke-11, seorang ilmuwan Muslim bernama Al-Biruni berdiri di sebuah puncak gunung yang tinggi. Dengan hanya bermodalkan geometri dan keyakinan pada ayat-ayat Al-Qur’an, ia berhasil menghitung keliling bumi. Hasil penghitungannya hanya selisih sedikit dari penghitungan satelit modern hari ini. Sungguh mengharukan melihat bagaimana seorang hamba begitu mencintai Tuhannya, sehingga ia membaca alam semesta dengan penuh ketelitian demi membuktikan kebenaran kalam-Nya. Ilmu dan iman adalah dua sayap yang membawanya terbang menuju kebenaran.

Bumi yang berputar pada porosnya itu ibarat "Gasing raksasa". Jika gasing itu berhenti berputar, ia akan jatuh dan limbung. Begitu juga dengan iman dalam dada. Iman harus terus "berputar" melalui dzikir dan amal saleh agar kita tetap stabil menghadapi tarikan gravitasi dunia yang penuh cobaan. Jika rotasi iman berhenti, maka hancurlah keseimbangan hidup kita

Zaman dulu, ada perdebatan apakah bumi itu bulat atau datar. Jika bumi itu datar seperti meja makan, mungkin orang-orang yang tinggal di pinggiran bumi sudah jatuh ke jurang angkasa sejak dulu karena terpeleset saat sedang lari pagi! Untungnya, Allah menciptakan bumi itu bulat dan memberikan gravitasi. Jadi, sejauh mana pun Anda mencoba melarikan diri dari kenyataan atau lari dari tagihan hutang, Anda akan tetap berputar di bumi yang sama. Tidak ada tempat sembunyi dari bumi Allah, maka sebaiknya kita "berputar" menuju jalan-Nya saja.

4. Kesimpulan dan Penutup

Kesesuaian antara hadis Nabi SAW, isyarat Al-Qur'an, dan sains modern membuktikan bahwa Islam adalah agama yang melampaui zaman. 1.400 tahun yang lalu, di tengah gurun pasir Jazirah Arab, Rasulullah telah membawa berita tentang bumi yang melingkar, sebuah fakta yang baru dipahami manusia berabad-abad kemudian.

Mari kita syukuri keberadaan kita di bumi yang indah ini dengan terus menuntut ilmu dan memperkuat iman. Karena pada akhirnya, semua ilmu akan bermuara pada satu kesimpulan: Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sangat teliti.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Abu Sultan Al-Qadrie