Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir- Rahim
1. Mukaddimah
Secara historis dan sosiologis, pembebasan sebuah wilayah bukan sekadar masalah kekuatan militer, melainkan masalah kesiapan peradaban. Ada hukum alam yang disebut sebagai Hukum Kematangan Sosial. Yerusalem secara spiritual adalah "kompas" moral dunia. Ia akan kembali ke tangan mereka yang memiliki keseimbangan antara kekuatan intelektual dan kesucian jiwa. Secara ilmiah, ketika sebuah umat memperbaiki kualitas internalnya—baik dari segi pendidikan, ekonomi, maupun karakter—maka secara otomatis ia sedang membangun gravitasi yang akan menarik kembali hak-haknya yang terampas.
2.Uraian
Dalil Al-Qur'an dan Hadis
Allah Swt. telah menetapkan kemenangan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh:
كَتَبَ اللّٰهُ لَاَغْلِبَنَّ اَنَا۠ وَرُسُلِيْۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ
“Allah telah menetapkan, 'Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.' Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Mujadilah: 21)
Rasulullah ﷺ juga memberikan kabar gembira yang abadi tentang keberadaan kelompok yang teguh di Baitul Maqdis:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الدِّيْنِ ظَاهِرِيْنَ لِعَدُوِّهِمْ قَاهِرِيْنَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ... قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ: بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang senantiasa teguh di atas agama, mereka menang atas musuh-musuhnya. Tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka... Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, di manakah mereka?' Beliau menjawab: 'Di Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis'.” (HR. Ahmad)
3. Pelajaran dan Pesan
Pembebasan Baitul Maqdis ( Yerusalem )adalah janji Allah yang pasti. Namun, pertanyaan besarnya bukan "kapan itu terjadi", melainkan "di mana posisi kita saat itu terjadi?". Apakah kita hanya menjadi penonton yang mengeluh, ataukah kita menjadi "prajurit peradaban" yang layak dipilih Allah untuk menunaikan janji-Nya? Kepahlawanan dimulai dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan menebar manfaat bagi umat manusia.
Seorang anak kecil di reruntuhan bangunan di Palestina ditanya oleh seorang jurnalis, "Di mana rumahmu?" Anak itu menunjuk ke arah Masjidil Aqsa dan berkata, "Rumahku sedang dijaga oleh malaikat, aku hanya sedang menunggu kunci yang dibawa oleh umat Islam yang sudah bangun dari tidurnya." Jawaban polos itu adalah tamparan bagi kita semua; mereka tidak butuh dikasihani, kitalah yang butuh mengasihani diri sendiri karena belum layak menjadi pemegang kunci tersebut.
Pembebasan Baitul Maqdis (Yerusalem ) itu ibarat fajar yang pasti terbit. Tak ada kekuatan di bumi yang bisa menghalangi matahari untuk naik. Namun, hanya mereka yang terjaga di waktu malam dan melakukan persiapanlah yang bisa menikmati indahnya cahaya pertama. Jika kita masih "terlelap" dalam maksiat dan perpecahan, fajar tetap akan datang, tapi kita akan kehilangan kemuliaan untuk menyambutnya.
Ada orang yang berdoa khusyuk sekali, "Ya Allah, bebaskanlah Al-Aqsa!" tapi besoknya dia masih hobi membuang sampah sembarangan dan berantem sama tetangga perkara jemuran. Temannya nyeletuk, "Gimana mau membebaskan Baitul Maqdis ( Yerusalem ) yang jauh, kalau membebaskan diri dari penyakit hati dan ego sendiri saja masih gagal total?" Ingat, kemenangan besar dimulai dari kemenangan-kemenangan kecil melawan diri sendiri!
4. Kesimpulan dan Penutup
Janji Allah tidak akan pernah diingkari. Baitul Maqdis (Yerusalem) akan kembali. Mari kita persiapkan diri agar layak menjadi bagian dari sejarah besar itu. Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan dari posisi kita masing-masing: perbaiki shalat, eratkan silaturahmi, dan dukung agama ini dengan prestasi. Semoga Allah memantaskan kita menjadi barisan pembebas Baitul Maqdis.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie